MENUNTUT
ILMU JALAN MENUJU SURGA
Sabda Nabi – shollallohu
‘alaihi wa sallam –,
ومَنْ سَلَكَ طَريقاً يَلتَمِسُ فِيه
عِلماً ، سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَريقاً إلى الجَنَّةِ
“Barangsiapa
menempuh suatu jalan mencari ilmu padanya, niscaya Alloh akan memudahkan
baginya jalan menuju surga.”[1]
Hadits semakna
dengan ini juga diriwayatkan oleh Abu ad-Darda dari Nabi shollallohu ‘alaihi
wa sallam.[2]
Dan termasuk ke
dalam makna menempuh jalan untuk mencari ilmu; menempuh jalan hakiki (yang
sesungguhnya), yaitu berjalan dengan kaki menuju majelis para ulama.
Masuk juga ke
dalam makna ini, menempuh jalan maknawi yang mengantarkan untuk menghasilkan
ilmu; seperti menghapal, mempelajari, mengulang-ulang, menelaah, menulis,
memahami dan hal lain yang termasuk jalan-jalan maknawi yang bisa menghantarkan
kepada ilmu.
Dan sabda Nabi
– shollallohu ‘alaihi wa sallam –, “Niscaya Alloh akan memudahkan
baginya jalan menuju surga.”
Bisa bermakna,
bahwa Alloh memudahkan baginya ilmu yang dia cari dan dia tempuh jalannya.
Alloh akan memudahkan ilmu baginya. Karena ilmu adalah jalan yang menghantarkan
kepada surga. Dan ini seperti firman Alloh ta’ala,
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ
لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (١٧)
“Dan
sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang
yang mengambil pelajaran?” (al-Qamar: 17)
Sebagian salaf
[3] berkata, “Adakah penuntut ilmu, sehingga dia akan ditolong?”
Bisa juga
bermakna, bahwa Alloh akan memudahkan penuntut ilmu untuk mengambil manfaat
dengan ilmunya dan mengamalkan konsekuensinya, jika dia meniatkan untuk
mendapatkan wajah Alloh dalam menuntut ilmu. Sehingga jadilah hal itu sebagai
sebab dia mendapatkan hidayah dan masuknya ke dalam surga.
Dan terkadang
Alloh memudahkan bagi penuntut ilmu, ilmu-ilmu lain yang akan bermanfaat
baginya, dan menjadi penghantar kepada surga. Sebagaimana telah dikatakan,
“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, Alloh akan memberikan
kepadanya ilmu yang belum dia ketahui.”[4] Juga sebagaimana telah dikatakan,
“Pahala kebaikan, adalah kebaikan yang lain.”[5] Hal ini telah ditunjukkan oleh
firman Alloh ta’ala,
وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ
اهْتَدَوْا هُدًى
“Dan Alloh akan
menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Maryam: 17)
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ
هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
“Dan
orang-orang yang mau menerima petunjuk, Alloh menambah petunjuk kepada mereka
dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (Muhammad: 17)
Masuk juga ke
dalam makna (perkataan ini), pemudahan jalan surga yang nyata pada hari kiamat,
yaitu shirath, dan perkara-perkara dahsyat yang ada sebelum dan sesudahnya.
Alloh memudahkan hal itu bagi penuntut ilmu yang menuntut ilmu untuk mengambil
manfaatnya.
Maka ilmu menunjukkan
kepada Alloh dari jalan yang paling dekat. Barangsiapa menempuhnya, tidak
menyimpang darinya, niscaya dia akan sampai kepada Alloh ta’ala dan kepada
surga, dari jalan yang paling dekat dan paling mudah. Sehingga menjadi mudah
baginya semua jalan-jalan yang bisa menghantarkan kepada surga baik jalan yang
ada di dunia maupun di akhirat.
Tidak ada jalan
untuk mengenal Alloh, sampai kepada keridhaan-Nya, menggapai kedekatan
dengan-Nya dan tinggal di dekat-Nya, kecuali dengan ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat)
yang dengannya Alloh mengutus para Rosul, menurunkan kitab-kitab-Nya. Maka ilmu
ini adalah dalil yang menunjukkan kepada-Nya, dijadikan petunjuk dalam
kegelapan kebodohan, kerancuan dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Alloh
menamai kitab-Nya dengan nur (cahaya), karena dijadikan petunjuk dalam
kegelapan. Alloh ta’ala berfirman,
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ
وَكِتَابٌ مُبِينٌ (١٥) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ
السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ
وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (١٦)
“Sesungguhnya
telah datang kepadamu cahaya dari Alloh, dan kitab yang menerangkan. Dengannya
Alloh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan,
dan (dengan itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju
cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan
yang lurus.” (al-Maidah:
15-16)
Dan Nabi shollallohu
‘alaihi wa sallam memperumpamakan para pembawa ilmu yang beliau bawa dengan
bintang-bintang yang dijadikan sebagai petunjuk (arah) dalam kegelapan. Dalam
al-Musnad [6] dari Anas, dari Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – beliau
berkata,
إنَّ مثلَ العُلَماءِ في الأرض كمثلِ
النُّجوم في السَّماء ، يُهتدى بها في ظُلُمات البرِّ والبحرِ ، فإذا انطمست
النُّجوم ، أوشك أن تَضِلَّ الهُداة
“Sesungguhnya
perumpamaan para ulama di muka bumi ini seperti bintang-bintang yang berada di
langit. Bintang-bintang itu dijadikan petunjuk (arah) dalam kegelapan darat dan
lautan. Jika bintang-bintang itu padam, hampir-hampir para penunjuk jalan itu
akan sesat.”
