Silsilah Keturunannya
Dia
adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin
Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fahr Al Kannani Al‘Adnani.
Beliau
biasa dipanggil dengan nama Abu Bakar. Sedangkan bapaknya biasa dipanggil
dengan nama Abu Quhafah dan ibunya biasa dipanggil dengan nama Salma binti
Shakhr bin Amir. Beliau digelari dengan “Ash shiddiq dan “Al ‘Atiiq.” Gelar “Al’Atiiq”
ini dilekatkan kepadanya karena ketampanan wajahnya dan tidak akan tersentuh
api neraka. Sedangkan gelar “Ash-Shiddiq” disandangnya dikarenakan banyak
melakukan kebenaran dan merupakan orang yang pertama kali yang meyakini
kebenaran Rasulullah dan ajaran Allah yang dibawa oleh beliau.
Pada
masa jahiliyah beliau membenci minuman khomr, beliau tergolong orang kaya yang
dengan kekayaannya banyak membantu orang – orang miskin, dekat dengan kaum
quraisy dicintai dikalangan mereka.
Perjalanan Hidupnya
sejarah
perjalanan hidup yang dialami oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ini
cukup panjang dan beragam, kami hanya akan mengungkapkan sebagian kecil dari
sejarah perjalanan hidupnya:
1.
Mengislamkan
seluruh anggota keluarganya, dimana tidak ada seorang sahabatpun dari
sahabat-sahabat Rasulullah yang mampu melakukannya. Abu Bakar radhiyallahu
‘anhu masuk Islam terlebih dahulu, lalu mengislamkan bapaknya dan ibunya, lalu
mengislamkan semua anak-anak lakinya, yaitu, Abdullah, Abdurrahman, Muhammad
dan anak-anak perempuannya, yaitu, Asma’dzatu An-Nithaqaini (pemilik dua kepang),
Aisyah Ummul mukminin dan Ummi Habibah, lalu beliau mengislamkan seluruh
isteri-isterinya, yaitu: Ummi Ruman ibu kandungnya Abdurrahman dan Aisyah, Asma’
binti Umais ibu kandung Muhammad, dan Habibah binti Khadijah ibu kandungnya Ummi
Kultsum. Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada mereka.
2.
Al
Bukhari telah meriwayatkan bahwa Nabi telah bersabda, “Sesungguhnya orang yang
paling aku percayai dalam segi kesahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, dan
seandainya aku diperintahkan untuk mengambil kekasih selain Tuhanku niscaya aku
akan memilih Abu Bakar, bahkan persaudaraan dan kasih sayangnya dalam Islam,
sehingga tidak ada pintu kasih sayang yang tersisa dalam masjid selain pintu
Abu Bakar .”
3.
Abu
Bakar turut serta dalam seluruh peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah,
sehingga tidak ada satu peperangan pun yang dilakukan oleh Rasulullah yang
tidak diikutinya. Beliau turut serta dalam perang Badar, Uhud, Khandak,
Khaibar, Futhu Makkah (pembebasan kota Makkah Hunain, Tabuk dan peperangan
lainnya baik yang besar maupun yang kecil, dimana tidak ada seorang sahabat pun
yang mengikuti seluruh peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah selengkap yang
diikuti oleh Abu Bakar. Dalam peristiwa perang Uhud beliau tetap bertahan
bersama Rasulullah di medan perang, dan pada waktu perang Tabuk Rasulullah
menyerahkan bendera yang besar. Selain itu beliau menemani Rasulullah dalam
melakukan hijrah dan memasuki gua Tsur. Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh
Allah dalam firman-Nya,.” Qs. At-Taubah:
40)
Keutamaannya
Adapun
keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu itu antara lain adalah:
1. Beliau belum pernah minum-minuman yang memabukkan baik pada masa
Jahiliyah maupun pada masa Islam.
2. Beliau khalifah yang pertama kali mengumpulkan tulisan Al Qur’an.
3. Beliau termasuk sahabat Rasulullah yang pertama beriman, mengerjakan
shalat dan menjadi khalifah.
4. Beliau termasuk orang yang paling utama dari kalangan umat ini
setelah Nabi Muhammad.
5. Beliau telah mengislamkan sebanyak 15 (lima belas) orang sahabat
yang dijanjikan masuk surga, yaitu: Utsman bin Afan, Thalhah bin Ubaidillah,
Zubair bin Awam, Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf.
Kesempurnaan jiwa dan akhlaknya
Di
bawah ini akan kami kemukakan sebagian kesempurnaan yang dimiliki oleh Abu Bakar
yang berkaitan dengan jiwa maupun perilakunya.
Tawadhu’ (Rendah
hati)
Dalam
mengungkap sifat tawadhu’ Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu cukup kiranya kami mengemukakan keterangan
berikut yang kami anggap dapat mewakili dalam
menjelaskan ketawadhuan beliau. Para ulama telah menceritakan bahwa Abu
Bakar radhiyallahu ‘anhu selalu memerah
susu kambing penduduk desanya, sehingga ketika beliau dibaiat menjadi khalifah,
maka salah seorang hamba sahaya berkata, “Sekarang, tidak akan ada lagi orang
yang memerahkan kita susu kambing di daerah ini,” yang dimaksud adalah Abu
Bakar. Beliau mendengar perkataan yang diucapkan oleh hamba sahaya itu,
kemudian berkata kepadanya, “Tentu, aku akan tetap memerah susu kambing untuk
kalian, dan aku berharap perilaku yang biasa aku lakukan sebelumnya tidak
berubah karena menjadi khalifah.” Sehingga ketika beliau sudah menjadi khalifah
beliau tetap memperhatikan dan menolong mereka seperti yang beliau lakukan
sebelumnya.
Ketakwaannya
Tidak
perlu diragukan lagi bahwa Abu Bakar ini merupakan salah seorang dari kalangan
umat ini yang paling bertakwa, paling baik dan paling shaleh setelah Nabi
Muhammad Sebagaimana firman Allah, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertakwa dari neraka itu, yang menafkahkan
hartanya (dijalan Allah) untuk membersihkannya.” (Qs. Al-Lail: 17-18).
Mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan
Abu Bakar Ash-Shiddiq beliaulah yang dimaksud dengan pengertian ayat tersebut.
Namun demikian lafazhnya dapat diberlakukan kepada orang yang memiliki sifat
sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut.
Selain
itu bukti terbesar yang menunjukkan ketakwaan Abu Bakar sebagaimana yang
terungkap dalam kitab “Shahihaini” bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki seorang
budak, dimana pada suatu hari budaknya itu datang kepada beliau sambil membawa
makanan. Karena beliau merasa lapar, maka beliau memakannya sebelum menanyakan
dari mana makanan itu. Setelah selesai, maka beliau bertanya kepada budaknya,
seraya berkata, “Dari mana kamu mendapatkan makanan ini?” lalu dia menjawab, “Pada
masa jahiliyah aku bertemu dengan suatu kaum, lalu aku memakaikan azimat
(mantera) kepada mereka, dan mereka menjanjikan sesuatu kepadaku. Ketika aku
bertemu dengan mereka, maka aku menagihnya dan mereka memberiku sesuatu.” Kemudian
Abu Bakar berkata, “Ach, hampir saja dirimu mencelakakanku.” Selanjutnya beliau
memasukkan tangannya ke dalam mulutnya supaya beliau dapat memuntahkannya,
tetapi karena makanan itu tidak keluar semuanya, maka beliau minum air dan
memuntahkannya sehingga semua makanan dapat dikeluarkan semuanya. Demikianlah
ketakwaan yang ditunjukkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Pembahasan
seputar ketakwaan Abu Bakar ini akan kami tutup dengan kesaksian Ali bin Abu
Thalib dimana Abu Sarihah yakni Hudzaifah bin Usaid berkata, “Aku mendengar Ali
berkata, “Ingatlah, sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang bersih hatinya.”
