assalamu'alaikum.....

Blogger news


Sabtu, 22 Maret 2014

Berlatih Itsar, Berbagi & Mengalah





 Berlatih Itsar, Berbagi  & Mengalah







 bissmillah......






Makna Itsar

Secara bahasa itsar berarti mementingkan orang lain lebih dari diri sendiri.
Dari segi  fitrah setiap manusia yang masih terjaga fitrah kemanusiaannya juga dapat berbuat mulia, mementingkan orang lain dan bukan diri sendiri serta menolong orang lain tanpa memikirkan diri sendiri.

     Coba kita simak salah satu riwayat berikut ini. Pada malam hari cuaca dingin menyelimuti kota Madinah. Seorang wanita dari kaum anshar menjahit jaket dari kain bludru kemudian datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ia memberikan jaket tadi kepadanya. Maka Rasulullah menerima pemberiaan seorang wanita tadi, kemudian memakainya. Karena memang membutuhkan disaat musim dingin itu. Kemudian ketika dipakainya pertama kali keluar menemui sahabat-sahabatnya, maka salah seorang dari kaum anshar melihatnya dan berkata” alangkah bagusnya jaket yang engkau pakai wahai Rasulullah. Kalau boleh aku akan memintanya untuk diriku.” Maka Rasul berkata “ iya “ kemudian melepasnya seketika itu juga dan memberikan kepada orang tersebut. (para sahabat melihat apa yang dilakukan oleh seorang anshar tadi mereka berkata) “apa yang dilakukan oleh orang ini? Bukankan Rasulullah sangat membutuhkan jaket itu??.)”( HR.Imam Ahmad: 5/333 )

Dari segi  istilah, Itsar adalah Mendahulukan kepentingan saudara seiman dalam hal-hal keduniaan dengan harapan mendapatkan ganti kenikmatan di akherat.
Itsar merupakan akhlak yang sudah hampir punah. Kita tidak melihatnya lagi dalam masyarakat muslim saat ini. Dan sangat sedikit orang  yang memperhatikan dan mengamalkanya.  Allah mengukir sifat baik ini dalam Al-Qur’an,

(ويؤثرون على أنفسهم ولوكان بهم خصاصة : الحشر: 9)
Dan mereka Itsar (mementingkan orang2 muhajirin) terhadap dirinya meskipun mereka juga memerlukan”



 Urgensi dan keutamaan Itsar

Dalam Quran Surat  9:128 digambarkan sifat-sifat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. yang mudah berempati pada penderitaan orang lain, senantiasa menginginkan kebaikan bagi orang lain dan santun serta pengasih dan penyayang terhadap sesama mukmin.

Kehidupan di dunia yang jauh dari sifat-sifat mulia akan dipenuhi keserakahan dan keegoisan, nafsi-nafsi, lu-lu, gua-gua. Semuanya mementingkan diri dan keluarganya saja termasuk para pemimpinnya yang mengidap penyakit yang kronik. Kehidupan yang individualistik (nafsi-nafsi) egois (mementingkan diri sendiri) dan apatik (masa bodoh terhadap orang lain) adalah cerminan masyarakat yang tidak menegakkan ukhuwah Islamiyah.

Rasulullah mengatakan bukan dari golongan kami orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan.  Begitu pula di  hadits lain “Bukan golongan kami orang yang tidak peduli pada urusan orang Islam”

Jadi sifat itsar sangat penting untuk memerangi sifat-sifat buruk seperti egois, kikir, individualis dsb serta menumbuh suburkan sifat-sifat mulia seperti prihatin, empati (kemampuan memahami orang lain, seolah kita menjadi  drinya), pemurah dll.

Keutamaan orang yang berbuat itsar di dunia ia akan dicintai oleh orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya dan mempererat ukhuwah serta di akhirat nanti akan mendapatkan mimbar terbuat dari cahaya, naungan dan lindungan Allah Taala serta Al-Jannah (surga)

 Itsar generasi salafus shalih

Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” Dan beliau dengan pujian Allah Taala dalam Quran Surat  9:128 yang sudah dicantumkan di bagian terdahulu tulisan ini menggambarkan sosok beliau yang mudah berempati, peka dan peduli terhadap penderitaan orang lain. Kemudian selalu menginginkan kebaikan bagi orang lain dan bersifat santun serta kasih sayang terhadap mukmin.

Bukti kemampuan berempati beliau, terlihat saat beliau segera  tahu bahwa Abu Hurairah kelaparan tanpa harus diberitahu, padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar pun tak bisa menangkap isyarat-isyarat  Abu  Hurairah butuh bantuan.

Beliau tidak pernah menolak siapa saja yang minta bantuan dan pertolongan beliau padahal beliau sendiri sering kelaparan seperti nampak pada kisah beliau, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma  sama-sama lapar dan dijamu makan oleh Abu Ayyub Al Anshari. Beliau menitiskan air mata kemudian berucap, “Kelak kalian akan ditanya akan nikmat ini, ketika kalian pergi dari rumah dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”

Beliau hidup sangat sederhana dan tidur di atas tikar jerami sampai Umar menangis melihatnya dan Fatimah kelak bersyair di tepi kuburan bapaknya, “Ya ayah handaku punggungnya penuh dengan birat-birat tikar”. Tetapi beliau tidak mahu tikarnya itu dilipat terlalu banyak di bagian atasnya sebagai bantal kerana takut tidurnya terlalu nyenyak bila terlalu empuk, sehingga khawatir tidak bisa bangun shalat malam.

Rasulullah juga menegaskan bahwa dunia bukan dari dan untuk keluarga Muhammad di saat Fatimah mendapat perhiasan, bagian dari rampasan perang hingga akhirnya putrinya mengembalikannya. Ia juga menasihati  Fatimah dan Ali dengan bacaan-bacaan dzikir pada saat mereka minta khadimah dari tawanan perang. Rasulullah juga menghukum keras istri-istrinya yang meminta penghidupan (maisah) yang lebih dan perhiasan dengan cara mengasingkan diri selama sebulan hingga akhirnya Allah menawarkan pilihan dalam wahyu-Nya di surat At Tahrim. Apakah istri-istri nabi tersebut memilih nabi dan kehidupan akhirat ataukah dunia. Tentu saja mereka memilih Rasulullah dan surga kelak walaupun kini hidup prihatin di dunia. Terlihat betapa Rasulullah lebih mementingkan yang lain ketimbang diri dan keluarganya kerana pada saat yang bersamaan beliau ridha saja para sahabat dan istri-istrinya hidup berkecukupan dan memakai perhiasan hasil rampasan perang  serta memiliki khadimah.

Bahkan sampai di saat-saat terakhir kehidupannya pun beliau tetap memikirkan umatnya dan bukan dirinya dan keluarganya sehingga ia tidak mewariskan apa-apa bagi keluarganya. Ucapan yang keluar dari mulut beliau di akhir kehidupannya adalah, “Ummati….Ummati….” (Umatku…Umatku…)

Keteladanan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  dalam hal tersebut ternyata membias pula pada sahabat-sahabat yang utama seperti     Abu Bakar, Abu Thalhah atau istri-istri beliau seperti Khadijah, Aisyah dan Zainab binti Jahsy serta Saudah binti Zum’ah.

Suatu saat ketika terjadi pengumpulan dana untuk berjihad fisabilillah semua sahabat berlomba-lomba untuk menginfaqkan segala yang dimilikinya.Termasuk sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Umar, “Begitu banyak yang engkau infaqkan Umar, adakah yang tersisa untuk keluargamu?” Umar pun lalu menjawab, “Sebanyak itu pula ya Rasulullah”. Jadi istilahnya fifty-fifty, atau separuh-separuh. Jawaban seperti itu pun meluncur pula dari lidah Utsman ketika ditanya juga oleh Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. Namun tatkala pertanyaan tersebut diajukan kepada Abu Bakar As shidiq radhiyallahu ‘anhu, jawabannya sungguh mencengangkan dan menimbulkan decak kagum.

“Untuk keluargaku kutinggalkan Allah dan Rasulnya” Artinya keseluruhannya (100%) diinfaqkannya di jalan Allah, sedangkan urusan keluarganya ia pasrahkan kepada Allah. Umar sampai berucap, “Sungguh aku tak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya”

Begitu pula, pada saat Abu Bakar pergi hijrah mendampingi Rasulullah. Dananya dihabiskan untuk membiayai kepergiannya hijrah bersama Rasulullah. Namun istri dan putri-putrinya memang luar biasa pula. Ketika kakek Asma atau ayah Abu Bakar yakni Abu Quhafah marah-marah kepada Abu Bakar yang dianggapnya tidak bertanggung jawab meninggalkan keluarganya begitu saja, maka Asma menenangkan kakeknya yang buta itu dengan memperdengarkan bunyi kerikil-kerikil seolah itu kepingan dirham yang banyak. “Tenang saja kek, ayah tidak menyia-nyiakan kami”, ujar Asma. Barulah Abu Quhafah menjadi tenang.

Ada lagi kisah itsar yang sangat indah dan diabadikan oleh Allah dalam QS Al-Hasyr ayat 8 dan 9. Dalam terjemah singkat tafsir Ibnu Katsier jilid 8 diungkap tentang itsar yang ditunjukkan orang-orang  Anshar terhadap saudara-saudara mereka kaum muhajirin (QS 59:8)

  Muhajirin adalah orang-orang yang hijrah bersama nabi dari mekkah ke Madinah  yang mana mata pencaharian mereka rata-rata adalah pedagang.
 Sedangkan Anshar adalah penduduk asli Madinah yang mempunyai profesi bercocok tanam dan bertani. Mereka telah dipersaudarakan oleh Rasul dengan ikatan iman sehingga persahabatan mereka sangat kokoh laksana saudara kandungnya sendiri atau bahkan lebih.
Orang-orang anshar mengolah tanahnya setahun penuh kemudian ketika datang masa panen mereka pergi kerumah temanya orang muhajirin sebelum kerumah mereka dan berkata, “ ambillah sesukamu akan saya tinggal sebentar (agar tidak malu mengambil) .”
Mereka juga saling berebut untuk menjamu dan menempatkan saudaranya kaum muhajirin ketika mereka datang ke Madinah.

Yang  lebih menarik  adalah apa yang dilakukan oleh Sa’id bin Rabi’ dari kaum Anshar kepada Abdurrahman Auf dari kaum Muhajirin.  Ketika Abdurrahman bin Auf sampai di Madinah maka Sa’id berkata kepadanya,” wahai saudaraku ini adalah hartaku semua yang telah saya kumpulkan. Hari ini saya akan membaginya untuk diriku dan dirimu separoh-separoh, saya juga punya tanah seluas sekian, maka akan saya bagi dua denganmu. Ini rumahku akan saya berikan juga  separoh untukmu.Dan saya menikahi dua gadis maka kamu boleh melihatnya kemudian yang kamu sukai akan saya tolak. Lalu setalah selesai masa iddahnya boleh kamu nikahi.” Mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya tadi  Abdurrahman bin Auf berkata “ Terimakasih semoga Allah membalas kebaikanmu. Tunjukkan saja kepadaku dimana pasar!!”
Subhanallah....!Sebuah sikap itsar yang luar biasa dan sungguh mengagumkan. Membuat seseorang seperti berhayal. Akan tetapi itsar tersebut dibalas dengan Iffah. ia hanya meminta untuk di tunjukkan pasar. Kemudian disanalah ia memulai karirnya untuk berdagang. Tidak lama kemudian, Ia menjadi orang yang sukses. Mempunyai harta yang berlimpah yang selalu ia gunakan untuk kepentingan dakwah.

Dalam hadits riwayat muslim dari Abu Hurairah, sepasang suami istri yang memenuhi perintah Rasulullah untuk memberi makan musafir yang kelaparan itu adalah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim/ Rumaisha binti Milhan. Mereka sendiri malam itu segera menidurkan anak-anak mereka yang lapar dan berpura-pura makan agar tamu mereka makan dengan tenang. Padahal yang sedang disantap oleh tamu mereka itu adalah satu porsi terakhir yang mereka miliki hari itu.

Di ayat 9 tersebut Allah menegaskan   (ويؤثرون على أنفسهم ولوكان بهم خصاصة : الحشر: 9)
Dan mereka Itsar (mementingkan orang2 muhajirin) terhadap dirinya meskipun mereka juga memerlukan”
Ketika keesokan hari Rasulullah berjumpa dengan Abu Thalhah, beliau bersabda, “Sungguh Allah sangat gembira (tersenyum) menyaksikan perbuatan Anda berdua”

Hampir kesemua istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam    menunjukkan sifat pemurah dan itsarnya. Istri pertama yang paling dicintainya, dan tak pernah dapat dilupakannya: Khadijah menunjukkan itsar saat Rasulullah meminta pembantu Kahdijah: Zaid bin Haritsah untuk menjadi pembantunya. Beliau juga menginfaqkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan fisabilillah menyebarkan agama Islam.

Istri Rasulullah seperti Zainab binti Jahsy yang pandai berwiraniaga juga terkenal dermawan dan suka membantu orang lain. Saudah bunti Zum’ah istri Rasulullah yang walaupun hanya berjualan roti kuah ala Thaif pun ikut berinfaq dengan hasil dagangannya.

Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha  yang terkenal kepandaiannya sekaligus juga kedermawanannya pernah mendapat uang 40.000 dirham dari baitul mal. Oleh Aisyah harta itu segera di bagi-bagikan kepada fakir miskin sampai-sampai lupa menyisihkan sedikit saja untuk dirinya. Sampai ditegur Ummu Burdah yang membantunya, “Ya Ummul mukminin kenapa tidak engkau  sisihkan sedikit saja untuk membeli makanan berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa,” “Ya Ummu Burdah, kenapa tadi tak kau ingatkan”, jawab Aisyah tenang.

Kisah itsar yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk.
   Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke teman di sebelahnya. Ketika air itu akan diberikan kesebelahnya, orang tersebut juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah, ternyata ia sudah syahid juga. Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat kritis sekalipun mereka tetap menjaga itsar mereka.


Pengaruh  praktik Itsar

1. Mendapat keberkahan dan balasan yang lebih baik dari Allah.
Harta yang berkah bukan harta yang banyak jumlahnya, bisa jadi seseorang mempunyai harta yang banyak akan tetapi Allah swt. mencabut keberkahanya. Dalam Al-Qur’an maupun Hadist telah dijelaskan, bahwa harta yang selalu kita sedekahkan kepada orang lain akan menjadi berkah bagi pelakunya dan akan mendapat ganti yang lebih baik di dunia ataupun di akherat.

2. Menyembuhkan penyakit hati.

Dengan selalu mempraktekkan itsar maka seseorang akan menjadi semakin dermawan dan akan mengeluarkan perasaan dengki, hasad dan iri hati. Karena ia lebih memilih kenikmatan ukhrawi daripada kenikmatan duniawi. Dia tidak akan merasa iri apabila ada orang lain mempunyai kelebihan dalam hal materi. Tidak akan mendengki orang lain ketika Allah memberikanya kenikmatan dunia. Karena dunia dalam pandangan matanya sangat remeh. Akheratlah yang menjadi tujuan utamanya.

3. Mendapatkan kebahagiaan dan ketengan batin.

Seseorang akan merasa senang lewat senyumnya orang lain dengan itsar yang dilakukan kepadanya.
Ia akan merasa bahagia melihat orang lain yang tadinya sedih kemudian menjadi bunggah hatinya berkat itsar kita. Kita akan merasakan ketenangan batin ketika anak-anak, istri atau orang tua kita bisa tidur terlelap sehabis menikmati makanan yang kita usahakan dan kita itsarkan kepada mereka meskipun kita sendiri tidur dalam keadaan lapar.



Semoga bermanfaat untuk saya dan kalian..

   Salam, ahzaelkhair.blogspot.com



0 komentar:

Posting Komentar