Indahnya Persaudaraan Dalam Islam
Islam adalah diin yang bukan sekedar mengatur
hubungan manusia dengan khaliqnya (bahlum-minallaah/ hubungan vertikal) akan
tetapi membimbing juga setiap pemeluknya untuk membina hubungan harmanis dengan
sesama manusia dan alam sekitar (hablum-minaas/ hubungan horizontal). Orang
yang sengsara di hari kiamat nanti, bukan hanya orang yang tidak membangun
hubungan baik dengan Allah namun mereka yang tidak mampu mengaplikasikan
tuntunan Allah dan rasulullaah dalam membangun hubungan harmonis dengan makhluk
Allah subhanahu wa ta’ala . Sebagai
seorang muslim, sudah seharusnya kita berusaha untuk mentawazunkan
(menyeimbangkan) antara hablum-minallaah dengan hablum-minannaas.
• Urgensi Persaudaraan
1. Nikmat Allah : “Dan berpeganglah kamu
semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah orang-orang yang ber-saudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu menda-pat petunjuk. Dan hendaklah
ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang
beruntung.” (Ali ‘Imran : 103-104)
Dalam dua ayat tersebut tersebut terdapat
tuntutan yang harus dilak-sanakan oleh muslim yang menjalin ukhuwah dalam Islam
:
- komitmen terhadap al-Qur’an dan as-Sunah.
Tidak menggunakan manhaj lain selainnya
- menjauhkan diri dari permusuhan dan
perpecahan
- penyatu hati adalah mahabbah (cinta) kepada
Allah
- mendakwahkan kebaikan
Dengan ukhuwah ini kaum muslimin
tolong-menolong untuk melaksa-nakan tuntutan tersebut.
2. Merupakan arahan Rabbani : “… Dia-lah yang
Memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para Mukmin, dan yang
Mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan
semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan
hati mereka, akan tetapi Allah telah Mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya
Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal 8:62-63)
Allah-lah semata-mata pembangun ukhuwwah
diantara hati-hati Mukminin.
3. Merupakan cermin kekuatan iman : “Tidak
beriman salah seorang dari kalian sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia
mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari)
Betapa kuatnya korelasi antara ukhuwwah
Islamiyah dan ‘iman’. Sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mensyaratkan kecintaan
kepada saudara sesama muslim sebagai salah satu unsur pembentuk iman. Iman
sejati menghajatkan suatu rajutan persaudaraan yang kokoh di jalan Allah.
Karena itu eksistensi ukhuwwah berbanding lurus dengan kondisi iman seseorang
atau sekelompok jamaah. Semakin solid suatu ikatan persaudaraan fillah, makin
besar peluang untuk anggotanya dikategorikan sebagai mukmin sejati (mu’min al
haq). Sebaliknya ikatan bersaudara di jalan Allah ini bila rapuh, akan
mengindikasikan suatu hakikat keimanan yang juga masih rendah tingkatnya.
TAHAPAN MEMBANGUN PERSAUDARAAN
Jalan menuju ukhuwah memiliki sejumlah
tahapan, yang seorang muslim tidak bisa menggapai ukhuwah dengan saudaranya
kecuali apabila melaluinya. Tiap tahapan ini memiliki rambu-rambu dan
etika-etikanya, yang akhirnya akan berujung pada ukhuwah Islamiah yang kokoh.
1.
Ta’aruf (saling mengenal)
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa di
antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat
49:13)
Yang demikian itu mengharuskan seorang muslim
mengenal saudaranya seiman. Bahkan ia harus mengetahui hal-hal yang disukai dan
hal-hal yang tidak disukainya hingga dapat membantunya jika ia berbuat baik,
memohonkan ampun untuknya jika ia berdosa, mendoakan untuknya dengan kebaikan
jika tidak berada di tempat dan mencintainya jika ia bertaubat.
2.
Ta’aluf (saling bersatu)
Ta’aluf berarti bersatunya seorang muslim
dengan muslim lainnya. “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (Ali ‘Imran :
103)
“Walaupun kalian membelanjakan semua
(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kalian tidak akan dapat mempersatukan
hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Al-Anfal:63)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ruh-ruh itu
ibarat tentara-tentara yang terkoordinasi; yang saling mengenal niscaya
bersatu, sedangkan yang tidak saling mengenal niscaya berpisah.” (HR. Muslim)
Maka salah satu kewajiban ukhuwah adalah,
hendaknya seorang muslim menyatu dengan saudaranya sesama muslim. Seiring
dengan itu, hendaklah ia melakukan hal-hal yang bisa menyatukan dirinya dengan
saudaranya.