Selama ilmu itu
masih ada di muka bumi, maka manusia akan tetap berada di dalam petunjuk. Dan
tetapnya ilmu adalah dengan tetapnya para pembawa ilmu. Jika para pembawa ilmu
dan orang-orang yang menegakkannya telah lenyap, maka manusia terjerumus ke
dalam kesesatan. Sebagaimana dalam ash-Shahihain [7], dari Abdullah bin ‘Amr,
dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إنَّ الله لا يقبِضُ العلمَ انتزاعاً
ينتزعُه مِنْ صُدورِ الناسِ ، ولكن يقبضُه بقبض العُلماء ، فإذا لم يَبقَ عالِمٌ ،
اتَّخذ الناسُ رؤساءَ جُهّالاً ، فسئِلوا ، فأفتَوا بِغيرِ عِلمٍ ، فضلُّوا
وأضلُّوا
“Sesungguhnya
Alloh tidaklah mencabut ilmu secara langsung dari dada-dada manusia. Akan
tetapi Alloh mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga jika tidak lagi
tersisa seorang ulama pun, manusia mengangkat para tokoh pemimpin yang bodoh.
Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan
menyesatkan.”
Suatu hari,
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menyebut tentang pencabutan ilmu.
Lalu ada yang bertanya, bagaimana ilmu bisa hilang padahal kami telah membaca
al-Qur`an dan mengajarkannya kepada istri-istri dan anak-anak kami? Maka Nabi shollallohu
‘alaihi wa sallam bersabda,
هذه التَّوراة والإنجيلُ عندَ اليهود
والنَّصارى ، فماذا تُغني عنهم ؟
“Kitab taurat
dan injil ini, pada orang-orang Yahudi dan Nasrani, lalu apa yang bisa
bermanfaat bagi mereka?”
Ubadah bin
Shamit ditanya tentang hadits ini, lalu dia berkata, “Seandainya engkau mau,
akan aku beritahukan engkau tentang ilmu yang pertama kali dicabut dari
manusia. (Dia adalah) kekhusyu’an.[8]
Dan Ubadah
berkata demikian karena ilmu itu ada dua
macam:
Pertama,
ilmu yang buahnya pada hati manusia. Yaitu ilmu tentang Alloh ta’ala, nama-nama-Nya,
sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya, yang ini semua akan menyebabkan
rasa takut (khosy-yah), gentar, pengagungan, ketundukan, kecintaan,
harapan, doa, dan tawakal kepada-Nya, serta sikap-sikap selain itu.
Maka inilah
ilmu yang bermanfaat, sebagaimana perkatan Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya banyak
manusia membaca al-Qur`an namun tidak melampaui tenggorokannya, akan tetapi
jika sampai ke dalam hati dan menetap kuat di sana, maka akan memberi
manfaat.”[9]
Al-Hasan, “Ilmu
itu ada dua, (pertama) ilmu yang ada pada lisan, maka itu adalah hujah Alloh
atas anak Adam, dan (yang kedua) ilmu yang ada di dalam hati, maka itulah ilmu
yang bermanfaat.”[10]
Yang
kedua, ilmu yang ada pada lisan. Inilah hujah Alloh, sebagaimana dalam hadits,
اْلقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al-Qur`an bisa
menjadi hujah bagimu atau hujah atasmu.”[11]
Maka ilmu yang
pertama kali dicabut adalah ilmu yang bermanfaat. Yaitu ilmu yang ada di batin,
bercampur dengan hati, dan memperbaikinya. Dan tersisalah ilmu yang ada di
lisan sebagai hujah. Lalu orang-orang meremehkannya, tidak mengamalkan
konsekuensinya, baik pembawa ilmu itu sendiri ataupun orang lain. Kemudian ilmu
ini lenyap dengan meninggalnya para pembawa ilmu. Maka tidak tersisa lagi
melainkan al-Qur`an yang ada dalam mushhaf, tidak ada lagi di sana yang
mengetahui makna-maknanya, batasan-batasannya, dan hukum-hukumnya. Kemudian
diangkatlah al-Qur`an pada akhir zaman, sehingga tidak tersisa sedikitpun
darinya, baik di mushhaf-mushhaf maupun di hati-hati manusia, secara
keseluruhan. Dan setelah itu, tegaklah hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi shollallohu
‘alaihi wa sallam,
لا تقومُ السَّاعة إلاَّ على شرارِ الناس
“Tidak akan
tegak hari kiamat kecuali pada manusia-manusia terburuk.”[12]
Dan sabda
beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam,
لا تقومُ الساعةُ وفي الأرض أحدٌ يقول :
الله الله
“Tidak akan
tegak hari kiamat, sedangkan di muka bumi masih ada orang yang berkata, Alloh,
Alloh.”[13]
——————————————————————
Nukilan dari
Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hadits ke-36
Diterjemahkan
dari Maktabah Syamilah
——————————————————————
Catatan Kaki:
[1] Hadits
Riwayat Muslim
[2] Dikeluarkan
oleh Ahmad 5/196, Abu Daud (3641) dan (3642), Ibnu Majah (223), at-Tirmidzi
(2682), Ibnu Hibban (88), at-Tirmidzi berkata, “Kami tidak mengetahui hadits
ini melainkan dari haditnya ‘Ashim bin Roja bin Haywah, dan hadits ini
menurutku tidak bersambung.”
[3] Dia adalah,
Mathar al-Warraq. Dikeluarkan oleh ath-Thabari dalam tafsirnya (25357) dan Abu
Nu’aim dalam Hilyatul Auliya` 3/86.
[4] Lihat
Faidhul Qadir karya al-Munawi 4/510-511, dan Kasyful Khofaa` karya al-‘Ajluni
2/347.
[5] Lihat
Tafsir Ibnu Katsir (cet. Dar Ibni Hazm): 412, 1669, dan 2002.
[6] Musnad
al-Imam Ahmad 3/157, dan dikeluarkan juga oleh ar-Ramahurmuzi dalam al-Amtsal
(51), al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqqih 2/70, hadits ini dho’if,
musalsal dengan para perawi yang dho’if. Lihat Majma’uz Zawaid 1/121.
[7] Shahih
al-Bukhari 1/36 (100) dan 9/123 (7307), Shahih Muslim 8/60 (2673) (13)
[8] Dikeluarkan
oleh ad-Darimi (294), at-Tirmidzi (2653), ath-Thohawi dalam Syarh al-Musykil
(304), al-Hakim 1/99, dari Abu Darda. Dikeluarkan oleh Ahmad 6/26-27,
al-Bukhari dalam Kholqu Af’alil ‘Ibad (42), dan an-Nasa`i dalam al-Kubra (5909)
dari Auf bin Malik. Dikeluarkan oleh Ahmad 4/160, 218 dan 219, Ibnu Majah
(4048) dan al-Hakim 1/100 dari Ziyad bin Labid al-Anshori. Dan dikeluarkan oleh
ath-Thobarani dalam al-Kabir (7183) dari Syaddad bin Aus. At-Tirmidzi berkata,
“Hasan Gharib.”
[9] Dikeluarkan
oleh Ahmad 1/380, Muslim 2/204 (822) (375), Ibnu Majah (538), dan al-Baihaqi
3/9.
[10]
Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah (34361), al-Husain al-Maruzi dalam
tambahannya atas kitab az-Zuhd karya Ibnul Mubarok (1161), Abu asy-Syaikh dalam
Thobaqot al-Muhadditsin bi Ashbahan 4/101 (566) dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’
Bayanil Ilmi 1/190-191.
[11] Telah lalu
takhrij hadits ini pada hadits ke-23 (yakni dalam hadits Jami’ul ‘Ulum wal
Hikam)
[12]
Dikeluarkan oleh Ahmad 1/394 dan 435, Muslim 8/208 (2949) (131), Abu Ya’la
(5248), Ibnu Hibban (6850), ath-Thabaroni dalam al-Kabir (10097) dan al-Baghawi
(4286) dari Haditsnya Abdullah bin Mas’ud.
[13]
Dikeluarkan oleh Ahmad 3/162 dan 259, ‘Abd bin Humaid (1247), Muslim 1/91 (148)
(234), Ibnu Hibban (6849), al-Hakim 4/495, dan al-Baihaqi dalam Syu’abil Iman
(524) dari Haditsnya Anas. Dan dikeluarkan oleh al-Hakim 4/494 dari Ibnu
Mas’ud.

.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar