KATA PENGANTAR
"Artinya : Dari Abu Said Al-Khudri ia
berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Jangan kalian mencaci maki/menghina para shahabatku, karena seandainya
salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebanyak gunung Uhud tak akan dapat
menyamai derajat salah seorang diantara mereka, bahkan separuhnyapun
tidak". (Hadits Shahih Riwayat : Bukhari 4:195, Muslim 7:188, Ahmad 3:11,
Abu Dawud 4658 dan Tirmidzi 3952).
A.
TAQDIM
Perjuangan mereka dalam li'ila-i kalimatillah telah banyak menelan harta dan jiwa. Mereka adalah manusia yang sepenuhnya tunduk kepada Islam, benar-benar membela kepentingan umat Islam, setia kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa kompromi, mereka tunduk kepada hukum-hukum agama Allah, tujuan mereka adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah dan Sorga-Nya.
Model dan corak kehidupan masyarakat Islam terwujud dalam kehidupan mereka sehari-hari, model masyarakat Islam seperti yang tercermin dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah benar-benar dipraktekkan oleh mereka dan hal yang seperti ini belum pernah kita jumpai dalam sejarah umat sejak dulu sampai hari ini. Hidup mereka dilandasi Iman, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka selalu berjalan dalam prinsip-prinsip yang telah digariskan Allah.
Persoalan 'Adalatus Shahabah (Keadilan Shahabat) sudah diyakini oleh umat Islam dari masa Shahabat sampai hari ini, bahwa merekalah orang-orang yang adil dan benar. Tetapi dalam rangkaian sejarah yang panjang ada saja kelompok yang selalu merongrong eksitensi perjuangan mereka bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kelompok/golongan ini mengaku diri mereka "Islam" ? Mereka lebih terkenal dengan nama "kelompok Syi'ah atau agama Syi'ah" karena aqidah mereka berbeda dengan aqidah kaum muslimin. Agama Syi'ah yang dianut sekarang ini adalah Agama Syi'ah Immamiyah Itsna 'Asy'ariyah. Syi'ah Imamiyah Itsna 'Asy'ariyah sejak dulu sampai hari ini telah sepakat mengkafirkan ketiga Khulafa'ur Rasyidin (mengecualikan Ali bin Abi Thalib) dan semua shahabat sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kecuali 3 atau 4 shahabat.
Semua buku-buku mereka dipenuhi dengan caci makian, penghinaan, dan laknat kepada Khulafa'ur Rasyidin dan shahabat-shahabat yang lainnya. Di dalam kitab Al-Furu'ul Kaafi jilid 3 fatsal Kitabur Raudhah hal.115 karangan Al-Kulaini disebutkan : Bahwa ada seorang murid Muhammad Al-Baqir bertanya tentang Abu Bakar dan Umar. Lalu ia jawab : "Tidak ada seorangpun yang mati dari kalangan kami (Syi'ah) melainkan benci dan murka kepada Abu Bakar dan Umar". Bahkan Khumaini dalam kitabnya Kasyful Asrar hal. 113-114 (cet. Persia) menuduh para shahabat kafir. Wal-'Iyaadzu billah. 1)
Pengikut agama Syi'ah di Indonesia yang terdiri dari cendikiawan, mahasiswa dan orang-orang awam berusaha mencari-cari kesalahan individu dan meragukan 'adalah (keadilan) mereka para shahabat, untuk menguatkan aqidah mereka yang rusak tentang shahabat dan tujuannya untuk merusak Agama Islam, karena bila shahabat sudah dicela maka otomatis Al-Qur'an dan Sunnah dicela, karena merekalah (shahabat) yang pertama kali menerima risalah Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Pengikut agama Syi'ah berusaha agar Islam ini hancur.
Membicarakan sikap dan kedudukan shahabat dan mengkritiknya berarti mengkritik Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Meragukan keadilan mereka berarti meragukan kesaksian Allah dan pujian Allah serta pujian Rasul-Nya terhadap mereka.
Orang-orang Syi'ah mengkritik para shahabat dengan menggunakan potongan-potongan ayat Qur'an dan hadits Nabi untuk kepentingan hawa nafsu mereka, dan meninggalkan puluhan ayat dan ratusan hadits Nabi yang shahih yang memuji keadilan shahabat.
Standar nilai dan tolok ukur perilaku mereka yang tepat adalah Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan sebagai penguat adalah pendapat Jumhur Ulama kaum Muslimin.
Oleh karena itu penulis akan paparkan nash-nash tentang 'adalah shahabat.
B. DEFINISI SHAHABAT
1. Menurut Lughah (Bahasa).
Shahabi diambil dari kata-kata Shahabat = Persahabatan, dan bukan diambil dari ukuran tertentu yakni harus lama bersahabat, hal ini tidak demikian, bahkan persahabatan ini berlaku untuk setiap orang yang menemani orang lain sebentar atau lama. Maka dapat dikatakan seseorang menemani si fulan dalam satu masa, setahun, sebulan, sehari atau sejam. Jadi persahabatan bisa saja sebentar atau lama. Abu Bakar Al-Baqilani (338-403H) berkata : "Berdasarkan definisi bahasa ini, maka wajib berlaku definisi ini terhadap orang yang bersahabat dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kendatipun hanya sejam di siang hari. Inilah asal kata dari kalimat Shahabat ini". 2)
2. Menurut Istilah Ulama Ahli Hadits.
Kata Ibnu Katsir : "Shahabat adalah orang Islam yang bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun waktu bertemu dengan beliau tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadits pun dari beliau".
Kata Ibnu Katsir : "Ini pendapat Jumhur Ulama Salaf dan Khalaf (=Ulama terdahulu dan belakangan)". 3)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani melengkapi definisi Ibnu Katsir, ia berkata : "Definisi yang paling shahih tentang Shahabat yang telah aku teliti ialah : "Orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam". Masuk dalam definisi ini ialah orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam baik lama atau sebentar, baik meriwayatkan hadits dari beliau atau tidak, baik ikut berperang bersama beliau atau tidak. Demikian juga orang yang pernah melihat beliau sekalipun tidak duduk dalam majelis beliau, atau orang yang tidak pernah melihat beliau karena buta. Masuk dalam definisi ini orang yang beriman lalu murtad kemudian kembali lagi ke dalam Islam dan wafat dalam keadaan Islam seperti Asy'ats bin Qais.
Kemudian yang tidak termasuk dari definisi shahabat ialah :
1. Orang
yang bertemu beliau dalam keadaan kafir meskipun dia masuk Islam sesudah itu
(yakni sesudah wafat beliau).
2. Orang
yang beriman kepada Nabi Isa dari ahli kitab sebelum diutus Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam dan setelah diutusnya Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam dia tidak beriman kepada beliau.
3. Orang
yang beriman kepada beliau kemudian murtad dan wafat dalam keadaan murtad.
Wal'iyaadzu billah. 4)
Keluar
pula dari definisi shahabat ialah orang-orang munafik meskipun mereka bergaul
dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah dan Rasul-Nya
mencela orang-orang munafik, dan nifaq lawan dari iman, dan Allah memasukkan
orang munafik tergolong orang-orang yang sesat kafir dan ahli neraka (Lihat :
Al-Qur'an surat An-Nisaa : 137,138,141,142,143,145. Juga surat Ali Imran : 8 -
20).
Sistim
mu'amalah yang diterapkan oleh Rasulullah dan para shahabat dalam bergaul
dengan orang-orang munafiqin jelas menunjukkan bahwa shahabat bukanlah
munafiqin dan munafiqin bukanlah shahabat. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa
diantara shahabat ada yang munafik !!! Ayat-ayat Al-Qur'an dengan jelas
membedakan mereka : - Allah menyuruh Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam memerangi orang-orang kafir dan munafiq
(At-Taubah:73, At-Tahriim:9), sedangkan kepada orang-orang yang beriman ,
Allah menyuruh beliau menyayangi mereka (Asy-Syu'araa' :215, Al-Fath:29).
- Orang-orang munafiq tidak mendapat
ampunan dari Allah (At-Taubah:80, Al-Munafiquun:6), sedangkan orang-orang
beriman mendapatkan ampunan dari Allah (Muhammad:19).
- Nabi, para shahabat dan orang-orang
yang beriman dilarang menyalatkan mayat munafiqin (At-Taubah:84) sedangkan
mayat orang yang beriman wajib di shalatkan sebagaimana disebutkan dalam
hadits-hadits shahih. Dan ayat-ayat lain serta hadits yang membedakan
mereka.
3.
Pendapat Ulama Tentang Definisi Shahabat.
C. BAGAIMANA BISA DIKETAHUI SESEORANG ITU DIKATAKAN SHAHABAT ?
Kita dapat mengetahui seseorang itu dikatakan shahabat dengan :
- Kabar Mutawatir seperti Khulafaur
Rasyidin dan 10 orang ahli surga.
- Kabar yang masyhur yang hampir
mencapai derajat mutawatir seperti Dhamam bin Tsa'labah dan 'Ukkaasyah bin
Mihsan.
- Dikabarkan oleh seorang shahabat lain
atau oleh Tabi'i Tsiqat (terpercaya) bahwa si fulan itu seorang shahabat,
seperti Hamamah bin Abi Hamamah Ad-Dausiy wafat di Ashfahan. Abu Musa
Al-Asy'ari menyaksikan bahwa ia (Hamamah) mendengar hadits dari Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam.
- Seseorang memberitakan tentang dirinya
bahwa ia adalah seorang shahabat Rasulullah dan dimungkinkan bertemu
dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menurut
pemeriksaan ahli hadits bahwa ia memang seorang yang adil dan wafatnya
tidak melebihi tahun 110H. 6)
Footnote
:
1. Lihat Shurtani Mutadhodataani oleh Abul Hasan All Al-Hasani An-Nadwi : Aqaidus Syi'ah fii Miizan hal. 85-87 oleh DR Muhammad Kamil Al-Hasyim cet. I th, 1409H/1988M
2. Lihat Lisanul "Arab II:7; Al-Kilayat fi 'Ilmir Riwayah hal.51 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi ; As-Sunnah Qablat-Tadwin hal. 387.
3. Al-Baa'itsul Hatsits Syarah Ikhtisar 'Uluumil-Hadits Lil-Hafizh Ibnu Katsir oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir hal. 151 cet. Darut turats Th. 1399H/1979M.
4. Al-Ishabah fil Tanyizis-Shahabah I hal. 7-8 cet. Daarul-fikr 1398H.
5. Lihat Fathul Mughits 3/93-95, 'Ulumul-Hadits oleh Ibnu Shaleh hal. 146 ; At-Taqyid wal-idah Al-'Iraqi hal. 292 Alfiyah Suyuti hal. 57; Fathul Bari 7/3;Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam Lil-Amidi:83; Tanbih Dzawi Najabah ila 'Adalatis Shahabah hal. 11.
6. Lihat Tadribur-Rawi 2:213 oleh Imam Suyuthi cet. Daarul Maktabah ilmiyah 1399H/1979M ; Fathul-Mughits 3:140 Ushulul-Hadits 405-406.
1. Lihat Shurtani Mutadhodataani oleh Abul Hasan All Al-Hasani An-Nadwi : Aqaidus Syi'ah fii Miizan hal. 85-87 oleh DR Muhammad Kamil Al-Hasyim cet. I th, 1409H/1988M
2. Lihat Lisanul "Arab II:7; Al-Kilayat fi 'Ilmir Riwayah hal.51 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi ; As-Sunnah Qablat-Tadwin hal. 387.
3. Al-Baa'itsul Hatsits Syarah Ikhtisar 'Uluumil-Hadits Lil-Hafizh Ibnu Katsir oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir hal. 151 cet. Darut turats Th. 1399H/1979M.
4. Al-Ishabah fil Tanyizis-Shahabah I hal. 7-8 cet. Daarul-fikr 1398H.
5. Lihat Fathul Mughits 3/93-95, 'Ulumul-Hadits oleh Ibnu Shaleh hal. 146 ; At-Taqyid wal-idah Al-'Iraqi hal. 292 Alfiyah Suyuti hal. 57; Fathul Bari 7/3;Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam Lil-Amidi:83; Tanbih Dzawi Najabah ila 'Adalatis Shahabah hal. 11.
6. Lihat Tadribur-Rawi 2:213 oleh Imam Suyuthi cet. Daarul Maktabah ilmiyah 1399H/1979M ; Fathul-Mughits 3:140 Ushulul-Hadits 405-406.
1. Menurut Bahasa
'Adalah atau 'Adl lawan dari Jaur artinya kejahatan. Rojulun 'Adl maksudnya : seseorang dikatakan adil yakni seseorang itu diridhai dan diberi kesaksiannya. (Lihat Kamus Muktarus-Shihah hal. 417 cet. Darul Fikr).
2. Menurut Istilah Ahli Hadits
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Yang dimaksud dengan adil ialah orang yang mempunyai sifat ketaqwaan dan muru'ah". (Nuzhatun Nazhar Syarah Nukhbatul-Fikar hal. 29 cet. Maktabat Thayibah tahun 1404H).
3. Penjelasan Istilah Ahli Hadits
Maksud 'Adalatus Shahabah ialah : "Bahwa semua shahabat ialah orang-orang yang taqwa dan wara, yakni mereka adalah orang-orang yang selalu menjauhkan maksiat dan perkara-perkara yang syubhat. Para shahabat tidak mungkin berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam atau menyandarkan sesuatu yang tidak sah dari beliau. Syaikh Waliyullah Ad-Dahlawi berkata : "Dengan menyelidiki (semua keterangan) maka dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa semua shahabat berkeyakinan bahwasanya berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebesar-besar dosa, maka mereka menjaga sungguh-sungguh agar tidak terjatuh dalam berdusta atas nama beliau". 7)
Al-Khatib Al-Baghdadi berkata : "Semua hadits yang bersambung sanadnya dari orang-orang yang meriwayatkan sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak boleh diamalkan kecuali kalau sudah diperiksa keadilan rawi-rawinya serta wajib memeriksa biografi mereka dan dikecualikan dari mereka adalah shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena 'Adalah (keadilan) mereka sudah pasti dan sudah diketahui dengan pujian Allah atas mereka. Allah memberitakan tentang bersihnya mereka dan Allah memilih mereka (sebagai penolong Rasul-Nya) berdasarkan nash Al-Qur'an". 8)
Imam Syairaji berkata dalam Tabshirah fi Ushulil-Fiqh hal. 329 : "Semua shahabat sudah tetap keadilannya, maka tidak perlu lagi diperiksa tentang keadaan mereka". 9)
E. DALIL-DALIL TENTANG KEADILAN SHAHABAT DARI AL-QUR'AN DAN SUNNAH
1. Allah berfirman :
"Artinya : Kalian adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh yang ma'ruf dan mencegah
yang munkar dan kalian beriman kepada Allah". (Ali-Imran : 110)
"Artinya
: Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan
pilihan". (Al-Baqarah : 143)
2.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa para shahabat dan
umat Islam yang mengikuti jejak mereka adalah orang-orang yang adil.
Sebagaimana sabda beliau :
"Artinya : Dari Abu Sa'id Al-Khudri
adalah ia berkata : "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, Nuh akan dipanggil pada hari kiamat. Lalu ia jawab : "Aku
penuhi panggilan-Mu dan Maha Bahagia nama-Mu wahai Rabb-ku". Allah
bertanya : "Apakah sudah engkau sampaikan (dakwah/risalah) ?". Ia
berkata : "Ya sudah". Lalu umatnya di tanya; "Apakah ia sudah
menyampaikan (risalah) kepada kalian ?." Mereka berkata : "Tidak
pernah ada pengancam (Da'i) yang datang kepada kami ?! Allah bertanya lagi pada
Nuh 'Alaihi sallam : "Siapakah yang akan menjadi saksi bagimu (bahwa kamu
sudah menyampaikan risalah)?" Ia (Nuh) jawab : "Muhammad dan
umatnya". Kemudian ia menjadi saksi bahwa ia telah menyampaikan risalah,
dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi saksi atas kalian.
Demikianlah Allah berfirman : "Dan demikian (pula) kami telah menjadikan
kalian umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan)
manusia dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi saksi atas
(perbuatan) kalian". Wasath dalam ayat ini bermakna adil. (Hadits
Shahih Riwayat Bukhari/Fathul Bari 8 : 171-172 No. 4487).
4.
Allah meridhai mereka (para Shahabat dari Muhajirin dan Anshar) dan orang-orang
yang mengikuti jejak mereka dengan baik.
"Artinya : Orang-orang yang terdahulu
lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari orang-orang Muhajirin dan Anshar dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan
merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalirkan sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang besar". (At-Taubah : 100)
"Artinya
: Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka
berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon". (Al-Fath : 18)
"Artinya
: Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang bersama beliau adalah keras terhadap
orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka ; kalian lihat
mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya ...".
(Al-Fath : 29)
5.
Sifat-sifat para Shahabat yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah :
- Mereka adalah orang-orang yang
benar-benar beriman. (Al-Anfaal : 74).
- Mereka adalah orang-orang yang
mengikuti jalan yang lurus. (Al-Hujuraat : 7)
- Mereka adalah orang-orang yang
mendapat kemenangan. (At-Taubah : 20)
- Mereka adalah orang-orang yang benar.
(At-Taubah : 119)
- Mereka adalah orang-orang yang
bertaqwa. (Al-Fath : 26)
- Mereka adalah orang-orang yang
menjengkelkan orang-orang kafir dan mereka benci kepada kekafiran.
(Al-Fath : 29)
- Dan sifat-sifat lainnya yang termasuk
dalam Al-Qur'an.
6.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Sebaik-baik manusia adalah
zamanku ini, kemudian yang sesudah itu, kemudian yang sesudah itu, kemudian
nanti akan ada satu kaum dimana persaksian seorang dari mereka mendahului
sumpahnya, dan sumpahnya itu mendahului persaksiannya". (Hadits Shahih
Riwayat Bukhari 4:189, Muslim 7:184-185, Ahmad 1:378,417,434,442 dan
lain-lain).
7.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Hendaklah orang yang hadir
menyampaikan kepada yang tidak hadir". Kata Ibnu Hibban : "Hadits ini
sebesar-besar dalil yang menunjukkan bahwa semua shahabat adil dan tidak
satupun diantara mereka yang tercela dan lemah". (Al-Jarh wat Ta'dil oleh
Abi Lubabah ; Ibnu Hibban 1:123).
"Artinya
: Ibnu Abbas berkata : 'Janganlah kalian mencaci maki atau menghina para
shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya
kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah sesaat (sejam) itu lebih
baik dari amal seorang dari kalian selama 40 (empat puluh) tahun". (Hadits
Riwayat Ibnu Batthah dengan sanad yang shahih) 10)
"Artinya
: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Tidak akan
masuk neraka seorang-pun dari orang-orang yang berba'iat di bawah pohon (di
Hudaibiyyah)". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan
Muslim).
"Artinya
: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Tidak akan masuk
neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan Perjanjian
Hudaibiyyah". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad III:396 dari Jabir).
Penjelasan
Islam yang diterima oleh kaum Muslimin sampai hari Kiamat adalah berkaitan dengan pengorbanan para shahabat yang ikut serta dalam perang Badar dan perang-perang lainnya demi tegaknya agama Islam. Karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan umat Islam bahwa apa yang mereka infaq-kan dan belanjakan fii-sabilillah belumlah dapat menyamai derajat para Shahabat, meskipun umat Islam ini berinfaq sebesar gunung Uhud berupa emas atau barang-barang berharga lainnya.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata tentang Shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tidak ada seorangpun dari kalian yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari bergelimang pasir dan debu (di medan perang), sedang di malam hari mereka banyak berdiri, ruku' dan sujud (beribadah kepada Allah) silih berganti, tampak kegesitan dari wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak di bara api bila mereka ingat akan hari pembalasan (Akhirat), tampak bekas sujud di dahi mereka, bila mereka Dzikrullah berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka condong laksana condongnya pohon dihembus angin yang lembut karena takut akan siksa Allah, serta mereka mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah". 11) Kemudian beliau berkata lagi : "Mereka adalah shahabat-shabatku yang telah pergi, pantas kita merindukan mereka dan bersedih karena kepergian mereka". 12)
Footnote :
7. Tadribur-Rawi 2 hal. 215
8. Al-Kifayah fi 'Ilmir-Riwayah hal.93
9. 'Umul Hadits hal. 329, Libni Shalah ; Mudzakirah Ushulil-Fiqhlis-Syahqithi hal. 126
10. Lihat Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 469 hal, Takhrij Syaikh Al-Albani
11. Najhul Balaghah yang di tahqiq oleh Dr. Shubhi Shaleh cet. Daarul Kutub Al-Lubnani (Beirut) hal. 143,177,178 dinukil dari Shuratani Mutadhatani, Tarjamah Bey Arifin hal. 16-17
12. Ibid
F. IJMA' ULAMA TENTANG 'ADALAH (KEADILAN) SEMUA SHAHABAT RASULULLAH
1. Al-Khatib
Al-Baghdadi (beliau lahir th 392 wafat th 463) beliau berkata : "Para
shahabat adalah orang-orang yang kuat imannya, bersih aqidahnya dan mereka
lebih baik dari semua orang yang adil dan orang-orang yang mengeluarkan zakat
yang datang sesudah mereka selama-lamanya. Ini merupakan pendapat semua
Ulama". 13)
2. Ibnu
Abdil Barr (363-463H) berkata : "Para shahabat tidak perlu kita periksa
(keadilan) mereka, karena sudah ijma' Ahlul Haq dari kaum muslimin yaitu Ahlus
Sunnah wal Jama'ah bahwa mereka semua Adil". 14)
3. Ibnu
Hazm (384-456H) berkata : "Semua shahabat adalah 'adil, utama diridhai,
maka wajib atas kita memulyakan mereka, menghormati mereka, memohonkan ampunan
untuk mereka dan mencintai mereka". 15)
4. Ibnu
Katsir (701-774H) berkata : "Semua shahabat adalah 'adil menurut Ahlus
Sunnah wal Jama'ah, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuji mereka di
dalam Al-Qur'an dan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam-pun memuji
prilaku dan ahlak mereka. Mereka telah mengorbankan harta dan jiwa mereka di
hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mereka mengharap
ganjaran yang baik (dari Allah)". 16)
Sebenarnya
masih banyak lagi pujian dan sanjungan para Ulama tentang 'adalah (keadilan)
shahabat, tetapi apa yang sudah disebutkan sebenarnya sudah lebih dari cukup
bagi orang yang punya bashirah.
1. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah (661-728H) menerangkan dalam Fatawa-nya : "Kami
menahan tentang apa-apa yang terjadi diantara mereka dan kami mengetahui bahwa
sebagian cerita-cerita yang sampai kepada kami tentang (kejelekan) mereka
(semuanya) adalah dusta. Mereka (para shahabat) adalah mujtahid, jika mereka
benar maka mereka akan dapat dua ganjaran dan akan diberi pahala atas amal
shalih mereka, serta akan diampuni dosa-dosa mereka. Adapun jika ada pada
mereka kesalahan-kesalahan sungguh kebaikan dari Allah telah mereka peroleh
maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa mereka dengan taubat mereka atau
dengan perbuatan baik yang mereka kerjakan yang dapat menghapuskan dosa-dosa
mereka atau dengan yang lainnya. Sesungguhnya mereka adalah sebaik-baik umat
dan sebaik-baik masa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam".
17)
2. Kata
Ibnu Katsir : "Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka sesudah
wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ada yang terjadi
secara tidak sengaja seperti Perang Jamal (antara Ali dengan 'Aisyah) dan
adapula yang terjadi berdasar ijtihad seperti Perang Shiffin (antara Ali dengan
Mua'wiyah). Ijtihad terkadang benar dan terkadang salah, akan tetapi (bila
salah) pelakunya akan diampuni Allah dan akan dapat ganjaran kendatipun ia
salah. Adapun jika ia benar ia akan dapat dua ganjaran. Dalam hal ini Ali dan
para shahabatnya lebih mendekati kepada kebenaran daripada Mu'awiyah
mudah-mudahan Allah meridhai mereka semuanya (Ali, 'Aisyah, Muawiyah dan para
shahabat mereka)". 18)
Meskipun
perselisihan yang terjadi diantara para shahabat sempat membawa korban jiwa,
yakni ada diantara mereka yang gugur, tetapi mereka segera bertaubat karena
mereka adalah orang-orang yang selalu bertaubat kepada Allah dan Allah-pun
menjanjikan taubat atas mereka. Allah berfirman :
"Artinya : Mudah-mudahan Allah
menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang". (At-Taubah : 102)
H.
PARA SHAHABAT TIDAK MA'SHUM
"Artinya : Setiap anak Adam bersalah
dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat". (Hadits Hasan
Riwayat Ahmad 3: 198, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim 4:244. Shahih Jami'us Shagir
4391, Takhrijul Misykat No. 2431)
Abu
Bakar Ibnul 'Arabi berkata : "Dosa-dosa (yang dilakukan para shahabat)
tidaklah menggugurkan 'adalah (keadilan), apabila sudah ada taubat". 19)
Kita yakin
seyakin-yakinnya bahwa para shahabat yang pernah bersalah semuanya bertaubat
kepada Allah dan mereka tidak bisa dikatakan nifaq atau kufur. Semua ulama
Ahlus Sunnah wal Jama'ah telah sepakat bahwa para shahabat yang ikut serta
dalam persengketaan, ikut dalam perang Jamal dan perang Shiffin, mereka adalah
orang-orang yang beriman dan adil. Dan kesalahan mereka yang bersifat individu
dan berjama'ah tidak menggugurkan pujian Allah atas mereka. Abu Ja'far Muhammad bin Ali Al-Husain ketika ditanya tentang orang-orang (para shahabat) yang ikut serta dalam perang Jamal ia menjawab : "Mereka (para shahabat) adalah orang-orang yang tetap dalam keimanan dan mereka bukan orang-orang kafir". 20)
Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Ibnu Mas'ud, mereka berkata : "Ali bin Abi Thalib menyalatkan jenazah para shahabat yang memihak Mu'wiyah". 21)
I. PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG ORANG-ORANG YANG MENCACI MAKI/MENGHINA PARA SHAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
1. Imam
Malik berkata : "Orang-orang yang membenci para Shahabat Rasulullah adalah
orang-orang kafir". (Tafsir Ibnu Katsir V hal. 367-368) atau IV hal. 216
cet. Daarus Salam Riyadh.
2. Al-Qadhi
'Iyaadh berkata : "Jumhur Ulama berpendapat bahwa orang yang
menghina/mencaci maki para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
harus dihukum ta'ziir (yakni harus didera menurut kebijaksanaan hakim Islam
-pen)". (Fathul Bari VII hal. 36).
3. Kata
Imam Abu Zur'ah Ar-Raazi (wafat th 264H): "Apabila engkau melihat
seseorang mencaci maki/menghina seseorang dari shahabat Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa orang itu adalah Zindiq (kafir).
Yang demikian karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
haq, Al-Qur'an adalah haq dan apa-apa yang dibawa adalah haq dan yang
menyampaikan semua itu kepada kita adalah para shahabat Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam. Mereka (orang-orang zindiq) itu mencela kesaksian kita
agar bisa membatalkan Al-Qur'an dan Sunnah (yakni agar kita tidak percaya
kepada Al-Qur'an dan Sunnah -pen). Merekalah yang pantas mendapat celaan".
22)
4. Imam
Al--Hafizh Syamsuddin Muhammad 'Utsman Adz-Dzahabi yang lebih dikenal dengan
Imam Adz-Dzahabi (673-747H) berkata : "Barangsiapa yang mencaci mereka
(para shahabat) menghina mereka, maka sesungguhnya ia telah keluar dari agama
Islam dan telah merusak kaum muslimin. Mereka yang mencaci adalah orang yang
dengki dan ingkar kepada pujian Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan juga
mengingkari Rasulullah yang memuji mereka dengan keutamaan, tingkatan dan cinta
... Memaki mereka berarti memaki pokok pembawa syari'at (yakni Rasulullah).
Mencela pembawa Syari'at berarti mencela kepada apa yang dibawanya (yaitu
Al-Qur'an dan Sunnah)". 23)
J.
KHATIMAH
1. Mereka
sebaik-baik ummat.
2. Kita
diwajibkan mengikuti jejak langkah mereka dengan baik (At-Taubah : 100) dan
tidak boleh menyimpang dari jalan mereka (An-Nisaa' : 15) dan berpegang kepada
Sunnah Rasul dan Khulafaur Rasyidin.
3. Semua
Shahabat adalah adil.
4. Kita
tidak berkeyakinan bahwa para Shahabat ma'shum, karena tidak seorangpun yang
ma'shum selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
5. Kita
ridha kepada mereka dan kita mohonkan untuk mereka ampunan dan kita menahan
dari apa yang terjadi di antara mereka (Al-Hasyr : 10).
K.
KESIMPULAN
1. Golongan
Orientalis, Yahudi dan Syi'ah adalah golongan yang paling banyak mencaci dan
menghina para Shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
2. Aqidah
Syi'ah yang menyatakan para Shahabat tidak adil, bahkan mereka mengkafirkan,
mereka adalah orang yang sesat dan menyesatkan dan orang-orangnya dinyatakan
kafir. 24)
3. Hukum
mencaci/menghina para Shahabat adalah haram dan pelakunya akan dilaknat Allah,
Malaikat dan seluruh manusia. Sabda Nabi : "Barangsiapa mencela
shahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, malaikat dan seluruh
manusia". (Hadist Riwayat Thabrani)
4. Orang
Munafiq dan Murtad dan mati dalam keadaan demikian mereka adalah termasuk
golongan kafir dan tidak termasuk Shahabat meskipun berjumpa dengan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam.
5. Semua
shahabat adalah adil dan tetap dikatakan orang-orang yang beriman, meskipun
mereka berselisih (Al-Hujuraat 9-10).
6. Sebesar
apapun infaq yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan dapat menyamai
derajat seorang shahabat Rasulullah.
7. Kita
wajib mencintai para shahabat.
8. Kita
seharusnya mendo'akan orang-orang yang terlebih dahulu beriman dari pada kita :
"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian
dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman ; Ya Rabb kami, sesungguhnya
Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (Al-Hasyr : 10)
Footnote
:
13. Al-Kifayah fi 'Ilmir-Riwayah hal. 49; Tanbih Dzawin Najabahilla 'Adaalatis Shahabah oleh Qurasy bin Umar bin Ahmad hal. 23
14. Al-Iti'ab fi Ma'rifati Ashab Juz I hal. 9 cet. Daarul Fikr 1398H
15. Ushulul Hadits hal. 386 dinukil dari Al-Ihkam fil Ushulil-Ahkam
16. Al-Baitsul-Hatsits fi Ikhtishar Ulumil Hadits hal.154
17. Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah jilid III hal. 406
18. Al-Ba'itsul Hatsits syarah Ikhtisar Ulumil hadits hal. 154
19. Al-'Awashin minal Qawashim tahqiq Syaikh Muhibudin Al-Khatib hal. 94 Daarul Mathba'ah Salafiayh cet V Cairo.
20. Ushulul -Itiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah oleh Imam Al-Lalikai, tahqiq DR Ahmad Sa'ad Hamdan jilid V & VI hal 1059 -1060 cet. Daar Thayyibah-Riyadh
21. idem
22. Al-Awashim minal Qawashim hal. 34
23. Al-Khabair Adz-Dahabi, tahqiq Abu Khalid Al-husain bin Muhammad as-Sa'idl hal. 352-353 Daarul Fikr th 1408H cet. I
24. Limaza Kafaral 'ulama Al-Khumaini oleh Wajih Al-Madini cet. cairo I 1408H; Aqaidus Syi'ah fil Mizan oleh Dr Muhammad Kamil Al-Hasyimi cet I, th 1409
13. Al-Kifayah fi 'Ilmir-Riwayah hal. 49; Tanbih Dzawin Najabahilla 'Adaalatis Shahabah oleh Qurasy bin Umar bin Ahmad hal. 23
14. Al-Iti'ab fi Ma'rifati Ashab Juz I hal. 9 cet. Daarul Fikr 1398H
15. Ushulul Hadits hal. 386 dinukil dari Al-Ihkam fil Ushulil-Ahkam
16. Al-Baitsul-Hatsits fi Ikhtishar Ulumil Hadits hal.154
17. Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah jilid III hal. 406
18. Al-Ba'itsul Hatsits syarah Ikhtisar Ulumil hadits hal. 154
19. Al-'Awashin minal Qawashim tahqiq Syaikh Muhibudin Al-Khatib hal. 94 Daarul Mathba'ah Salafiayh cet V Cairo.
20. Ushulul -Itiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah oleh Imam Al-Lalikai, tahqiq DR Ahmad Sa'ad Hamdan jilid V & VI hal 1059 -1060 cet. Daar Thayyibah-Riyadh
21. idem
22. Al-Awashim minal Qawashim hal. 34
23. Al-Khabair Adz-Dahabi, tahqiq Abu Khalid Al-husain bin Muhammad as-Sa'idl hal. 352-353 Daarul Fikr th 1408H cet. I
24. Limaza Kafaral 'ulama Al-Khumaini oleh Wajih Al-Madini cet. cairo I 1408H; Aqaidus Syi'ah fil Mizan oleh Dr Muhammad Kamil Al-Hasyimi cet I, th 1409
Oleh : Yazid bin Abdul Qadir Jawas


0 komentar:
Posting Komentar