Suatu faktor global yang bisa mewujudkan
ta’aluf adalah: “Hendaklah seorang muslim konsisten melaksanakan apa yang
diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.”
3.
Tafahum (saling memahami)
Hendaklah terjalin sikap tafahum (saling memahami)
antara seorang muslim dengan saudaranya, yang diawali dengan kesepahaman dalam
prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, lalu dalam masalah-masalah cabang yang juga
perlu dipahami secara bersama.
Bersikap husnudzan jangan su’udzan.
Seorang muslim yang berusaha mencapai tingat
tafahum dituntut agar mampu mengendalikan diri, menguasai perasan dan emosi
serta mengarahkan tingkah lakunya dan pergaulan ke arah kemanusiaan yang
bermartabat, bersopan santun dan bertenggang rasa, tidak melukai perasaan atau menyakiti
hati orang lain tanpa alas an.
Akhlak yang baik dapat merubah lawan yang
dibenci menjadi kawan yang disenangi. Itu lebih baik daripada menambah musuh.
“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara
yang lebih baik, sehingga orang yang diantaramu dan dia ada permusuhan
seolah-olah telah menjadi teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan
kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika
setan mengganggumu dengan suatu gangguan maka mohonlah perlindungan kepada
Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Fushilat
41:34-35)
“Maka disebabkan Rahmat dari Allah-lah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
maafkanlah mereka, mohonkan-lah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan
mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran 3:159)
4.
Ri’ayah (perhatian)
Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan
saudaranya agar ia bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya
tersebut memintanya karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang
harus ia tunaikan. “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga ia
mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Salah satu bentuk perhatian adalah hendaknya
seorang muslim menutupi aib saudaranya.
“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba
yang lain kecuali Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Bentuk perhatian lainnya adalah hendaknya ia
berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kecemasannya apabila sedang tertimpa
kecemasan, meringankan kesulitan yang dihadapinya, menutupi aibnya dan
membantunya dalam memenuhi kebutuhan.
“Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang
muslim, niscaya Allah akan menghilangkkan satu kesusahannya di hari kiamat.
Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di
hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong
saudaranya.” (HR. Muslim)
Bentuk perhatiannya lainnya adalah hendaknya
ia menjalankan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Islam atasnya untuk
saudaranya. “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.” Ditanyakan,
“Apakah keenam hak itu wahai Rasulullah?” Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundang maka
penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah, jika
ia bersin lalu memuji Allah maka ucapkanlah: yarhamukallah, jika ia sakit maka kunjungilah,
dan jika ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya.” (HR. Muslim)
5.
Ta’awun (saling membantu)
Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan hamba-hambanya yang
beriman untuk bantu-membantu dalam melaksanakan kebaikan (al-birr) dan dalam
meninggalkan kemungkaran yang disebut dengan (at-taqwa).
Indikasi-indikasi ta’awun yang dilaksanakan
oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam diantaranya :
- Ta’awun dalam memerintahkan yang ma’ruf,
mengamalkan kebaikan, dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan petunjuk Islam.
Sebaik-baik sahabat adalah yang mengingatkanmu apabila lupa dan membantumu
apabila ingat.
- Ta’awun dalam meninggalkan kemungkaran, hal
yang diharamkan dan bahkan hal yang makruh
- Ta’awun dalam upaya terus-menerus mengubah
manusia dari satu keadaan kepada keadaan lain yang lebih diridhai Allah subhanahu
wa ta’ala.
6.
Tanashur (saling menolong)
Ia masih sejenis dengan ta’awun, tetapi
memiliki pengertian yang lebih dalam dan lebih menggambarkan makna cinta dan
loyalitas.
Tanashur diantara dua orang yang berukhuwah
dalam Islam memiliki banyak makna, di antaranya :
- Seseorang tidak menjerumuskan saudaranya
kepada sesuatu yang buruk atau dibenci
- Mencegah saudaranya dan menolongnya dari
setan yang membisikkan kejahatan kepadanya dan dari pikiran-pikiran yang buruk
yang terlintas pada dirinya untuk menunda pelaksanaan amal kebaikan
- Menolong menghadapi setiap orang yang
menghalanginya dari jalan kebenaran
- Menolongnya, baik saat menzhalimi (dengan
cara mencegahnya dari perbuatan zhalim) maupun saat dizhalimi (dengan berusaha
menghindarkannya dari kezhaliman yang menimpanya)
Tidak akan terjadi tanashur diantara
orang-orang yang bersaudara dalam Islam kecuali masing-masing bersedia
memberikan pengorbanan untuk saudaranya, baik pengorbanan waktu, tenaga, maupun
harta.
7.
Itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya
daripada kepentingan dirinya sendiri)
Ketika bergolak medan peperangan Yarmuk, ada
kisah emas tentang bagaimana ruh ukhuwwah sejati ditampilkan shahabat.
Diketengahkan oleh al-Qurthubi tentang pengalaman seorang shahabat Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam “Aku bermaksud mencari
keponakanku. Hendak kuberi minum ia pada saat-saat akhir menjelang ajalnya. Aku
katakana padanya,” ‘Minumlah air ini.’ Dia menganggukkan kepala. Sejurus
kemudian terdengar rintihan memelas shahabat disampingnya, penuh belas kasih.
Keponakanku mengisyaratkan agar aku menemuinya. Ah, ternyata Husein bin ‘Ash.
‘Minumlah ini,’ kataku sambil menyodorkan air yang tadi kubawa. Husein
menganggukkan kepada Namun berbarengan dengan itu terdengar seseorang di
sampingnya mengerang kehausan. Husein menyuruhku agar memberikan air kepada
orang tersebut. Ketika kutemui shahabat tadi, ia sudah gugur. Lantas aku
bergegas kepada Husein, iapun telah gugur. Kemudian aku menuju keponakanku, dan
.. ia pun telah pulang ke pangkuan Rabb-nya.
Sementara itu, di episode lain dari sekian
puluh kejadian-kejadian sirah Rasulullah dan para shahabat, adalah Abdurrahman
bin Auf yang Muhajirin dan Sa’ad bin Rabi’ yang Anshar. Selayaknya kaum
Muhajirin yang meninggalkan kampung halaman tanpa banyak perbekalan, Ibnu Auf
mulanya jelas terbilang miskin. Sebaliknya Sa’ad bin Rabi’ adalah aghniya,
hartawan dengan kekayaan melimpah. Keduanya dipersaudarakan oleh Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam . Terjadilah dialog
dengan muatan ruh ukhuwwah Islamiyah sejati antara keduanya. Berkata Sa’ad,
“Akhi, aku adalah penduduk Madinah yang kaya. Pilih separuh hartaku dan
ambillah! Dan aku punya dua istri, pilih yang menarik hatimu, biar nanti
kucerai salah satunya hingga engkau bisa memperistrikannya.”
Dengan penuh kasih Abdurrahman bin Auf
menjawab, “Semoga Allah merahmatimu, harta dan istri-istrimu. Sekarang, tolong
tunjukkan di mana letak pasar, biar aku bisa berdagang.”
Dua penggal kisah diatas merupakan kisah
sejati yang menggambarkan ruh itsar kepada kita.
Kalau dicermati, fenomena persaudaraan pada
sahabat itu senantiasa dimulai dengan keikhlasan untuk memikul sekian
keprihatinan perjuangan. Pementasan ukhuwwah Islamiyah para shahabat berada di
sebuah panggung kehidupan yang bernama ‘jihad di jalan Allah’.
Kejadian-kejadian dahsyat dalam sejarah tadi beruanglingkupkan atmosfir
penegakan kalimat Allah dalam pengertian yang sebenar-benarnya.
Pribadi-pribadi yang bertemu dalam forum
ukhuwwah Islamiyah adalah pribadi-pribadi yang telah memiliki kesamaan
pemahaman terhadap problematika ummat, sadar terhadap kewajibannya sebagai
muslimin taat. Mereka mempunyai kepedulian tinggi, keterlibatan dan rasa
memiliki terhadap nasib ummat. Mereka terkondisi untuk selalu memikirkan
bagaimana dakwah harus dijalankan. Terikat satu sama lain dalam tugas suci
meninggikan kalimat Allah. Ini dilakoni oleh mereka dalam segala suasana:
sedih, tragis, suka, untung atau mengharukan. Semuanya dikerjakan secara
bersama senasib dan sepenanggungan.
Menyimak latar belakang itu, wajar jika para
shahabat begitu spektakuler dalam menampilkan ruh ukhuwwah Islamiyah. Ini
terjadi ternyata diawali oleh pra kondisi yang pengundang perasaan heroik. Ada
suasana perjuangan yang mengharukan. Beban tanggung jawab yang sama terhadap
kebenaran menjadikan mereka bisa bahu-membahu satu dengan yang lain.
Dengan ini maka solidaritas yang dibangun
adalah yang mengarah pada visi keummatan. Bukan solidaritas kelompok yang
justru bisa menghambat lahirnya ukhuwwah.
Pada akhirnya, egoisme golongan dapat ditekan
sekecil mungkin atau dimusnahkan. Ketika tidak lagi berpikir tentang kelompok,
kemudian mengarahkan keterlibatannya pada hal-hal yang besar yang dihadapi
ummat, menanggung keprihatinan-keprihatinan bersama atas kondisi dakwah; mereka
lebih mungkin berbicara soal ukhuwwah Islamiyah sejati. Tanpa adanya pra
kondisi ini, tanpa mewujudkan lebih dahulu kesadaran terhadap perjuangan
dakwah, rasa-rasanya ukhuwwah sejati akan sulit diwujudkan. “Dan orang-orang
yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum
(kedatangan) mereka (muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada
mereka dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa
yang diberikan kepada mereka (orang-orang muhajirin) dan mereka mengutamakan
(orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam
kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr:9)
HAL-HAL YANG MENGUATKAN PERSAUDARAAN :
1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita
cintai
Bersabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam .: Jika seorang cinta kepada saudaranya harus
memberitahu kepadanya bahwa ia kasih sayang kepadanya karena Allah. (HR. Abu
Dawud)
Anas r.a. berkata: Ada seorang duduk di sisi
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendadak ada seorang berjalan, maka orang itu
berkata: Ya Rasulullah saya sungguh cinta pada orang itu. Nabi bertanya: Apakah
sudah kauberitahu padanya, bahwa kau cinta padanya? Jawabnya: Belum. Bersabda
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : Beri-tahukanlah ia. Maka
dikejarnya dan dikatakan kepadanya: Sesungguhnya saya cinta padamu karena
Allah. Jawabnya: Semoga Allah cinta kepadamu, sebagaimana kau cinta kepadaku
karena Allah. (HR. Abu Dawud)
2. Memohon dido’akan bila berpisah
3. Menunjukkan kegembiran & senyuman bila
berjumpa
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali
non-muhrim)
Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam : Demi Allah yang jiwaku ada di
tangan-Nya, kamu tiada dapat masuk sorga sehingga percaya (beriman) dan tidak
percaya (beriman) sehingga kasih sayang pada semua manusia. Sukakah saya
tunjukkan perbuatan, kalau kamu kerjakan timbul rasa kasih saying? Sebarkanlah
salam di antara kamu. (HR. Muslim)
5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan
saat-saat keberhasilan
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
8. Memperhatikan saudaranya & membantu
keperluannya
9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
HAK-HAK PERSAUDARAAN
Hak-hak seorang Muslim atas Muslim lainnya
secara umum :
1. Menutupi Aib Saudara Seiman
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim
lainnya, tidak menzhalimi atau mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan
saudaranya sesama muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya
Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan
di hari kiamat. Dan barangsiapa menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan
menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari)
2. Membela Saudara Seiman yang Digunjing
Pada dasarnya, ia tidak boleh mendengarkan
kata-kata buruk yang diarahkan untuk menggunjing saudaranya seiman, akan tetapi
apabila terlanjur terjadi dan ia mendengarnya, ia berkewajiban membela dan
membantah penggunjingannya, demi memenuhi hak saudaranya seiman.
“Apabila kamu melihat orang-orang yang
memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka sehingga mereka
membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan lupa (akan larangan
ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat
(akan larangan itu).” (Al-An’am:68)
“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya,
Allah akan menjauhkan neraka dari wajahnya pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)
3. Memaafkan Saudara Seiman
“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari
Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang Dia sediakan untuk
orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik
di waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan.” (Ali Imran:133-134)
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang
mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
(Al-A’raf:199)
“Akan tetapi barangsiapa bersabar dan
memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”
(Asy-Syura:43)
4. Berbuat Baik terhadap Saudara Seiman
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar
berlaku adil dan berbuat baik.” (An-Nahl:90)
a. Mengunjungi, menjenguk, dan memberinya
hadiah, tidak membeli barang yang sudah dibelinya dan tidak mendiamkannya
melebihi tiga hari “Ada seorang lelaki mengunjungi saudaranya di suatu desa.
Maka Allah mengutus seorang malaikat untuk menemuinya. Ketika sampai, utusan
itu berkata, ‘Hendak kemanakah engkau?’ ‘Aku hendak menemui saudaraku yang
berada di desa ini,’ jawab lelaki itu. ‘Apakah engkau menginginkan suatu nikmat
tertentu yang hendak kau dapatkan darinya?’ ‘Tidak, aku hanya mencintainya karena
Allah,’ jawab lelaki itu. ‘ Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu,
untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai
saudaramu karena-Nya.’” (HR. Muslim)
“Barangsiapa menjenguk orang yang sakit atau
mengunjungi saudaranya seiman karena Allah, ada (malaikat) yang memanggilnya,
‘Bagus engkau, bagus pula perjalananmu. Semoga engkau menempati rumah di dalam
surga.” (HR. Muslim)
“Apabila seorang muslim berkunjung kepada
saudaranya seiman, hakikatnya ia berada di kebun surga, sampai ia kembali.”
(HR. Muslim)
“Hendaklah kalian saling memberi hadiah
niscaya kalian saling mencintai dan hilanglah rasa benci.” (HR. Malik)
“Hendaklah kalian saling memberi hadiah,
karena sesungguhnya hadiah itu menghilangkan kemarahan di dada. Janganlah seorang
yang bertetangga mencela hadiah dari tetangganya, walaupun hanya berupa kuku
kambing.” (HR. Tirmidzi)
‘Janganlah salah seorang dari kalian menjual
barang yang sudah dibeli orang lain dan janganlah kalian melamar perempuan yang
sudah dilamar oleh orang lain.” (HR. Tirmidzi)
“Tidaklah dihalalkan bagi seorang muslim
mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam. Keduanya saling bertemu namun satu
sama lain saling berpaling. Orang yang paling baik di antara keduanya adalah
yang memulai dengan salam.” (HR. Muslim)
b. Memberikan senyuman dan membantunya sesuai
dengan kemampuan. “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah. Amar ma’ruf
nahi munkar yang kau lakukan adalah sedekah. Engkau menunjuki seseorang yang
tersesat di suatu tempat, juga merupakan sedekah bagimu. Jika engkau
menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan juga merupakan sedekah bagimu.”
(HR. Tirmidzi)
“Setiap kebaikan adalah sedekah, dan diantara
kebaikan itu adalah: engkau menjumpai saudaramu dengan wajah berseri.” (HR.
Tirmidzi)
“Janganlah kau meremehkan kebaikan sekecil
apapun, sekalipun sekadar wajah berseri yang kau berikan ketika berjumpa
saudaramu.” (HR. Muslim)
c. Tidak menimpakan bahaya dan tidak
mengancam, baik dengan serius maupun sekedar bergurau, seremeh apa pun, baik bersifat
material maupun nonmaterial : Terkutuklah siapa saja yang menimpakan bahaya
atau membuat tipu daya atas seorang mukmin.” (HR. Tirmidzi)
“Mencela seorang muslim adalah kefasikan,
sedangkan memeranginya adalah kekafiran.” (HR. Bukhari)
“Barangsiapa mengacungkan sepotong besi
(mengancam) kepada saudaranya, malaikat melaknatinya sampai ia meninggalkannya,
meskipun itu dilakukan terhadap saudara seayah atau seibu.” (HR. Muslim)
“Janganlah salah seorang dari kalian
mengacungkan senjata kepada saudaranya, karan ia tidak tahu jika setan
menggerakkan tangannya sehingga ia terperosok ke lubang neraka.” (HR. Muslim)
d. Memenuhi kebutuhan-kebutuhannya : “… dan
Allah menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi)
“… dan barangsiapa tengah memenuhi hajat
saudaranya, niscaya Allah memenuhi hajatnya.” (HR. Bukhari)
“Setiap muslim harus bersedekah.” Para sahabat
bertanya, “Wahai Nabi Allah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki harta?”
Beliau bersabda, “Bekerjalah dengan tangannya, sehingga ia bermanfaat bagi
dirinya lalu bersedekah.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kalau ia tidak
punya?” Beliau bersabda, “Membantu orang yang membutuhkan lagi meminta
pertolongan.” Mereka bertanya, “Kalau tidak bisa?” Beliau bersabda, “Hendaklah
ia melakukan kebajikan dan menahan diri dari kejahatan, karena keduanya
merupakan sedekah baginya.” (HR. Bukhari)
Derajat paling minimal dalam memenuhi
kebutuhan saudaranya adalah memenuhi kebutuhannya ketika ia memintanya.
5. Menahan Diri dari Membicarakan Aib Saudaranya
Seiman
a. Tidak menyebut aib saudaranya dengan lisan
“Orang-orang muslim adalah orang yang kaum
muslimin selamat dari gangguan lidah dan tangannya.”
“Sukakah salah seorang di antara kalian
memakan daging saudaranya? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya.”
(al-Hujurat:12)
b. Tidak menyebut aib saudaranya di dalam hati
“Hendaklah kalian menjauhi prasangka, karena
prasangka itu merupakan sedusta-dusta perkataan.” (HR. Bukhari)
“Janganlah kalian saling membenci, saling
mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang
berukhuwah…” (HR. Muslim)
c. Hak untuk tidak didebat
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah rumah di dasar
surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar, satu
rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun
bergurau, dan satu rumah di tempat tertinggi surga bagi siapa saja yang
berakhlak mulia.” (HR. Abu Dawud)
“Tinggalkanlah perdebatan karena sedikit
kebaikannya. Tinggalkanlah perdebatan karena manfaatnya sedikit dan bisa
menimbulkan permusuhan sesama saudara.” (HR. Dailami)
“Janganlah engkau mendebat saudaramu, jangan
mempermain-kannya, jangan pula memberi janji kepadanya lalu mengingkarinya.”
(HR. Tirmidzi)
d. Hak untuk tidak disebarkan rahasianya
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah dua orang duduk
bercakap-cakap kecuali dengan amanah. Tidaklah dihalalkan bagi salah satu dari
keduanya untuk menyebarkan rahasia sahabatnya yang tidak diinginkannya.” (HR.
Abu Bakar bin Bilal)
6. Hak untuk Dibicarakan oleh Saudaranya
dengan Apa yang Disukainya ;
a. Hak untuk dipanggil dengan nama yang paling
disukai
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada dua hal
yang bisa menjernihkan cintamu kepada saudara-saudaramu: hendaklah engkau
mengucapkan salam kepadanya terlebih dahulu ketika berjumpa, dan panggillah ia
dengan nama yang paling disukainya.”
b. Memuji kebaikan-kebaikan yang diketahuinya
Memuji yang dimaksud berbeda dengan menyanjung
di hadapan orang yang disanjung, karena sikap yang terakhir ini dicela Islam.
Pujian ini semakin penting apabila ia memuji
kebaikan-kebaikan saudaranya di hadapan orang yang bisa mendapatkan manfaat
dari pujian tersebut, sehingga orang tersebut memperbaiki pandangannya terhadap
orang yang dipuji.
Adalah merupakan salah satu etika Islam
apabila seorang muslim memuji saudaranya seiman, hendaklah mengatakan, “Saya
kira dia demikian, saya tidak menyucikan seorang pun dihadapan Allah.”
c. Menyampaikan kepada saudaranya pujian orang
lain
d. Berterima kasih terhadap kebaikannya
“Barangsiapa diperlakukan baik, lalu berkata
kepada pelakunya, ‘Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik,’ berarti ia
telah berterima kasih.” (HR. Tirmidzi)
7. Hak untuk Mendapatkan Nasihat dan
Pengajaran
“Agama adalah nasihat,” Sahabat bertanya,
“Untuk siapa?” Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya,
imam-imam kaum muslimin, dan orang-orang awam di antara mereka.” (HR. Muslim)
a. Jauhkan nasihat dari tujuan mencari muka
Nasihat disebut sebagai usaha mencari muka,
jika engkau menasihati saudaramu untuk kepentinganmu sendiri atau untuk
mewujudkan ambisimu. Nasihat semacam ini tidak membawa kebaikan bagi saudaramu,
namun membawa kebaikan bagi dirimu sendiri.
b. Menahan diri
Salah satu etika nasihat adalah, hendaknya
penasihat menahan diri dari sikap yang mengharuskannya memberi nasihat untuk
beberapa waktu. Diperbolehkannya menahan diri ini harus dengan syarat bahwa
sikap ini benar-benar memberi kemaslahatan agama dan keselamatan bagi
pelakunya.
c. Hendaknya aib yang dinasihatkan untuk
ditinggalkan itu tidak disadari oleh pelakunya
d. Hendaklah ditunjukkan aibnya
Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu pernah meminta kepada saudara-saudaranya untuk
menunjukkan aib dirinya. Ia berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang
menunjukkan aib saudaranya.”
e. Yang dinasihati harus mencintai
penasihatnya
Jika itu dilakukan tentu akan mengundang rasa
cinta dan simpati lebih dalam.
f. Menahan diri dari menasihati atas sifat
bawaan seseorang, Karena terkadang aib yang terdapat pada seseorang merupakan
pembawaan yang ia tidak bisa melepaskan diri darinya. Namun apabila ia
memperlihatkan aib itu, hendaklah saudaranya memberi nasihat dengan lemah
lembut.
g. Hendaklah berlapang dada dan memaafkan
8. Hak untuk Mendapatkan Kesetiaan (Wafa’)
Sikap setia adalah sikap konsisten dalam
mencintai baik ketika saudaranya masih hidup maupun setelah kematiannya.
9. Hak untuk Diringankan Bebannya
a. Tidak membebani dengan sesuatu yang
memberatkan
b. Jangan sampai orang lain meminta untuk
dipenuhi hak-haknya
c. Tidak meminta orang lain rendah hati
kepadanya ; Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikuti-mu, yaitu
orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara:215)
d. Mempergauli saudaranya sesama muslim dengan
bersahaja tanpa takalluf (memaksakan diri)
e. Hendaknya seorang muslim berprasangka baik
kepada saudaranya dan memandangnya lebih baik daripada dirinya sendiri
10. Hak Seorang Muslim atas Muslim yang Lain
untuk Didoakan, Baik Semasa Hidupnya maupun setelah Mati
“Orang-orang yang datang setelah mereka
mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan orang-orang yang telah
mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami
perasaan dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami,
sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr:10)
BUAH MEMBANGUN PERSAUDARAAN
1. Merasakan lezatnya iman
Bersabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : Tiga sifat siapa yang memilikinya akan
merasakan kelezatan iman: (1) Jika ia mencintai Allah dan Rasulullah lebih dari
lain-lain-Nya (2) Jika ia mencintai sesama manusia semata-mata karena Allah (3)
Jika engkau membenci kembali kepada kafir setelah diselamatkan Allah
daripadanya sebagaimana engkau enggan dimasukkan ke dalam neraka.” (HR.
Bukhari, Muslim)
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari
kiamat
Bersabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : Tujuh
macam orang yang bakal dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari tiada
naungan kecuali naungan Allah; (1) Pemimpin (raja) yang adil. (2) Pemuda yang
rajin dalam ibadat kepada Allah. (3) Seorang yang selalu gandrung hatinya pada
masjid. (4) Dua orang yang kasih sayang karena Allah, baik di waktu berkumpul
atau berpisah. (5) Seorang lelaki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan
cantik kemudian ia berkata: Saya takut kepada Allah. (6) Seorang bersedekah
dengan diam-diam sehingga tangan yang sebelah kanan tidak tahu apa yang
disedekahkan oleh tangan sebelah kirinya. (7) Seorang yang ingat (berdzikir)
pada Allah dengan sendirian, maka mencucurkan air mata. (HR. Bukhari, Muslim)
“Pada hari kiamat Allah akan berfirman: Di
manakah orang yang kasih sayeng karena kebesaran-Ku, kini Aku naungi di bawah
naungan-Ku, pada saat di mana tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim)
Oleh Abu Tsabita
Maraji’
Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Al-Ukhuwwah
al-Islamiyah, takwin as-Syaksyiyah al-Insaniyah
Dr. Abdul Halim Mahmud, Fiqh Al-Ukhuwwah fi
Al-Islami
Ust. Husni Adham Jarror, Bercinta dan
Bersaudara karena Allah
Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Meraih Nikmatnya
Iman