assalamu'alaikum.....

Blogger news


Tampilkan postingan dengan label muamalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muamalah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Mei 2014

Alangkah Indahnya Islam




Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuraba) HR. Muslim



Tema keindahan Islam sangat luas, panjang lebar sulit untuk diringkas dengan bilangan waktu yang tersisa. Sebelumnya, yang perlu kita ketahui adalah firman Allah.
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)
Juga firman-Nya.
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ
“Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima.” (Qs. Ali Imran: 85)
Jadi, agama yang dibawa oleh para nabi dan menjadi sebab Allah mengutus para rasul adalah dienul Islam. Allah mengutus para rasul untuk mengajak agar orang kembali kepada Allah. Para rasul datang untuk memperkenalkan Allah. Barang siapa menaati mereka, maka para rasul akan memberikan kabar gembira kepadanya. Adapun orang yang menentangnya, maka para rasul akan menjadi peringatan baginya. Para rasul diperintahkan untuk menegakkan agama di dunia ini.
Allah berfirman.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu ‘Tegakkan agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.’ Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepada)Nya.” (Qs. Asy-Syura: 13)

Islam adalah agama yang dipilih Allah untuk makhluk-Nya. Agama yang dibawa Nabi merupakan agama yang paripurna. Allah tidak akan menerima agama selainnya. Jadi agama ini adalah agama penutup, yang dicintai dan diridhaiNya.
Allah berfirman.
يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
“Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepada)Nya.” (Qs. Asy-Syura: 42)

Sebagian ahli ilmu mengatakan, Sebelumnya aku mengira bahwa orang yang bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya. Dan orang yang meridhoi Allah, niscaya Allah akan meridhoinya. Dan barang siapa yang mencintai Allah, niscaya Allah akan mencintainya. Setelah aku membaca Kitabulloh, aku baru mengetahui bahwa kecintaan Allah mendahului kecintaan hamba padaNya dengan dasar ayat.
يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
“Dia mencintai mereka dan mereka mencitaiNya.” (Qs. Al Maaidah: 54)
Ridha Allah kepada hambaNya mendahului ridha hamba kepadaNya dengan dasar ayat.
رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ
“Allah meridhoi mereka dan mereka meridhoinya.” (Qs. At-Taubah: 100)
Dan aku mengetahui bahwa penerimaan taubat dari Allah, mendahului taubat seorang hamba kepada-Nya dengan dasar ayat.

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُواْ إِنَّ
“Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.” (Qs. At-Taubah: 118)

Demikianlah, bila Allah mencintai seorang manusia, maka Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam. Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda. “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang Yahudi dan Nasrani yang mendengarku dan tidak beriman kepadaku, kecuali surga akan haram buat dirinya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Karena itu, agama yang diterima Allah adalah Islam. Umat Islam harus menjadikannya sebagai kendaraan. Persatuan harus bertumpu pada tauhid dan syahadatain. Islam agama Allah. Kekuatannya terletak pada Islam itu sendiri. Allah menjamin penjagaan terhadapnya.
Allah berfirman.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)
Sedangkan agama selainnya, jaminan ada di tangan tokoh-tokoh agamanya.
Allah berfirman.
بِمَا اسْتُحْفِظُواْ مِن كِتَابِ اللّهِ
“Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab.” (Qs. Al Maaidah: 44)

Kalau mereka tidak menjaganya, maka akan berubah. Ia bagaikan sesuatu yang mati. Harus digotong. Tidak dapat menyebar, kecuali dengan dorongan sekian banyak materi. Sedangkan Islam pasti tetap akan terjaga. Karena itu, masa depan ada di tangan Islam. Islam pasti menyebar ke seantero dunia. Allah telah menjelaskannya dalam Al Quran, demikian juga Nabi dalam Sunnahnya. Kesempatan kali ini cukup sempit, tidak memungkinkan untuk menyebutkan seluruh dalil. Tapi saya ingin mengutip sebuah ayat.

مَن كَانَ يَظُنُّ أَن لَّن يَنصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاء ثُمَّ لِيَقْطَعْ فَلْيَنظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ

“Barang siapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tidak menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (Qs. Al-Hajj: 15)

Dalam Musnad Imam Ahmad dari sahabat Abdulloh bin Amr, kami bertanya kepada Nabi, “Kota manakah yang akan pertama kali ditaklukkan? Konstantinopel (di Turki) atau Rumiyyah (Roma)?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Konstantinopel-lah yang akan ditaklukkan pertama kali, kemudian disusul Rumiyyah.” Yaitu Roma yang terletak di Italia. Islam pasti akan meluas di seluruh penjuru dunia. Pasalnya, Islam bagaikan pohon besar yang hidup lagi kuat, akarnya menyebar sepanjang sejarah semenjak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Islam adalah agama (yang sesuai dengan) fitrah. Kalau anda ditanya, bagaimana engkau mengetahui Robb-mu. Jangan engkau jawab, “dengan akalku,” tapi jawablah, “dengan fitrahku.” Oleh karena itu, ketika ada seorang atheis yang mendatangi Abu Hanifah dan meminta dalil bahwa Allah adalah Haq (benar), maka beliau menjawab dengan dalil fitrah. “Apakah engkau pernah naik kapal dan ombak mempermainkan kapalmu?” Ia menjawab, “Pernah.” (Abu Hanifah bertanya lagi), “Apakah engkau merasa akan tenggelam?” Jawabnya, “Ya.” “Apakah engkau meyakini ada kekuatan yang akan menyelamatkanmu?” “Ya,” jawabnya. “Itulah fitrah yang telah diciptakan dalam dirimu. Kekuatan ada dalam dirimu itulah kekuatan fitrah Allah. Manusia mengenal Allah dengan fitrahnya. Fitrah ini terkandung dalam dada setiap insan. Dasarnya hadits Muttafaq ‘Alaih. Nabi bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.”

Akal itu sendiri bisa mengetahui bahwa Allah adalah Al-Haq. Namun ia secara mandiri tidak akan mampu mengetahui apa yang dicintai dan diridhoi Allah. Apakah mungkin akal semata saja dapat mengetahui bahwa Allah mencintai sholat lima waktu, haji, puasa di bulan tertentu? Karena itu, fitrah itu perlu dipupuk dengan gizi yang berasal dari wahyu yang diwahyukan kepada para nabi-Nya.

Sekali lagi, nikmat dan anugerah paling besar yang diterima seorang hamba dari Allah ialah bahwa Allah-lah yang memberikan jaminan untuk menetapkan syariat-Nya. Dialah yang menjelaskan apa yang dicintai dan diridhaiNya. Inilah nikmat terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. Bila ada orang yang beranggapan ada kebaikan dengan keluar dari garis ini dan mengikuti hawa nafsunya, maka ia telah keliru. Sebab kebaikan yang hakiki dalam kehidupan ini maupun kehidupan nanti hanyalah dengan menaati seluruh yang datang dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Syariat Islam datang untuk menjaga lima perkara. Allah telah mensyariatkan banyak hal untuk menegaskan penjagaan ini. Islam datang untuk menjaga agama. Karena itu, Allah mengharamkan syirik, baik yang berupa thawaf di kuburan, istighatsah kepada orang yang dikubur serta segala hal yang bisa menjerumuskan ke dalam syirik, dan mengharamkan untuk mengarahkan ibadah, apapun bentuknya, (baik) secara zahir maupun batin kepada selain Allah. Oleh sebab itu, kita harus memahami makna ringkas syahadatain yang kita ucapkan.

Syahadat “Laa Ilaaha Illa Allah”, maknanya: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, ibadah hanya milik Allah. Ini bagian dari pesona agama kita. Allah mengharamkan akal, hati dan fitrah untuk melakukan peribadatan dan istijabah (ketaatan mutlak) kepada selain-Nya. Sedangkan makna syahadat “Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, (yakni) tidak ada orang yang berhak diikuti kecuali Muhammad Rasulullah. Kita tidak boleh mengikuti rasio, tradisi atau kelompok jika menyalahi Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Maka seorang muslim, di samping tidak beribadah kecuali kepada Allah, juga tidak mengikuti ajaran kecuali ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mengikuti ra’yu keluarga, ra’yu kelompok, ra’yu jama’ah, ra’yu tradisi dan lain-lain jika menyalahi Al Quran dan Sunnah.

Dakwah Salafiyah yang kita dakwahkan ini adalah dinullah yang suci dan murni, yang diturunkan oleh Allah pada kalbu Nabi. Jadi dalam berdakwah, kita tidak mengajak orang untuk mengikuti kelompok ataupun individu. Tetapi mengajak untuk kembali kepada Al Quran dan Sunnah. Namun, memang telah timbul dakhon (kekeruhan) dan tumbuh bid’ah. Sehingga kita harus menguasai ilmu syar’i. Kita beramal (dengan) meneladani ungkapan Imam Malik, dan ini, juga perkataan Imam Syafi’i, “Setiap orang bisa diambil perkataannya atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini, yaitu Rasulullah.”

Telah saya singgung di atas, agama datang untuk menjaga lima perkara. Penjagaan agama dengan mengharamkan syirik dan segala sesuatu yang menimbulkan akses ke sana. Kemudian penjagaan terhadap badan dengan mengharamkan pembunuhan dan gangguan kepada orang lain. Juga datang untuk memelihara akal dengan mengharamkan khamar, minuman keras, candu dan rokok. Datang untuk menjaga kehormatan dengan mengharamkan zina, percampuran nasab dan ikhtilath (pergaulan bebas). Juga menjaga harta dengan mengharamkan perbuatan tabdzir (pemborosan) dan gaya hidup hedonisme. Penjagaan terhadap kelima perkara ini termasuk bagian dari indahnya agama kita. Syariat telah datang untuk memerintahkan penjagaan terhadap semua ini. Dan masih banyak perkara yang digariskan Islam, namun tidak mungkin kita paparkan sekarang.

Syariat telah merangkum seluruh amal shahih mulai dari syahadat hingga menyingkirkan gangguan dari jalan. Karena itu tolonglah jawab, kalau menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari keimanan, bagaimana mungkin agama memerintahkan untuk mengganggu orang lain, melakukan pembunuhan dan peledakan? Jadi, ini sebenarnya sebuah intervensi pemikiran asing atas agama kita. Semoga Allah memberkahi waktu kita, dan mengaruniakan kepada kita pemahaman terhadap Kitabullah dan Sunnah Nabi dengan lurus. Dan semoga Allah memberi tambahan karunia-Nya kepada kita. Akhirnya, kami ucapkan Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin.



Penulis: Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah

Minggu, 30 Maret 2014

Indahnya Persaudaraan Dalam Islam

Indahnya Persaudaraan Dalam Islam
                               




Islam adalah diin yang bukan sekedar mengatur hubungan manusia dengan khaliqnya (bahlum-minallaah/ hubungan vertikal) akan tetapi membimbing juga setiap pemeluknya untuk membina hubungan harmanis dengan sesama manusia dan alam sekitar (hablum-minaas/ hubungan horizontal). Orang yang sengsara di hari kiamat nanti, bukan hanya orang yang tidak membangun hubungan baik dengan Allah namun mereka yang tidak mampu mengaplikasikan tuntunan Allah dan rasulullaah dalam membangun hubungan harmonis dengan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala   . Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita berusaha untuk mentawazunkan (menyeimbangkan) antara hablum-minallaah dengan hablum-minannaas.

• Urgensi Persaudaraan

1. Nikmat Allah : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang ber-saudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu menda-pat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran : 103-104)
Dalam dua ayat tersebut tersebut terdapat tuntutan yang harus dilak-sanakan oleh muslim yang menjalin ukhuwah dalam Islam :
- komitmen terhadap al-Qur’an dan as-Sunah. Tidak menggunakan manhaj lain selainnya
- menjauhkan diri dari permusuhan dan perpecahan
- penyatu hati adalah mahabbah (cinta) kepada Allah
- mendakwahkan kebaikan
Dengan ukhuwah ini kaum muslimin tolong-menolong untuk melaksa-nakan tuntutan tersebut.

2. Merupakan arahan Rabbani : “… Dia-lah yang Memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para Mukmin, dan yang Mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah Mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal 8:62-63)

Allah-lah semata-mata pembangun ukhuwwah diantara hati-hati Mukminin.

3. Merupakan cermin kekuatan iman : “Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari)
Betapa kuatnya korelasi antara ukhuwwah Islamiyah dan ‘iman’. Sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mensyaratkan kecintaan kepada saudara sesama muslim sebagai salah satu unsur pembentuk iman. Iman sejati menghajatkan suatu rajutan persaudaraan yang kokoh di jalan Allah. Karena itu eksistensi ukhuwwah berbanding lurus dengan kondisi iman seseorang atau sekelompok jamaah. Semakin solid suatu ikatan persaudaraan fillah, makin besar peluang untuk anggotanya dikategorikan sebagai mukmin sejati (mu’min al haq). Sebaliknya ikatan bersaudara di jalan Allah ini bila rapuh, akan mengindikasikan suatu hakikat keimanan yang juga masih rendah tingkatnya.

TAHAPAN MEMBANGUN PERSAUDARAAN

Jalan menuju ukhuwah memiliki sejumlah tahapan, yang seorang muslim tidak bisa menggapai ukhuwah dengan saudaranya kecuali apabila melaluinya. Tiap tahapan ini memiliki rambu-rambu dan etika-etikanya, yang akhirnya akan berujung pada ukhuwah Islamiah yang kokoh.

1.        Ta’aruf (saling mengenal)

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat 49:13)

Yang demikian itu mengharuskan seorang muslim mengenal saudaranya seiman. Bahkan ia harus mengetahui hal-hal yang disukai dan hal-hal yang tidak disukainya hingga dapat membantunya jika ia berbuat baik, memohonkan ampun untuknya jika ia berdosa, mendoakan untuknya dengan kebaikan jika tidak berada di tempat dan mencintainya jika ia bertaubat.

2.        Ta’aluf (saling bersatu)

Ta’aluf berarti bersatunya seorang muslim dengan muslim lainnya. “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (Ali ‘Imran : 103)

“Walaupun kalian membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kalian tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Al-Anfal:63)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ruh-ruh itu ibarat tentara-tentara yang terkoordinasi; yang saling mengenal niscaya bersatu, sedangkan yang tidak saling mengenal niscaya berpisah.” (HR. Muslim)

Maka salah satu kewajiban ukhuwah adalah, hendaknya seorang muslim menyatu dengan saudaranya sesama muslim. Seiring dengan itu, hendaklah ia melakukan hal-hal yang bisa menyatukan dirinya dengan saudaranya.

Suatu faktor global yang bisa mewujudkan ta’aluf adalah: “Hendaklah seorang muslim konsisten melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.”

3.        Tafahum (saling memahami)

Hendaklah terjalin sikap tafahum (saling memahami) antara seorang muslim dengan saudaranya, yang diawali dengan kesepahaman dalam prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, lalu dalam masalah-masalah cabang yang juga perlu dipahami secara bersama.

Bersikap husnudzan jangan su’udzan.

Seorang muslim yang berusaha mencapai tingat tafahum dituntut agar mampu mengendalikan diri, menguasai perasan dan emosi serta mengarahkan tingkah lakunya dan pergaulan ke arah kemanusiaan yang bermartabat, bersopan santun dan bertenggang rasa, tidak melukai perasaan atau menyakiti hati orang lain tanpa alas an.
Akhlak yang baik dapat merubah lawan yang dibenci menjadi kawan yang disenangi. Itu lebih baik daripada menambah musuh. “Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang diantaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Fushilat 41:34-35)

“Maka disebabkan Rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan-lah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran 3:159)

4.        Ri’ayah (perhatian)

Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar ia bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya tersebut memintanya karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu bentuk perhatian adalah hendaknya seorang muslim menutupi aib saudaranya.
“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba yang lain kecuali Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Bentuk perhatian lainnya adalah hendaknya ia berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kecemasannya apabila sedang tertimpa kecemasan, meringankan kesulitan yang dihadapinya, menutupi aibnya dan membantunya dalam memenuhi kebutuhan.

“Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Bentuk perhatiannya lainnya adalah hendaknya ia menjalankan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Islam atasnya untuk saudaranya. “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.” Ditanyakan, “Apakah keenam hak itu wahai Rasulullah?” Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundang maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah, jika ia bersin lalu memuji Allah maka ucapkanlah: yarhamukallah, jika ia sakit maka kunjungilah, dan jika ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya.” (HR. Muslim)

5.        Ta’awun (saling membantu)

Allah subhanahu wa ta’ala  telah memerintahkan hamba-hambanya yang beriman untuk bantu-membantu dalam melaksanakan kebaikan (al-birr) dan dalam meninggalkan kemungkaran yang disebut dengan (at-taqwa).

Indikasi-indikasi ta’awun yang dilaksanakan oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam diantaranya :
- Ta’awun dalam memerintahkan yang ma’ruf, mengamalkan kebaikan, dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan petunjuk Islam. Sebaik-baik sahabat adalah yang mengingatkanmu apabila lupa dan membantumu apabila ingat.
- Ta’awun dalam meninggalkan kemungkaran, hal yang diharamkan dan bahkan hal yang makruh
- Ta’awun dalam upaya terus-menerus mengubah manusia dari satu keadaan kepada keadaan lain yang lebih diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.

6.        Tanashur (saling menolong)

Ia masih sejenis dengan ta’awun, tetapi memiliki pengertian yang lebih dalam dan lebih menggambarkan makna cinta dan loyalitas.

Tanashur diantara dua orang yang berukhuwah dalam Islam memiliki banyak makna, di antaranya :
- Seseorang tidak menjerumuskan saudaranya kepada sesuatu yang buruk atau dibenci
- Mencegah saudaranya dan menolongnya dari setan yang membisikkan kejahatan kepadanya dan dari pikiran-pikiran yang buruk yang terlintas pada dirinya untuk menunda pelaksanaan amal kebaikan
- Menolong menghadapi setiap orang yang menghalanginya dari jalan kebenaran
- Menolongnya, baik saat menzhalimi (dengan cara mencegahnya dari perbuatan zhalim) maupun saat dizhalimi (dengan berusaha menghindarkannya dari kezhaliman yang menimpanya)

Tidak akan terjadi tanashur diantara orang-orang yang bersaudara dalam Islam kecuali masing-masing bersedia memberikan pengorbanan untuk saudaranya, baik pengorbanan waktu, tenaga, maupun harta.

7.        Itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya sendiri)

Ketika bergolak medan peperangan Yarmuk, ada kisah emas tentang bagaimana ruh ukhuwwah sejati ditampilkan shahabat. Diketengahkan oleh al-Qurthubi tentang pengalaman seorang shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  “Aku bermaksud mencari keponakanku. Hendak kuberi minum ia pada saat-saat akhir menjelang ajalnya. Aku katakana padanya,” ‘Minumlah air ini.’ Dia menganggukkan kepala. Sejurus kemudian terdengar rintihan memelas shahabat disampingnya, penuh belas kasih. Keponakanku mengisyaratkan agar aku menemuinya. Ah, ternyata Husein bin ‘Ash. ‘Minumlah ini,’ kataku sambil menyodorkan air yang tadi kubawa. Husein menganggukkan kepada Namun berbarengan dengan itu terdengar seseorang di sampingnya mengerang kehausan. Husein menyuruhku agar memberikan air kepada orang tersebut. Ketika kutemui shahabat tadi, ia sudah gugur. Lantas aku bergegas kepada Husein, iapun telah gugur. Kemudian aku menuju keponakanku, dan .. ia pun telah pulang ke pangkuan Rabb-nya.

Sementara itu, di episode lain dari sekian puluh kejadian-kejadian sirah Rasulullah dan para shahabat, adalah Abdurrahman bin Auf yang Muhajirin dan Sa’ad bin Rabi’ yang Anshar. Selayaknya kaum Muhajirin yang meninggalkan kampung halaman tanpa banyak perbekalan, Ibnu Auf mulanya jelas terbilang miskin. Sebaliknya Sa’ad bin Rabi’ adalah aghniya, hartawan dengan kekayaan melimpah. Keduanya dipersaudarakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  . Terjadilah dialog dengan muatan ruh ukhuwwah Islamiyah sejati antara keduanya. Berkata Sa’ad, “Akhi, aku adalah penduduk Madinah yang kaya. Pilih separuh hartaku dan ambillah! Dan aku punya dua istri, pilih yang menarik hatimu, biar nanti kucerai salah satunya hingga engkau bisa memperistrikannya.”

Dengan penuh kasih Abdurrahman bin Auf menjawab, “Semoga Allah merahmatimu, harta dan istri-istrimu. Sekarang, tolong tunjukkan di mana letak pasar, biar aku bisa berdagang.”
Dua penggal kisah diatas merupakan kisah sejati yang menggambarkan ruh itsar kepada kita.

Kalau dicermati, fenomena persaudaraan pada sahabat itu senantiasa dimulai dengan keikhlasan untuk memikul sekian keprihatinan perjuangan. Pementasan ukhuwwah Islamiyah para shahabat berada di sebuah panggung kehidupan yang bernama ‘jihad di jalan Allah’. Kejadian-kejadian dahsyat dalam sejarah tadi beruanglingkupkan atmosfir penegakan kalimat Allah dalam pengertian yang sebenar-benarnya.
Pribadi-pribadi yang bertemu dalam forum ukhuwwah Islamiyah adalah pribadi-pribadi yang telah memiliki kesamaan pemahaman terhadap problematika ummat, sadar terhadap kewajibannya sebagai muslimin taat. Mereka mempunyai kepedulian tinggi, keterlibatan dan rasa memiliki terhadap nasib ummat. Mereka terkondisi untuk selalu memikirkan bagaimana dakwah harus dijalankan. Terikat satu sama lain dalam tugas suci meninggikan kalimat Allah. Ini dilakoni oleh mereka dalam segala suasana: sedih, tragis, suka, untung atau mengharukan. Semuanya dikerjakan secara bersama senasib dan sepenanggungan.

Menyimak latar belakang itu, wajar jika para shahabat begitu spektakuler dalam menampilkan ruh ukhuwwah Islamiyah. Ini terjadi ternyata diawali oleh pra kondisi yang pengundang perasaan heroik. Ada suasana perjuangan yang mengharukan. Beban tanggung jawab yang sama terhadap kebenaran menjadikan mereka bisa bahu-membahu satu dengan yang lain.
Dengan ini maka solidaritas yang dibangun adalah yang mengarah pada visi keummatan. Bukan solidaritas kelompok yang justru bisa menghambat lahirnya ukhuwwah.
Pada akhirnya, egoisme golongan dapat ditekan sekecil mungkin atau dimusnahkan. Ketika tidak lagi berpikir tentang kelompok, kemudian mengarahkan keterlibatannya pada hal-hal yang besar yang dihadapi ummat, menanggung keprihatinan-keprihatinan bersama atas kondisi dakwah; mereka lebih mungkin berbicara soal ukhuwwah Islamiyah sejati. Tanpa adanya pra kondisi ini, tanpa mewujudkan lebih dahulu kesadaran terhadap perjuangan dakwah, rasa-rasanya ukhuwwah sejati akan sulit diwujudkan. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr:9)

HAL-HAL YANG MENGUATKAN PERSAUDARAAN :

1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai
Bersabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam  .: Jika seorang cinta kepada saudaranya harus memberitahu kepadanya bahwa ia kasih sayang kepadanya karena Allah. (HR. Abu Dawud)
Anas r.a. berkata: Ada seorang duduk di sisi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam   mendadak ada seorang berjalan, maka orang itu berkata: Ya Rasulullah saya sungguh cinta pada orang itu. Nabi bertanya: Apakah sudah kauberitahu padanya, bahwa kau cinta padanya? Jawabnya: Belum. Bersabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam  : Beri-tahukanlah ia. Maka dikejarnya dan dikatakan kepadanya: Sesungguhnya saya cinta padamu karena Allah. Jawabnya: Semoga Allah cinta kepadamu, sebagaimana kau cinta kepadaku karena Allah. (HR. Abu Dawud)

2. Memohon dido’akan bila berpisah

3. Menunjukkan kegembiran & senyuman bila berjumpa

4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non-muhrim)
Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  : Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kamu tiada dapat masuk sorga sehingga percaya (beriman) dan tidak percaya (beriman) sehingga kasih sayang pada semua manusia. Sukakah saya tunjukkan perbuatan, kalau kamu kerjakan timbul rasa kasih saying? Sebarkanlah salam di antara kamu. (HR. Muslim)

5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan

6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu

7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)

8. Memperhatikan saudaranya & membantu keperluannya

9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya

HAK-HAK PERSAUDARAAN

Hak-hak seorang Muslim atas Muslim lainnya secara umum :

1. Menutupi Aib Saudara Seiman

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzhalimi atau mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya sesama muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari)

2. Membela Saudara Seiman yang Digunjing

Pada dasarnya, ia tidak boleh mendengarkan kata-kata buruk yang diarahkan untuk menggunjing saudaranya seiman, akan tetapi apabila terlanjur terjadi dan ia mendengarnya, ia berkewajiban membela dan membantah penggunjingannya, demi memenuhi hak saudaranya seiman.
“Apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am:68)

“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya, Allah akan menjauhkan neraka dari wajahnya pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

3. Memaafkan Saudara Seiman

“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang Dia sediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran:133-134)

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf:199)

“Akan tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syura:43)

4. Berbuat Baik terhadap Saudara Seiman

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar berlaku adil dan berbuat baik.” (An-Nahl:90)

a. Mengunjungi, menjenguk, dan memberinya hadiah, tidak membeli barang yang sudah dibelinya dan tidak mendiamkannya melebihi tiga hari “Ada seorang lelaki mengunjungi saudaranya di suatu desa. Maka Allah mengutus seorang malaikat untuk menemuinya. Ketika sampai, utusan itu berkata, ‘Hendak kemanakah engkau?’ ‘Aku hendak menemui saudaraku yang berada di desa ini,’ jawab lelaki itu. ‘Apakah engkau menginginkan suatu nikmat tertentu yang hendak kau dapatkan darinya?’ ‘Tidak, aku hanya mencintainya karena Allah,’ jawab lelaki itu. ‘ Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.’” (HR. Muslim)

“Barangsiapa menjenguk orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya seiman karena Allah, ada (malaikat) yang memanggilnya, ‘Bagus engkau, bagus pula perjalananmu. Semoga engkau menempati rumah di dalam surga.” (HR. Muslim)
“Apabila seorang muslim berkunjung kepada saudaranya seiman, hakikatnya ia berada di kebun surga, sampai ia kembali.” (HR. Muslim)

“Hendaklah kalian saling memberi hadiah niscaya kalian saling mencintai dan hilanglah rasa benci.” (HR. Malik)
“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena sesungguhnya hadiah itu menghilangkan kemarahan di dada. Janganlah seorang yang bertetangga mencela hadiah dari tetangganya, walaupun hanya berupa kuku kambing.” (HR. Tirmidzi)

‘Janganlah salah seorang dari kalian menjual barang yang sudah dibeli orang lain dan janganlah kalian melamar perempuan yang sudah dilamar oleh orang lain.” (HR. Tirmidzi)

“Tidaklah dihalalkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam. Keduanya saling bertemu namun satu sama lain saling berpaling. Orang yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai dengan salam.” (HR. Muslim)

b. Memberikan senyuman dan membantunya sesuai dengan kemampuan. “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah. Amar ma’ruf nahi munkar yang kau lakukan adalah sedekah. Engkau menunjuki seseorang yang tersesat di suatu tempat, juga merupakan sedekah bagimu. Jika engkau menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan juga merupakan sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)
“Setiap kebaikan adalah sedekah, dan diantara kebaikan itu adalah: engkau menjumpai saudaramu dengan wajah berseri.” (HR. Tirmidzi)

“Janganlah kau meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun sekadar wajah berseri yang kau berikan ketika berjumpa saudaramu.” (HR. Muslim)

c. Tidak menimpakan bahaya dan tidak mengancam, baik dengan serius maupun sekedar bergurau, seremeh apa pun, baik bersifat material maupun nonmaterial : Terkutuklah siapa saja yang menimpakan bahaya atau membuat tipu daya atas seorang mukmin.” (HR. Tirmidzi)
“Mencela seorang muslim adalah kefasikan, sedangkan memeranginya adalah kekafiran.” (HR. Bukhari)

“Barangsiapa mengacungkan sepotong besi (mengancam) kepada saudaranya, malaikat melaknatinya sampai ia meninggalkannya, meskipun itu dilakukan terhadap saudara seayah atau seibu.” (HR. Muslim)

“Janganlah salah seorang dari kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya, karan ia tidak tahu jika setan menggerakkan tangannya sehingga ia terperosok ke lubang neraka.” (HR. Muslim)

d. Memenuhi kebutuhan-kebutuhannya : “… dan Allah menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi)

“… dan barangsiapa tengah memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah memenuhi hajatnya.” (HR. Bukhari)
“Setiap muslim harus bersedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Nabi Allah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki harta?” Beliau bersabda, “Bekerjalah dengan tangannya, sehingga ia bermanfaat bagi dirinya lalu bersedekah.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kalau ia tidak punya?” Beliau bersabda, “Membantu orang yang membutuhkan lagi meminta pertolongan.” Mereka bertanya, “Kalau tidak bisa?” Beliau bersabda, “Hendaklah ia melakukan kebajikan dan menahan diri dari kejahatan, karena keduanya merupakan sedekah baginya.” (HR. Bukhari)

Derajat paling minimal dalam memenuhi kebutuhan saudaranya adalah memenuhi kebutuhannya ketika ia memintanya.

5. Menahan Diri dari Membicarakan Aib Saudaranya Seiman

a. Tidak menyebut aib saudaranya dengan lisan
“Orang-orang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lidah dan tangannya.”
“Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya.” (al-Hujurat:12)

b. Tidak menyebut aib saudaranya di dalam hati
“Hendaklah kalian menjauhi prasangka, karena prasangka itu merupakan sedusta-dusta perkataan.” (HR. Bukhari)
“Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang berukhuwah…” (HR. Muslim)

c. Hak untuk tidak didebat

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam   bersabda: “Aku menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar, satu rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bergurau, dan satu rumah di tempat tertinggi surga bagi siapa saja yang berakhlak mulia.” (HR. Abu Dawud)

“Tinggalkanlah perdebatan karena sedikit kebaikannya. Tinggalkanlah perdebatan karena manfaatnya sedikit dan bisa menimbulkan permusuhan sesama saudara.” (HR. Dailami)

“Janganlah engkau mendebat saudaramu, jangan mempermain-kannya, jangan pula memberi janji kepadanya lalu mengingkarinya.” (HR. Tirmidzi)

d. Hak untuk tidak disebarkan rahasianya
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Tidaklah dua orang duduk bercakap-cakap kecuali dengan amanah. Tidaklah dihalalkan bagi salah satu dari keduanya untuk menyebarkan rahasia sahabatnya yang tidak diinginkannya.” (HR. Abu Bakar bin Bilal)
6. Hak untuk Dibicarakan oleh Saudaranya dengan Apa yang Disukainya ;

a. Hak untuk dipanggil dengan nama yang paling disukai
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada dua hal yang bisa menjernihkan cintamu kepada saudara-saudaramu: hendaklah engkau mengucapkan salam kepadanya terlebih dahulu ketika berjumpa, dan panggillah ia dengan nama yang paling disukainya.”

b. Memuji kebaikan-kebaikan yang diketahuinya
Memuji yang dimaksud berbeda dengan menyanjung di hadapan orang yang disanjung, karena sikap yang terakhir ini dicela Islam.

Pujian ini semakin penting apabila ia memuji kebaikan-kebaikan saudaranya di hadapan orang yang bisa mendapatkan manfaat dari pujian tersebut, sehingga orang tersebut memperbaiki pandangannya terhadap orang yang dipuji.

Adalah merupakan salah satu etika Islam apabila seorang muslim memuji saudaranya seiman, hendaklah mengatakan, “Saya kira dia demikian, saya tidak menyucikan seorang pun dihadapan Allah.”

c. Menyampaikan kepada saudaranya pujian orang lain

d. Berterima kasih terhadap kebaikannya

“Barangsiapa diperlakukan baik, lalu berkata kepada pelakunya, ‘Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik,’ berarti ia telah berterima kasih.” (HR. Tirmidzi)

7. Hak untuk Mendapatkan Nasihat dan Pengajaran
“Agama adalah nasihat,” Sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, imam-imam kaum muslimin, dan orang-orang awam di antara mereka.” (HR. Muslim)

a. Jauhkan nasihat dari tujuan mencari muka

Nasihat disebut sebagai usaha mencari muka, jika engkau menasihati saudaramu untuk kepentinganmu sendiri atau untuk mewujudkan ambisimu. Nasihat semacam ini tidak membawa kebaikan bagi saudaramu, namun membawa kebaikan bagi dirimu sendiri.

b. Menahan diri

Salah satu etika nasihat adalah, hendaknya penasihat menahan diri dari sikap yang mengharuskannya memberi nasihat untuk beberapa waktu. Diperbolehkannya menahan diri ini harus dengan syarat bahwa sikap ini benar-benar memberi kemaslahatan agama dan keselamatan bagi pelakunya.

c. Hendaknya aib yang dinasihatkan untuk ditinggalkan itu tidak disadari oleh pelakunya

d. Hendaklah ditunjukkan aibnya

Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu  pernah meminta kepada saudara-saudaranya untuk menunjukkan aib dirinya. Ia berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aib saudaranya.”

e. Yang dinasihati harus mencintai penasihatnya
Jika itu dilakukan tentu akan mengundang rasa cinta dan simpati lebih dalam.

f. Menahan diri dari menasihati atas sifat bawaan seseorang, Karena terkadang aib yang terdapat pada seseorang merupakan pembawaan yang ia tidak bisa melepaskan diri darinya. Namun apabila ia memperlihatkan aib itu, hendaklah saudaranya memberi nasihat dengan lemah lembut.

g. Hendaklah berlapang dada dan memaafkan

8. Hak untuk Mendapatkan Kesetiaan (Wafa’)

Sikap setia adalah sikap konsisten dalam mencintai baik ketika saudaranya masih hidup maupun setelah kematiannya.

9. Hak untuk Diringankan Bebannya

a. Tidak membebani dengan sesuatu yang memberatkan

b. Jangan sampai orang lain meminta untuk dipenuhi hak-haknya

c. Tidak meminta orang lain rendah hati kepadanya ; Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikuti-mu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara:215)

d. Mempergauli saudaranya sesama muslim dengan bersahaja tanpa takalluf (memaksakan diri)

e. Hendaknya seorang muslim berprasangka baik kepada saudaranya dan memandangnya lebih baik daripada dirinya sendiri

10. Hak Seorang Muslim atas Muslim yang Lain untuk Didoakan, Baik Semasa Hidupnya maupun setelah Mati
“Orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan orang-orang yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami perasaan dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr:10)

BUAH MEMBANGUN PERSAUDARAAN

1. Merasakan lezatnya iman

Bersabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam  : Tiga sifat siapa yang memilikinya akan merasakan kelezatan iman: (1) Jika ia mencintai Allah dan Rasulullah lebih dari lain-lain-Nya (2) Jika ia mencintai sesama manusia semata-mata karena Allah (3) Jika engkau membenci kembali kepada kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana engkau enggan dimasukkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari, Muslim)

2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat
Bersabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam   : Tujuh macam orang yang bakal dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan kecuali naungan Allah; (1) Pemimpin (raja) yang adil. (2) Pemuda yang rajin dalam ibadat kepada Allah. (3) Seorang yang selalu gandrung hatinya pada masjid. (4) Dua orang yang kasih sayang karena Allah, baik di waktu berkumpul atau berpisah. (5) Seorang lelaki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan cantik kemudian ia berkata: Saya takut kepada Allah. (6) Seorang bersedekah dengan diam-diam sehingga tangan yang sebelah kanan tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan sebelah kirinya. (7) Seorang yang ingat (berdzikir) pada Allah dengan sendirian, maka mencucurkan air mata. (HR. Bukhari, Muslim)

“Pada hari kiamat Allah akan berfirman: Di manakah orang yang kasih sayeng karena kebesaran-Ku, kini Aku naungi di bawah naungan-Ku, pada saat di mana tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim)


Oleh Abu Tsabita

Maraji’

Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Al-Ukhuwwah al-Islamiyah, takwin as-Syaksyiyah al-Insaniyah
Dr. Abdul Halim Mahmud, Fiqh Al-Ukhuwwah fi Al-Islami
Ust. Husni Adham Jarror, Bercinta dan Bersaudara karena Allah

Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Meraih Nikmatnya Iman

Sabtu, 22 Maret 2014

Adab bergaul

Bissmillah, Assalamu'alaikum……



Pagi yang cerah dan bersemangat tuk hari ini, pada hari ini saya akan menguraikan tentang pergaulan kita sehari-hari di antaranya adalah Tujuh sikap tentang sikap-sikap yang disukai manusia di antaranya :

1.      Manusia suka kepada orang yang memberi perhatian kepada orang lain,
2.      Manusia suka kepada orang yang mau mendengarkan ucapan mereka,
3.      Manusia suka kepada orang yang menjauhi debat kusir,
4.      Manusia suka kepada orang yang memberikan penghargaan dan penghormatan kepada orang lain,
5.      Manusia suka kepada orang yang memberi kesempatan orang lain untuk maju,
6.      Manusia suka kepada orang yang tahu berterima kasih atau suka membalas kebaikan,
7.      Manusia suka kepada orang yang menjaga perasaan orang lain. 

Dan diantara sikap-sikap yang tidak disukai manusia atau lawan dari sikap yang di sukai manusia di atas yaitu antara lain :

1.      Manusia tidak suka diberi nasihat di hadapan orang lain,
2.      Manusia tidak suka diberi nasihat secara langsung,
3.      Manusia tidak suka kepada orang yang selalu memojokkannya dengan kesalahan-kesalahannya,
4.      Manusia tidak suka kepada orang yang tidak pernah melupakan kesalahan orang lain,
5.      Manusia tidak suka kepada orang yang sombong,
6.      Manusia tidak suka kepada orang yang terburu-buru memvonis orang lain,
7.      Manusia tidak suka kepada orang yang mempertahankan kesalahannya, atau orang yang berat untuk merujuk kepada kebenaran setelah dia meyakini kebenaran itu,
8.      Manusia tidak suka kepada orang yang menisbatkan kebaikan kepada dirinya dan menisbatkan kejelekan kepada orang lain.”

Untuk para sahabatku, marilah kita tanamkan persahabatan yang baik dan penuh dengan keberkahan karena persahabatan memiliki hak dan hak persahabatan yang harus dipenuhi seseorang adalah :

a.       Mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, 
b.      Pada saat tertentu lidah tidak boleh berbicara, dan pada saat yang lain berbicara. Yang dimaksud dengan diam ialah tidak menyebutkan aibnya saat sahabatnya ada atau saat dia tidak ada, tidak membantahnya, tidak menanyakan sesuatu yang sahabatnya itu tidak suka mengatakannya, tidak bertanya “Mau kemana?” saat bertemu boleh jadi sahabatnya itu tidak ingin diketahui kemana dia akan pergi (pertanyaan ini sudah sedemikian umum di masyarakat Indonesia tak terkecuali salafiyyin dan salafiyyat. Alangkah baiknya sapaan/pertanyaan ini diganti dengan salam dan menanyakan kabar-ed),
c.       Tidak boleh mengatakan apapun yang tidak disukai, kecuali hal-hal yang memang harus dikatakan karena perkara amar ma’ruf nahi mungkar,
d.      Lidah harus berbicara. Sebagaimana tuntutan persahabatan, yang harus diterapkan pada lidah ialah tidak mengatakan hal-hal yang tidak disukai. Lidah harus mengatakan hal-hal yang disukai. Bahkan, ini bisa dikatakan sebagai ciri khusus persahabatan,
e.       Mendoakan sahabat kita sewaktu hidupnya dan setelah matinya,
f.       Setia dan tulus. Maksud setia ialah tetap mencintai sahabatnya sekalipun sudah meninggal dunia, 
g.       Tidak membebani, tapi justru memberi keringanan. Tidak  membebani temannya dengan hal-hal yang berat dan sulit. Sebaliknya, seseorang harus mendatangkan kegembiraan kepada sahabatnya dengan membebaskannya dari beban dan kebutuhan. Dia juga tidak boleh mengandalkan kedudukan dan harta sahabatnya. Dia harus memenuhi hak-haknya dan tawadhu kepadanya. Tujuan mencintainya hanya kepada Alloh semata, menolong agamanya, bertaqorrub kepada Alloh dengan memenuhi hak-haknya, dan menjaga nama baiknya. Hendaklah dia tidak merasa malu kepada temannya, sebagaimana dia tidak merasa malu kepada dirinya sendiri.


 Ja’far bin Muhammad berkata, “ Sahabat yang paling berat bagiku adalah yang membebaniku dan aku harus mawas diri (senantiasa mema’lumi keadaan dan wataknya-ed) terhadap dirinya, sedangkan yang paling ringan dihatiku adalah jika aku bersama dia, sama saja seperti ketika aku sedang sendirian.” Sebagian orang bijak berkata,” Siapa yang tidak membebani, maka persahabatannya bisa langgeng.”


Semoga bermanfaat bagi kita semua yang menjalin persahabatan…..

Salam kenal, ahzaelkhair.blogspot.com


Berlatih Itsar, Berbagi & Mengalah





 Berlatih Itsar, Berbagi  & Mengalah







 bissmillah......






Makna Itsar

Secara bahasa itsar berarti mementingkan orang lain lebih dari diri sendiri.
Dari segi  fitrah setiap manusia yang masih terjaga fitrah kemanusiaannya juga dapat berbuat mulia, mementingkan orang lain dan bukan diri sendiri serta menolong orang lain tanpa memikirkan diri sendiri.

     Coba kita simak salah satu riwayat berikut ini. Pada malam hari cuaca dingin menyelimuti kota Madinah. Seorang wanita dari kaum anshar menjahit jaket dari kain bludru kemudian datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ia memberikan jaket tadi kepadanya. Maka Rasulullah menerima pemberiaan seorang wanita tadi, kemudian memakainya. Karena memang membutuhkan disaat musim dingin itu. Kemudian ketika dipakainya pertama kali keluar menemui sahabat-sahabatnya, maka salah seorang dari kaum anshar melihatnya dan berkata” alangkah bagusnya jaket yang engkau pakai wahai Rasulullah. Kalau boleh aku akan memintanya untuk diriku.” Maka Rasul berkata “ iya “ kemudian melepasnya seketika itu juga dan memberikan kepada orang tersebut. (para sahabat melihat apa yang dilakukan oleh seorang anshar tadi mereka berkata) “apa yang dilakukan oleh orang ini? Bukankan Rasulullah sangat membutuhkan jaket itu??.)”( HR.Imam Ahmad: 5/333 )

Dari segi  istilah, Itsar adalah Mendahulukan kepentingan saudara seiman dalam hal-hal keduniaan dengan harapan mendapatkan ganti kenikmatan di akherat.
Itsar merupakan akhlak yang sudah hampir punah. Kita tidak melihatnya lagi dalam masyarakat muslim saat ini. Dan sangat sedikit orang  yang memperhatikan dan mengamalkanya.  Allah mengukir sifat baik ini dalam Al-Qur’an,

(ويؤثرون على أنفسهم ولوكان بهم خصاصة : الحشر: 9)
Dan mereka Itsar (mementingkan orang2 muhajirin) terhadap dirinya meskipun mereka juga memerlukan”



 Urgensi dan keutamaan Itsar

Dalam Quran Surat  9:128 digambarkan sifat-sifat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. yang mudah berempati pada penderitaan orang lain, senantiasa menginginkan kebaikan bagi orang lain dan santun serta pengasih dan penyayang terhadap sesama mukmin.

Kehidupan di dunia yang jauh dari sifat-sifat mulia akan dipenuhi keserakahan dan keegoisan, nafsi-nafsi, lu-lu, gua-gua. Semuanya mementingkan diri dan keluarganya saja termasuk para pemimpinnya yang mengidap penyakit yang kronik. Kehidupan yang individualistik (nafsi-nafsi) egois (mementingkan diri sendiri) dan apatik (masa bodoh terhadap orang lain) adalah cerminan masyarakat yang tidak menegakkan ukhuwah Islamiyah.

Rasulullah mengatakan bukan dari golongan kami orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan.  Begitu pula di  hadits lain “Bukan golongan kami orang yang tidak peduli pada urusan orang Islam”

Jadi sifat itsar sangat penting untuk memerangi sifat-sifat buruk seperti egois, kikir, individualis dsb serta menumbuh suburkan sifat-sifat mulia seperti prihatin, empati (kemampuan memahami orang lain, seolah kita menjadi  drinya), pemurah dll.

Keutamaan orang yang berbuat itsar di dunia ia akan dicintai oleh orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya dan mempererat ukhuwah serta di akhirat nanti akan mendapatkan mimbar terbuat dari cahaya, naungan dan lindungan Allah Taala serta Al-Jannah (surga)

 Itsar generasi salafus shalih

Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” Dan beliau dengan pujian Allah Taala dalam Quran Surat  9:128 yang sudah dicantumkan di bagian terdahulu tulisan ini menggambarkan sosok beliau yang mudah berempati, peka dan peduli terhadap penderitaan orang lain. Kemudian selalu menginginkan kebaikan bagi orang lain dan bersifat santun serta kasih sayang terhadap mukmin.

Bukti kemampuan berempati beliau, terlihat saat beliau segera  tahu bahwa Abu Hurairah kelaparan tanpa harus diberitahu, padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar pun tak bisa menangkap isyarat-isyarat  Abu  Hurairah butuh bantuan.

Beliau tidak pernah menolak siapa saja yang minta bantuan dan pertolongan beliau padahal beliau sendiri sering kelaparan seperti nampak pada kisah beliau, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma  sama-sama lapar dan dijamu makan oleh Abu Ayyub Al Anshari. Beliau menitiskan air mata kemudian berucap, “Kelak kalian akan ditanya akan nikmat ini, ketika kalian pergi dari rumah dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”

Beliau hidup sangat sederhana dan tidur di atas tikar jerami sampai Umar menangis melihatnya dan Fatimah kelak bersyair di tepi kuburan bapaknya, “Ya ayah handaku punggungnya penuh dengan birat-birat tikar”. Tetapi beliau tidak mahu tikarnya itu dilipat terlalu banyak di bagian atasnya sebagai bantal kerana takut tidurnya terlalu nyenyak bila terlalu empuk, sehingga khawatir tidak bisa bangun shalat malam.

Rasulullah juga menegaskan bahwa dunia bukan dari dan untuk keluarga Muhammad di saat Fatimah mendapat perhiasan, bagian dari rampasan perang hingga akhirnya putrinya mengembalikannya. Ia juga menasihati  Fatimah dan Ali dengan bacaan-bacaan dzikir pada saat mereka minta khadimah dari tawanan perang. Rasulullah juga menghukum keras istri-istrinya yang meminta penghidupan (maisah) yang lebih dan perhiasan dengan cara mengasingkan diri selama sebulan hingga akhirnya Allah menawarkan pilihan dalam wahyu-Nya di surat At Tahrim. Apakah istri-istri nabi tersebut memilih nabi dan kehidupan akhirat ataukah dunia. Tentu saja mereka memilih Rasulullah dan surga kelak walaupun kini hidup prihatin di dunia. Terlihat betapa Rasulullah lebih mementingkan yang lain ketimbang diri dan keluarganya kerana pada saat yang bersamaan beliau ridha saja para sahabat dan istri-istrinya hidup berkecukupan dan memakai perhiasan hasil rampasan perang  serta memiliki khadimah.

Bahkan sampai di saat-saat terakhir kehidupannya pun beliau tetap memikirkan umatnya dan bukan dirinya dan keluarganya sehingga ia tidak mewariskan apa-apa bagi keluarganya. Ucapan yang keluar dari mulut beliau di akhir kehidupannya adalah, “Ummati….Ummati….” (Umatku…Umatku…)

Keteladanan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  dalam hal tersebut ternyata membias pula pada sahabat-sahabat yang utama seperti     Abu Bakar, Abu Thalhah atau istri-istri beliau seperti Khadijah, Aisyah dan Zainab binti Jahsy serta Saudah binti Zum’ah.

Suatu saat ketika terjadi pengumpulan dana untuk berjihad fisabilillah semua sahabat berlomba-lomba untuk menginfaqkan segala yang dimilikinya.Termasuk sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Umar, “Begitu banyak yang engkau infaqkan Umar, adakah yang tersisa untuk keluargamu?” Umar pun lalu menjawab, “Sebanyak itu pula ya Rasulullah”. Jadi istilahnya fifty-fifty, atau separuh-separuh. Jawaban seperti itu pun meluncur pula dari lidah Utsman ketika ditanya juga oleh Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. Namun tatkala pertanyaan tersebut diajukan kepada Abu Bakar As shidiq radhiyallahu ‘anhu, jawabannya sungguh mencengangkan dan menimbulkan decak kagum.

“Untuk keluargaku kutinggalkan Allah dan Rasulnya” Artinya keseluruhannya (100%) diinfaqkannya di jalan Allah, sedangkan urusan keluarganya ia pasrahkan kepada Allah. Umar sampai berucap, “Sungguh aku tak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya”

Begitu pula, pada saat Abu Bakar pergi hijrah mendampingi Rasulullah. Dananya dihabiskan untuk membiayai kepergiannya hijrah bersama Rasulullah. Namun istri dan putri-putrinya memang luar biasa pula. Ketika kakek Asma atau ayah Abu Bakar yakni Abu Quhafah marah-marah kepada Abu Bakar yang dianggapnya tidak bertanggung jawab meninggalkan keluarganya begitu saja, maka Asma menenangkan kakeknya yang buta itu dengan memperdengarkan bunyi kerikil-kerikil seolah itu kepingan dirham yang banyak. “Tenang saja kek, ayah tidak menyia-nyiakan kami”, ujar Asma. Barulah Abu Quhafah menjadi tenang.

Ada lagi kisah itsar yang sangat indah dan diabadikan oleh Allah dalam QS Al-Hasyr ayat 8 dan 9. Dalam terjemah singkat tafsir Ibnu Katsier jilid 8 diungkap tentang itsar yang ditunjukkan orang-orang  Anshar terhadap saudara-saudara mereka kaum muhajirin (QS 59:8)

  Muhajirin adalah orang-orang yang hijrah bersama nabi dari mekkah ke Madinah  yang mana mata pencaharian mereka rata-rata adalah pedagang.
 Sedangkan Anshar adalah penduduk asli Madinah yang mempunyai profesi bercocok tanam dan bertani. Mereka telah dipersaudarakan oleh Rasul dengan ikatan iman sehingga persahabatan mereka sangat kokoh laksana saudara kandungnya sendiri atau bahkan lebih.
Orang-orang anshar mengolah tanahnya setahun penuh kemudian ketika datang masa panen mereka pergi kerumah temanya orang muhajirin sebelum kerumah mereka dan berkata, “ ambillah sesukamu akan saya tinggal sebentar (agar tidak malu mengambil) .”
Mereka juga saling berebut untuk menjamu dan menempatkan saudaranya kaum muhajirin ketika mereka datang ke Madinah.

Yang  lebih menarik  adalah apa yang dilakukan oleh Sa’id bin Rabi’ dari kaum Anshar kepada Abdurrahman Auf dari kaum Muhajirin.  Ketika Abdurrahman bin Auf sampai di Madinah maka Sa’id berkata kepadanya,” wahai saudaraku ini adalah hartaku semua yang telah saya kumpulkan. Hari ini saya akan membaginya untuk diriku dan dirimu separoh-separoh, saya juga punya tanah seluas sekian, maka akan saya bagi dua denganmu. Ini rumahku akan saya berikan juga  separoh untukmu.Dan saya menikahi dua gadis maka kamu boleh melihatnya kemudian yang kamu sukai akan saya tolak. Lalu setalah selesai masa iddahnya boleh kamu nikahi.” Mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya tadi  Abdurrahman bin Auf berkata “ Terimakasih semoga Allah membalas kebaikanmu. Tunjukkan saja kepadaku dimana pasar!!”
Subhanallah....!Sebuah sikap itsar yang luar biasa dan sungguh mengagumkan. Membuat seseorang seperti berhayal. Akan tetapi itsar tersebut dibalas dengan Iffah. ia hanya meminta untuk di tunjukkan pasar. Kemudian disanalah ia memulai karirnya untuk berdagang. Tidak lama kemudian, Ia menjadi orang yang sukses. Mempunyai harta yang berlimpah yang selalu ia gunakan untuk kepentingan dakwah.

Dalam hadits riwayat muslim dari Abu Hurairah, sepasang suami istri yang memenuhi perintah Rasulullah untuk memberi makan musafir yang kelaparan itu adalah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim/ Rumaisha binti Milhan. Mereka sendiri malam itu segera menidurkan anak-anak mereka yang lapar dan berpura-pura makan agar tamu mereka makan dengan tenang. Padahal yang sedang disantap oleh tamu mereka itu adalah satu porsi terakhir yang mereka miliki hari itu.

Di ayat 9 tersebut Allah menegaskan   (ويؤثرون على أنفسهم ولوكان بهم خصاصة : الحشر: 9)
Dan mereka Itsar (mementingkan orang2 muhajirin) terhadap dirinya meskipun mereka juga memerlukan”
Ketika keesokan hari Rasulullah berjumpa dengan Abu Thalhah, beliau bersabda, “Sungguh Allah sangat gembira (tersenyum) menyaksikan perbuatan Anda berdua”

Hampir kesemua istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam    menunjukkan sifat pemurah dan itsarnya. Istri pertama yang paling dicintainya, dan tak pernah dapat dilupakannya: Khadijah menunjukkan itsar saat Rasulullah meminta pembantu Kahdijah: Zaid bin Haritsah untuk menjadi pembantunya. Beliau juga menginfaqkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan fisabilillah menyebarkan agama Islam.

Istri Rasulullah seperti Zainab binti Jahsy yang pandai berwiraniaga juga terkenal dermawan dan suka membantu orang lain. Saudah bunti Zum’ah istri Rasulullah yang walaupun hanya berjualan roti kuah ala Thaif pun ikut berinfaq dengan hasil dagangannya.

Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha  yang terkenal kepandaiannya sekaligus juga kedermawanannya pernah mendapat uang 40.000 dirham dari baitul mal. Oleh Aisyah harta itu segera di bagi-bagikan kepada fakir miskin sampai-sampai lupa menyisihkan sedikit saja untuk dirinya. Sampai ditegur Ummu Burdah yang membantunya, “Ya Ummul mukminin kenapa tidak engkau  sisihkan sedikit saja untuk membeli makanan berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa,” “Ya Ummu Burdah, kenapa tadi tak kau ingatkan”, jawab Aisyah tenang.

Kisah itsar yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk.
   Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke teman di sebelahnya. Ketika air itu akan diberikan kesebelahnya, orang tersebut juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah, ternyata ia sudah syahid juga. Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat kritis sekalipun mereka tetap menjaga itsar mereka.


Pengaruh  praktik Itsar

1. Mendapat keberkahan dan balasan yang lebih baik dari Allah.
Harta yang berkah bukan harta yang banyak jumlahnya, bisa jadi seseorang mempunyai harta yang banyak akan tetapi Allah swt. mencabut keberkahanya. Dalam Al-Qur’an maupun Hadist telah dijelaskan, bahwa harta yang selalu kita sedekahkan kepada orang lain akan menjadi berkah bagi pelakunya dan akan mendapat ganti yang lebih baik di dunia ataupun di akherat.

2. Menyembuhkan penyakit hati.

Dengan selalu mempraktekkan itsar maka seseorang akan menjadi semakin dermawan dan akan mengeluarkan perasaan dengki, hasad dan iri hati. Karena ia lebih memilih kenikmatan ukhrawi daripada kenikmatan duniawi. Dia tidak akan merasa iri apabila ada orang lain mempunyai kelebihan dalam hal materi. Tidak akan mendengki orang lain ketika Allah memberikanya kenikmatan dunia. Karena dunia dalam pandangan matanya sangat remeh. Akheratlah yang menjadi tujuan utamanya.

3. Mendapatkan kebahagiaan dan ketengan batin.

Seseorang akan merasa senang lewat senyumnya orang lain dengan itsar yang dilakukan kepadanya.
Ia akan merasa bahagia melihat orang lain yang tadinya sedih kemudian menjadi bunggah hatinya berkat itsar kita. Kita akan merasakan ketenangan batin ketika anak-anak, istri atau orang tua kita bisa tidur terlelap sehabis menikmati makanan yang kita usahakan dan kita itsarkan kepada mereka meskipun kita sendiri tidur dalam keadaan lapar.



Semoga bermanfaat untuk saya dan kalian..

   Salam, ahzaelkhair.blogspot.com