Kredibilitas Keilmuannya
Tidak
ada seorang ulama pun yang meragukan kredibilitas keilmuan Abu Bakar
Ash-Shiddiq, sehingga dia digolongkan sebagai sahabat Rasulullah yang paling
alim. Bagaimana tidak, sementara dia tidak pernah berpisah dari Rasulullah
semenjak beliau diangkat oleh Allah sebagai rasul sampai Allah memanggil beliau
ke haribaan-Nya (wafat). Di bawah ini akan kami kemukakan beberapa contoh yang
menggambarkan sisi keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
1. Para perawi telah meriwayatkan bahwa Abu Bakar-Ash-Shiddiq adalah orang
yang pertama hafal Al Qur’an. Sebagai buktinya bahwa Rasulullah telah menunjuknya
sebagai pengganti beliau dalam mengimami shalat, dan hal itu terjadi bukan
hanya sekali. Dimana Rasulullah bersabda, “Orang yang harus mengimami (shalat)
suatu kaum hendaknya orang yang paling fasih dalam membaca kitab Allah (Al Qur’an).”
2. Menjelang akhir hayatnya Rasulullah berpidato, seraya bersabda, “Sesungguhnya
Allah telah memberikan pilihan kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang
ada di sisi-Nya, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi-Nya.”
Mendengar hal itu Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis, sehingga kami merasa heran.
Ketika ditanya, maka dia menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah telah mengabarkan
tentang seorang hamba yang disuruh memilih, dimana hamba yang disuruh memilih
itu tiada lain adalah Rasulullah. Bertitik tolak dari keterangan tersebut, maka
jelaslah bahwa Abu Bakar merupakan orang yang paling pintar di antara kita.
3. Seseorang yang diminta fatwanya di hadapan Rasulullah menunjukkan
bahwa orang tersebut dikatagorikan sebagai orang yang paling pintar dari
kalangan umat ini setelah Rasulullah, dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu termasuk orang tersebut. Ibnu Umar ditanya
tentang siapa saja orang yang diminta fatwanya di hadapan Rasulullah, maka dia
menjawab, "Abu Bakar dan Umar, karena tidak ada orang yang lebih pintar
selain keduanya.” Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kita yang di
dalamnya menjelaskan fatwa Abu Bakar yang disampaikan di hadapan Rasulullah,
dan beliau menetapkan dan membenarkannya. Bukhari berkata, “Telah diriwayatkan
dari Abu Qatadah, dia berkata, “Pada waktu perang Hunain kami pergi bersama
Rasulullah dan ketika kami sampai maka kami menyaksikan pasukan besar kaum
muslimin, lalu aku melihat seseorang dari kalangan musyrikin yang mengalahkan
seseorang dari kalangan kaum muslimin. Kemudian aku menghampirinya seraya aku
berjalan berputar mengelilinginya sehingga aku berada tepat di belakangnya,
lalu aku mengayunkan pedang ke arah urat lehernya. Kemudian dia merubah
posisinya sehingga menghadap ke arahku, lalu dia menyerangku, tetapi aku
mencium bau kematian dan akhirnya diapun mati tersungkur. Setelah itu aku pergi
dan bertemu dengan Umar bin Khatab, seraya berkata, “Bagaimana keadaan
orang-orang?” lalu dia menjawab, “Urusan Allah.” Kemudian orang-orang kembali
berkumpul, sementara Nabi duduk, seraya bersabda, “Barang siapa yang berhasil
membunuh dan dapat membuktikannya, maka baginya berhak mendapatkan harta
rampasan.” Kemudian aku berdiri, seraya berkata, “Siapa yang akan bersaksi
untukku?” lalu aku duduk kembali. Kemudian Nabi mengulangi sabdanya, “Barang
siapa yang berhasil membunuh dan dapat membuktikannya, maka baginya berhak
mendapatkan harta rampasan.” Kemudian aku berdiri, seraya berkata, “Siapa yang
akan bersaksi untukku?” lalu aku duduk kembali. Kemudian Nabi mengulangi
sabdanya yang sama untuk yang ketiga kalinya. Kemudian seseorang berkata, “Benar,
Ya Rasulullah, dan harta rampasannya ada padaku.” Setelah itu dia menyerahkan
harta rampasan itu kepadaku. Maka Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Demi Allah,
tidak bisa begitu, karena tidak bisa seorang singa Allah mengukuhkan pengakuan
seorang singa Allah lainnya, tetapi siapa saja yang berperang karena Allah dan
Rasul-Nya, maka engkau berhak memberinya harta rampasan. Kemudian Rasulullah
bersabda, “Kamu benar” Setelah itu beliau memberikan harta rampasan itu kepada
Abu Qatadah.
Abu Qatadah berkata, “Kemudian
Rasulullah menyerahkan sebuah perisai yang kemudian aku jual dan hasil
penjualannya aku belikan sebuah kebun kurma yang terletak di perkampungan Bani
Salmah sebagai harta yang pertama kali aku peroleh dari hasil peperangan dalam
Islam.
4. Bukhari telah meriwayatkan dari Muhammad bin jabir bin Muth’im dari
bapaknya, dia berkata, “Seorang wanita telah datang kepada Rasulullah, lalu
beliau menyuruhnya untuk datang lagi kepada beliau pada kesempatan yang lain.
Maka dia berkata, “Bagaimana menurut pendapatmu seandainya aku datang, dan aku
tidak menemukanmu?” Ayah Jabir berkata, “Seakan-akan wanita itu akan mati.” Kemudian
Rasulullah berkata, “Jika kamu tidak menemukan aku, maka datanglah kamu kepada
Abu Bakar.” Hadits ini kalaupun menunjukkan sisi kekhilafahan, kemuliaan dan
kejujuran Abu Bakar, tetapi tidak dipungkiri bahwa hadist tersebut juga menunjukkan
sisi Keilmuan Abu Bakar. Rasulullah telah menyerahkan urusan yang berhubungan
dengan dirinya kepada Abu Bakar dan menjadikannya sebagai wakil beliau dalam
menjawab segala pertanyaan yang akan diajukan oleh wanita tadi, karena dia
dianggap sangat dekat dari segi keilmuannya dengan beliau.
Pembahasan seputar keilmuan
Abu Bakar Ash-Shiddiq ini akan kami tutup dengan kesaksian yang diberikan oleh
Umar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam pembahasan kisah kekhilafahan Abu
Bakar. Pada waktu itu aku (Umar) mengetahui sebagian tanda kemarahan yang
ditunjukkan olehnya (Abu bakar), tetapi beliau lebih sabar dariku dalam
menyikapinya.
Kemudian Abu Bakar berkata,
“Bersabarlah, dan jangan tergesa-gesa, karena aku merasa benci untuk
memarahinya.” Demi Allah, beliau tidak pernah meninggalkan ucapan yang mengagumkanku
dalam meluruskanku kecuali beliau mengatakannya secara spontanitas dan panjang
lebar sehingga aku terdiam. Kemudian beliau berkata, “jika kamu diingatkan
suatu kebaikan, maka kamulah pemiliknya (harus menerimanya).”
Pada waktu itu tidak pada
seorang Arab pun yang mengetahui urusan ini kecuali kalangan Quraisy yang
menjadi kelas menengah masyarakat Arab dari segi keturunannya, dan aku
menyetujui bagi kalian salah satu di antara dua orang ini yang mana saja kamu
inginkan.” Yakni Umar dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Kesabarannya
Sabar
termasuk perilaku dan akhlak yang sangat dicintai oleh Allah, dan sabar
merupakan salah satu sifat yang menunjukkan kesempurnaan seseorang. Allah telah
menyifati dan menyanjung Nabi-Nya Ibrahim karena kesabarannya. Sebagaimana hal
ini terungkap dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang
sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (Qs. At-Taubah: 114) Demikian juga Allah
telah menyifati Ismail dengan sifat tersebut, sebagaimana tertera dalam
firman-Nya, “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat
sabar.” (Qs. Ash-Shaffaat: 101). Abu Bakar termasuk orang yang memiliki watak
penyabar, disamping dia juga sebagai orang yang kaya dengan ilmu pengetahuan.
Kesabaran Abu Bakar nampak sekali pada hadits berikut: Bukari telah
meriwayatkan hadits ini dalam bab “Beberapa keutamaan Abu Bakar dari Abu Darda,
dia berkata, “Pada suatu hari aku duduk bersama Rasulullah, lalu Abu Bakar datang
sambil mengangkat ujung baju (gamis)-nya sehingga terlihat kedua lututnya.
Kemudian Rasulullah bersabda, “Temanmu itu sungguh sangat mulia (dermawan).”
Setibanya di hadapan Rasulullah, seraya dia mengucapkan salam, lalu berkata, “Sesungguhnya
antara aku dan Ibnu Khathab (Umar) telah terjadi sesuatu, dan aku cepat-cepat
meminta maaf kepadanya dan menyesalinya, tetapi dia menolaknya dan tidak mau
memaafkanku. Karena itulah maka aku datang menghadapmu, lalu Rasulullah
bersabda, “Wahai Abu Bakar, sungguh Allah telah memaafkanmu” dan beliau
mengucapkan sebanyak tiga kali. Setelah itu Umar merasa menyesal, kemudian dia datang
ke rumah Abu Bakar, seraya berkata, “Apakah ada Abu Bakar?” mereka (keluarga
Abu Bakar) menjawab, “Tidak ada.” Kemudian dia datang ke rumah Rasulullah, dan
ketika itu muka beliau berubah karena marah sehingga Abu Bakar tertunduk,
seraya keduanya menatap kedua lutut Umar. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai
Rasulullah, Demi Allah aku telah berbuat zhalim (aniaya)” lalu Rasulullah
bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepadamu, tetapi kalian
mengatakan bahwa aku telah berdusta.” Selanjutnya beliau bersabda, “Abu
Bakarlah yang waktu itu membenarkanku dan menolongku dengah jiwa dan hartanya,
maka apakah kalian akan meninggalkan seorang yang telah menemaniku ?” Beliau
mengucapkannya sebanyak dua kali.
Dari
hadits tersebut di atas nampak sekali kesabaran Abu Bakar, dimana ada tiga
point yang perlu digaris bawahi, yaitu:
1. Penyesalannya atas perbuatan yang dilakukannya.
2. Permintaan maafnya kepada Umar atas perbuatan yang telah dilakukannya.
3. Sumpahnya yang mengakui kezhaliman yang telah diperbuatnya.
Penyesalan
adalah pengakuan atas kezhaliman (kesalahan) dengan cara meredam kemarahan dan
meminta maaf dari orang yang dizhaliminya. Inilah sikap sabar yang diperlihatkan
oleh Abu Bakar.
Keberaniannya
Keberanian
ada dua, yaitu keberanian (keteguhan) hati dan akal pikiran. Yang dimaksud
dengan keberanian akal pikiran adalah keberanian untuk menyatakan dan
menjelaskan kebenaran dan menghadapi para penentangnya dengan menjelaskan
kekeliruan dan kesalahan pendapat dan pikiran yang dikemukakan oleh mereka
serta menyadarkan kembali akal pikiran mereka. Di bawah ini akan kami kemukakan
dua hadits yang menjelaskan puncak keberanian akal pikiran yang diperlihatkan
oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Adapun kedua hadits tersebut adalah sebagai
berikut.
Ibnu
‘Asakir telah meriwayatkan dari Ali bahwa ketika Abu Bakar masuk Islam, maka
beliau menyatakan keislamannya dan berdoa kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian
juga telah diriwayatkan dari Aisyah, seraya dia berkata,” Ketika para sahabat Nabi
dikumpulkan, dimana jumlah mereka mencapai 88 (delapan puluh delapan) orang, maka
Abu Bakar mendesak Rasulullah untuk menampakkan dakwahnya secara
terang-terangan. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, kelompok kita
ini masih kecil.” Akan tetapi Abu Bakar terus-menerus mendesaknya sehingga
akhirnya Rasulullah menampakkan dakwahnya secara terang-terangan dan
menyebarkan kaum muslimin untuk membangun masjid dimana setiap sepuluh orang
dipimpin oleh satu orang. kemudian Abu Bakar berdiri dihadapan orang – orang
seraya menyampaikan pidatonya, sehingga dialah orang yang pertama berpidato
yang menyeru manusia kepada jalan Alloh dan
Rosulnya.
Wafatnya
Abu
Bakar wafat sekitar waktu magrib dan Isya, dan istri beliu yang bernama Asma
binti Umais memandikannya.kemudian Umar mensholatinya dimana jenazah beliau
diletakan antara kuburan dan mimbar Rosululloh.kemudian kedalam kuburannya turun
putra beliau abdurrohman, Utsman dan Tholhah bin Ubaidilah.Beliau dimakamkan
disamping makam Rosululloh, sesuai wasiatnya.Abu bakar wafat pada malam selasa
bulan jumadil akhir th 13 H. pada usia 63 tahun. Semoga Alloh meridoinya dan
beliupun ridho kepadaNya.
Referensi::

.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar