Berlatih Itsar, Berbagi & Mengalah
bissmillah......
Makna
Itsar
Secara
bahasa itsar berarti mementingkan orang lain lebih dari diri sendiri.
Dari
segi fitrah setiap manusia yang masih terjaga
fitrah kemanusiaannya juga dapat berbuat mulia, mementingkan orang lain dan
bukan diri sendiri serta menolong orang lain tanpa memikirkan diri sendiri.
Coba kita simak salah satu riwayat berikut ini. Pada malam hari cuaca
dingin menyelimuti kota Madinah. Seorang wanita dari kaum anshar menjahit jaket
dari kain bludru kemudian datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ia
memberikan jaket tadi kepadanya. Maka Rasulullah menerima pemberiaan seorang
wanita tadi, kemudian memakainya. Karena memang membutuhkan disaat musim dingin
itu. Kemudian ketika dipakainya pertama kali keluar menemui sahabat-sahabatnya,
maka salah seorang dari kaum anshar melihatnya dan berkata” alangkah bagusnya
jaket yang engkau pakai wahai Rasulullah. Kalau boleh aku akan memintanya untuk
diriku.” Maka Rasul berkata “ iya “ kemudian melepasnya seketika itu juga dan
memberikan kepada orang tersebut. (para sahabat melihat apa yang dilakukan oleh
seorang anshar tadi mereka berkata) “apa yang dilakukan oleh orang ini?
Bukankan Rasulullah sangat membutuhkan jaket itu??.)”( HR.Imam Ahmad: 5/333 )
Dari
segi istilah, Itsar adalah Mendahulukan kepentingan
saudara seiman dalam hal-hal keduniaan dengan harapan mendapatkan ganti
kenikmatan di akherat.
Itsar
merupakan akhlak yang sudah hampir punah. Kita tidak melihatnya lagi dalam
masyarakat muslim saat ini. Dan sangat sedikit orang yang memperhatikan dan mengamalkanya. Allah mengukir sifat baik ini dalam Al-Qur’an,
(ويؤثرون على أنفسهم ولوكان بهم خصاصة :
الحشر: 9)
“Dan mereka Itsar (mementingkan orang2 muhajirin) terhadap dirinya
meskipun mereka juga memerlukan”
Urgensi dan keutamaan Itsar
Dalam
Quran
Surat 9:128 digambarkan sifat-sifat Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam.
yang mudah berempati pada penderitaan orang lain, senantiasa menginginkan
kebaikan bagi orang lain dan santun serta pengasih dan penyayang terhadap
sesama mukmin.
Kehidupan
di dunia yang jauh dari sifat-sifat mulia akan dipenuhi keserakahan dan
keegoisan, nafsi-nafsi, lu-lu, gua-gua. Semuanya mementingkan diri dan
keluarganya saja termasuk para pemimpinnya yang mengidap penyakit yang kronik.
Kehidupan yang individualistik (nafsi-nafsi) egois (mementingkan diri sendiri)
dan apatik (masa bodoh terhadap orang lain) adalah cerminan masyarakat yang
tidak menegakkan ukhuwah Islamiyah.
Rasulullah
mengatakan bukan dari golongan kami orang yang tidur dalam keadaan kenyang
sementara tetangganya kelaparan. Begitu pula di hadits lain “Bukan golongan kami orang yang
tidak peduli pada urusan orang Islam”
Jadi
sifat itsar sangat penting untuk memerangi sifat-sifat buruk seperti egois,
kikir, individualis dsb serta menumbuh suburkan sifat-sifat mulia seperti
prihatin, empati (kemampuan memahami orang lain, seolah kita
menjadi drinya), pemurah dll.
Keutamaan
orang yang berbuat itsar di dunia ia akan dicintai oleh orang-orang yang pernah
merasakan kebaikannya dan mempererat ukhuwah serta di akhirat nanti akan
mendapatkan mimbar terbuat dari cahaya, naungan dan lindungan Allah Taala serta
Al-Jannah (surga)
Itsar generasi salafus shalih
Rasulullah
pernah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq
manusia.” Dan beliau dengan pujian Allah Ta’ala dalam Quran Surat 9:128 yang sudah dicantumkan di bagian
terdahulu tulisan ini menggambarkan sosok beliau yang mudah berempati, peka dan
peduli terhadap penderitaan orang lain. Kemudian selalu menginginkan kebaikan
bagi orang lain dan bersifat santun serta kasih sayang terhadap mukmin.
Bukti
kemampuan berempati beliau, terlihat saat beliau segera tahu bahwa Abu Hurairah kelaparan tanpa harus
diberitahu, padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar pun tak bisa menangkap
isyarat-isyarat Abu Hurairah butuh bantuan.
Beliau
tidak pernah menolak siapa saja yang minta bantuan dan pertolongan beliau
padahal beliau sendiri sering kelaparan seperti nampak pada kisah beliau, Abu
Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma sama-sama lapar dan dijamu makan oleh Abu
Ayyub Al Anshari. Beliau menitiskan air mata kemudian berucap, “Kelak kalian
akan ditanya akan nikmat ini, ketika kalian pergi dari rumah dalam keadaan
lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”
Beliau
hidup sangat sederhana dan tidur di atas tikar jerami sampai Umar menangis
melihatnya dan Fatimah kelak bersyair di tepi kuburan bapaknya, “Ya ayah handaku
punggungnya penuh dengan birat-birat tikar”. Tetapi beliau tidak mahu tikarnya
itu dilipat terlalu banyak di bagian atasnya sebagai bantal kerana takut
tidurnya terlalu nyenyak bila terlalu empuk, sehingga khawatir tidak bisa
bangun shalat malam.
Rasulullah
juga menegaskan bahwa dunia bukan dari dan untuk keluarga Muhammad di saat
Fatimah mendapat perhiasan, bagian dari rampasan perang hingga akhirnya
putrinya mengembalikannya. Ia juga menasihati Fatimah dan Ali dengan bacaan-bacaan dzikir
pada saat mereka minta khadimah dari tawanan perang. Rasulullah juga menghukum
keras istri-istrinya yang meminta penghidupan (maisah) yang lebih dan perhiasan
dengan cara mengasingkan diri selama sebulan hingga akhirnya Allah menawarkan
pilihan dalam wahyu-Nya di surat At Tahrim. Apakah istri-istri nabi tersebut
memilih nabi dan kehidupan akhirat ataukah dunia. Tentu saja mereka memilih
Rasulullah dan surga kelak walaupun kini hidup prihatin di dunia. Terlihat
betapa Rasulullah lebih mementingkan yang lain ketimbang diri dan keluarganya
kerana pada saat yang bersamaan beliau ridha saja para sahabat dan
istri-istrinya hidup berkecukupan dan memakai perhiasan hasil rampasan perang serta memiliki khadimah.
Bahkan
sampai di saat-saat terakhir kehidupannya pun beliau tetap memikirkan umatnya
dan bukan dirinya dan keluarganya sehingga ia tidak mewariskan apa-apa bagi
keluarganya. Ucapan yang keluar dari mulut beliau di akhir kehidupannya adalah,
“Ummati….Ummati….” (Umatku…Umatku…)
Keteladanan
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal tersebut ternyata membias pula pada
sahabat-sahabat yang utama seperti Abu
Bakar, Abu Thalhah atau istri-istri beliau seperti Khadijah, Aisyah dan Zainab
binti Jahsy serta Saudah binti Zum’ah.
Suatu
saat ketika terjadi pengumpulan dana untuk berjihad fisabilillah semua sahabat
berlomba-lomba untuk menginfaqkan segala yang dimilikinya.Termasuk
sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian Rasulullah
bertanya kepada Umar, “Begitu banyak yang engkau infaqkan Umar, adakah yang
tersisa untuk keluargamu?” Umar pun lalu menjawab, “Sebanyak itu pula ya
Rasulullah”. Jadi istilahnya fifty-fifty, atau separuh-separuh. Jawaban seperti
itu pun meluncur pula dari lidah Utsman ketika ditanya juga oleh Rasulullah
dengan pertanyaan yang sama. Namun tatkala pertanyaan tersebut diajukan kepada
Abu Bakar As shidiq radhiyallahu ‘anhu, jawabannya sungguh mencengangkan dan menimbulkan
decak kagum.
“Untuk
keluargaku kutinggalkan Allah dan Rasulnya” Artinya keseluruhannya (100%)
diinfaqkannya di jalan Allah, sedangkan urusan keluarganya ia pasrahkan kepada
Allah. Umar sampai berucap, “Sungguh aku tak akan bisa mengalahkan Abu Bakar
selama-lamanya”
Begitu
pula, pada saat Abu Bakar pergi hijrah mendampingi Rasulullah. Dananya
dihabiskan untuk membiayai kepergiannya hijrah bersama Rasulullah. Namun istri
dan putri-putrinya memang luar biasa pula. Ketika kakek Asma atau ayah Abu
Bakar yakni Abu Quhafah marah-marah kepada Abu Bakar yang dianggapnya tidak
bertanggung jawab meninggalkan keluarganya begitu saja, maka Asma menenangkan
kakeknya yang buta itu dengan memperdengarkan bunyi kerikil-kerikil seolah itu
kepingan dirham yang banyak. “Tenang saja kek, ayah tidak menyia-nyiakan kami”,
ujar Asma. Barulah Abu Quhafah menjadi tenang.
Ada
lagi kisah itsar yang sangat indah dan diabadikan oleh Allah dalam QS Al-Hasyr
ayat 8 dan 9. Dalam terjemah singkat tafsir Ibnu Katsier jilid 8 diungkap
tentang itsar yang ditunjukkan orang-orang Anshar terhadap saudara-saudara mereka kaum
muhajirin (QS 59:8)
Muhajirin adalah orang-orang yang hijrah
bersama nabi dari mekkah ke Madinah yang
mana mata pencaharian mereka rata-rata adalah pedagang.
Sedangkan Anshar adalah penduduk asli Madinah
yang mempunyai profesi bercocok tanam dan bertani. Mereka telah dipersaudarakan
oleh Rasul dengan ikatan iman sehingga persahabatan mereka sangat kokoh laksana
saudara kandungnya sendiri atau bahkan lebih.
Orang-orang
anshar mengolah tanahnya setahun penuh kemudian ketika datang masa panen mereka
pergi kerumah temanya orang muhajirin sebelum kerumah mereka dan berkata, “
ambillah sesukamu akan saya tinggal sebentar (agar tidak malu mengambil) .”
Mereka
juga saling berebut untuk menjamu dan menempatkan saudaranya kaum muhajirin
ketika mereka datang ke Madinah.
Yang
lebih menarik adalah apa yang dilakukan oleh Sa’id bin
Rabi’ dari kaum Anshar kepada Abdurrahman Auf dari kaum Muhajirin. Ketika Abdurrahman bin Auf sampai di Madinah
maka Sa’id berkata kepadanya,” wahai saudaraku ini adalah hartaku semua yang
telah saya kumpulkan. Hari ini saya akan membaginya untuk diriku dan dirimu
separoh-separoh, saya juga punya tanah seluas sekian, maka akan saya bagi dua
denganmu. Ini rumahku akan saya berikan juga
separoh untukmu.Dan saya menikahi dua gadis maka kamu boleh melihatnya
kemudian yang kamu sukai akan saya tolak. Lalu setalah selesai masa iddahnya
boleh kamu nikahi.” Mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya tadi Abdurrahman bin Auf berkata “ Terimakasih
semoga Allah membalas kebaikanmu. Tunjukkan saja kepadaku dimana pasar!!”
Subhanallah....!Sebuah
sikap itsar yang luar biasa dan sungguh mengagumkan. Membuat seseorang seperti
berhayal. Akan tetapi itsar tersebut dibalas dengan Iffah. ia hanya meminta
untuk di tunjukkan pasar. Kemudian disanalah ia memulai karirnya untuk
berdagang. Tidak lama kemudian, Ia menjadi orang yang sukses. Mempunyai harta
yang berlimpah yang selalu ia gunakan untuk kepentingan dakwah.
Dalam
hadits riwayat muslim dari Abu Hurairah, sepasang suami istri yang memenuhi
perintah Rasulullah untuk memberi makan musafir yang kelaparan itu adalah Abu
Thalhah dan Ummu Sulaim/ Rumaisha binti Milhan. Mereka sendiri malam itu segera
menidurkan anak-anak mereka yang lapar dan berpura-pura makan agar tamu mereka
makan dengan tenang. Padahal yang sedang disantap oleh tamu mereka itu adalah
satu porsi terakhir yang mereka
miliki hari itu.
Di
ayat 9 tersebut Allah menegaskan (ويؤثرون على أنفسهم ولوكان بهم خصاصة :
الحشر: 9)
“Dan mereka Itsar (mementingkan orang2 muhajirin) terhadap dirinya
meskipun mereka juga memerlukan”
Ketika
keesokan hari Rasulullah berjumpa dengan Abu Thalhah, beliau bersabda, “Sungguh
Allah sangat gembira (tersenyum) menyaksikan perbuatan Anda berdua”
Hampir
kesemua istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan sifat pemurah dan itsarnya. Istri
pertama yang paling dicintainya, dan tak pernah dapat dilupakannya: Khadijah
menunjukkan itsar saat Rasulullah meminta pembantu Kahdijah: Zaid bin Haritsah
untuk menjadi pembantunya. Beliau juga menginfaqkan seluruh harta kekayaannya untuk
perjuangan fisabilillah menyebarkan agama Islam.
Istri
Rasulullah seperti Zainab binti Jahsy yang pandai berwiraniaga juga terkenal
dermawan dan suka membantu orang lain. Saudah bunti Zum’ah istri Rasulullah
yang walaupun hanya berjualan roti kuah ala Thaif pun ikut berinfaq dengan
hasil dagangannya.
Ummul
mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha yang terkenal kepandaiannya sekaligus juga
kedermawanannya pernah mendapat uang 40.000 dirham dari baitul mal. Oleh Aisyah
harta itu segera di bagi-bagikan kepada fakir miskin sampai-sampai lupa
menyisihkan sedikit saja untuk dirinya. Sampai ditegur Ummu Burdah yang
membantunya, “Ya Ummul mukminin kenapa tidak engkau sisihkan sedikit saja untuk membeli makanan
berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa,” “Ya Ummu Burdah, kenapa tadi tak kau
ingatkan”, jawab Aisyah tenang.
Kisah
itsar yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk.
Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang
sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke
teman di sebelahnya. Ketika air itu akan diberikan kesebelahnya, orang tersebut
juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada
saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah
meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah,
ternyata ia sudah syahid juga. Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah
syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat
kritis sekalipun mereka tetap menjaga itsar mereka.
Pengaruh praktik Itsar
1.
Mendapat keberkahan dan balasan yang lebih baik dari Allah.
Harta
yang berkah bukan harta yang banyak jumlahnya, bisa jadi seseorang mempunyai
harta yang banyak akan tetapi Allah swt. mencabut keberkahanya. Dalam Al-Qur’an
maupun Hadist telah dijelaskan, bahwa harta yang selalu kita sedekahkan kepada
orang lain akan menjadi berkah bagi pelakunya dan akan mendapat ganti yang
lebih baik di dunia ataupun di akherat.
2.
Menyembuhkan penyakit hati.
Dengan
selalu mempraktekkan itsar maka seseorang akan menjadi semakin dermawan dan
akan mengeluarkan perasaan dengki, hasad dan iri hati. Karena ia lebih memilih
kenikmatan ukhrawi daripada kenikmatan duniawi. Dia tidak akan merasa iri
apabila ada orang lain mempunyai kelebihan dalam hal materi. Tidak akan
mendengki orang lain ketika Allah memberikanya kenikmatan dunia. Karena dunia
dalam pandangan matanya sangat remeh. Akheratlah yang menjadi tujuan utamanya.
3.
Mendapatkan kebahagiaan dan ketengan batin.
Seseorang
akan merasa senang lewat senyumnya orang lain dengan itsar yang dilakukan
kepadanya.
Ia
akan merasa bahagia melihat orang lain yang tadinya sedih kemudian menjadi
bunggah hatinya berkat itsar kita. Kita akan merasakan ketenangan batin ketika
anak-anak, istri atau orang tua kita bisa tidur terlelap sehabis menikmati
makanan yang kita usahakan dan kita itsarkan kepada mereka meskipun kita
sendiri tidur dalam keadaan lapar.
Semoga bermanfaat untuk saya dan kalian..
Salam, ahzaelkhair.blogspot.com


0 komentar:
Posting Komentar