assalamu'alaikum.....

Blogger news


Rabu, 25 Maret 2015

Menyayangi Binatang



Burung adalah termasuk salah satu binatang yang harus kita pelihara dan sayangi, akan tetapi perlukah kita memelihara dan menyayangi burung tersebut dengan cara mengurungnya dalam sangkar..? atau membiarkannya hidup bebas di habitatnya.?! Kemudian, bagaimana pula dengan cara pemeliharaan dan menyayangi hewan-hewan ternak lainnya, seperti kambing, sapi/onta, dll, adakah Islam mengajarkannya..?

Ada persepsi yang keliru tentang pemeliharaan hewan atau kasih sayang terhadap binatang, mereka mengira bahwa yang pertama kali mencetuskan kasih sayang terhadap binatang adalah orang-orang Eropa yang non Muslim.

Padahal ajaran sikap kasih sayang terhadap binatang adalah benar-benar dari Islam. Hanya saja mereka (orang-orang Eropa) mampu mengembangkan dan merumuskannya secara lebih sistematis dalam mengimplemetasikannya, di samping itu mereka mendapat dukungan dari negara, sehingga sikap menyayangi binatang di kalangan mereka sudah menjadi ciri khas.

Hal itulah yang menyebabkan adanya orang-orang yang menduga bahwa ajaran itu berasal dari mereka yang non muslim. Lebih-lebih setelah mereka melihat realitas sosial di kalangan kaum muslimin yang tidak banyak memberikan perhatian khusus terhadap dunia binatang. Akhirnya merekalah yang secara intensif memberikan perhatian terhadap binatang.

Namun di sisi lain, kasih sayang terhadap binatang di beberapa negara Eropa bisa dikatakan ekstrim dan berlebihan, salah satu diantaranya adalah perlakuan mereka terahadap binatang peliharannya (bisa dikatakan)melebihi kasih sayangnya terhadap manusia.

Dibawah ini pembahasan yang sangat bagus sekali dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani tentang bagaimana Islam mengajarkan kasih sayang terhadap binatang, yang disalin dari kitab beliau Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah wa Syaiun Min Fiqhiha wa Fawaaidiha, edisi Indonesia Silsilah Hadits Shahih.



Hadits No. 20

"Artinya : Apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini, yang telah diberikan kepadamu oleh Allah? Dia melapor kepadaku bahwa engkau telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat"

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (1/400), Imam Hakim (2/99-100), Imam Ahmad (1/204-205), Abu Ya'la di dalam musnad-nya (1/318), Al-Baihaqi di dalam Dala'ilun-Nubuwwah (juz 2, bab 'Menyebutkan Tiga Mu'jizat Rasul') Ibnu Asakir di dalam Tarikhnya (juz 9/28/1) dan Adh-Dhiya' di dalam Al-hadits Al-Mukhtarah (124-125) dari jalur Muhammad bin Abdullah bin Abi Ya'qub dari Al-Hasan bin Sa'ad, seorang budak yang dimerdekakan oleh Al-Hasan bin Ali, dari Abdullah bin Ja'far, yang meriwayatkan :

"Artinya : Suatu hari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memboncengkan saya. Kemudian beliau bercerita kepada saya cerita rahasia, dan saya tidak boleh menceritakannya kepada seorangpun, yaitu bahwa yang bisa dipergunakan oleh Nabi untuk berlindung ketika melaksanakan hajatnya adalah perbukitan dan pepohonan korma yang terbentang. (Suatu saat) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki sebuah kebun milik salah seorang sahabat Anshar. Tiba-tiba beliau melihat seekor onta. (Ketika beliau melihatnya, maka beliau mendatanginya dan mengelus bagian pusat sampai punuknya serta kedua tulang belakang telinganya. Kemudian onta itu tenang kembali). Beliau berseru :

"Siapa pemilik onta ini?! Milik siapa ini?!" Kemudian datanglah seorang pemuda dari golongan Anshar, lalu berkata: "Wahai Rasul, onta ini milik saya. Lalu beliau bersabda: (Lalu perawi menyebutkan hadits diatas)".

Hadits No. 23

"Artinya : Takutlah kepada Allah dalam (memelihara) binatang-binatang yang tak dapat bicara ini. Tunggangilah mereka dengan baik, dan berilah makan dengan baik pula".

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (No. 2448) dari jalur Muhammad bin Muhajir dari Rabi'ah bin Zaid dari Abu Kabsyah As-Saluli dari Sahal bin Handzalah yang meriwayatkan.

"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melewati seekor onta yang punggungnya telah bertemu dengan perutnya (sangat kurus), lalu beliau bersabda : (Perawi menyebutkan kalimat seperti hadits di atas).

Hadits ini sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi dalam Ar-Riyadh dan hal ini diakui pula oleh Al-Manawi.

Sanad itu diperkuat pula oleh Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dengan pernyataannya : Saya diberi hadits oleh Rabi'ah bin Yazid, yang isinya sama dengan hadits di atas namun redaksinya lebih sempurna yaitu.

"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar untuk memenuhi suatu keperluan. Kemudian beliau melihat seekor onta yang diderumkan di depan pintu masjid sejak siang hari. Namun sore harinya beliau melihatnya masih dalam keadaan yang sama. Melihat keadaan ini, beliau bertanya :

'Dimanakah pemilik onta ini.? Cari dia'. Ternyata tidak ada, lalu beliau bersabda : 'Bertaqwalah kepada Allah dalam (memelihara) binatang ini. Tunggangilah dalam keadaan baik dan dalam keadaan gemuk".  Saat itu beliau seperti baru saja marah".

Hadits No. 24

"Artinya: Mengapa tidak engkau lakukan sebelumnya? Apakah engkau ingin membunuhnya dua kali?"

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabari di dalam Al-Kabir (3/40/1), Al-Ausath (1/31/1) dan AL-Baihaqi (9/280), dari Yusuf bin Addi dari Abdurrahman bin Sulaiman Ar-razzi dari 'Ashim Al-Ahwat dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menuturkan.

"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendapati seorang laki-laki yang meletakkan kakinya di atas pantat seekor kambing sambil mengasah alat sembelihannya. Kambing itu meliriknya. Lalu Nabi bersabda :

(beliau bersabda seperti hadits di atas)".

Hadits No. 25

"Artinya : Siapa yang mengejutkan burung ini dengan mengambil anaknya ? kembalikanlah anaknya kepadanya".

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Al-Adabul Mufarrad (hadits no.382), Abu Dawud (hadits no. 2675), dan Al-Hakim (4/239), dari Abdurrahman bin Abdillah dari ayahnya, yang menceritakan.

"Artinya : Kami menyertai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perlawatannya. Kemudian beliau pergi untuk memenuhi suatu kebutuhannya. Lalu kami melihat seekor burung berwarna merah dengan dua ekor anaknya. Kami lalu mengambil kedua anaknya itu. Tatkala induknya datang dia mengepak-ngepakkan sayapnya dan terbang menurun ke dataran menyiratkan kegelisahan dan kekecewaan. Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang, beliau bersabda : (kemudian perawi menyebutkan sabdanya seperti tersebut diatas)".

Redaksi hadits di atas adalah milik Abu Dawud. Ia menambahkan kalimat.

"Artinya : Beliau juga melihat perkampungan semut yang telah kami bakar. Beliau bersabda : 'Siapa yang telah membakar tempat ini?' Kami menjawab:

"Kamilah yang telah menjawabnya". Lalu beliau bersabda : 'Sesungguhnya tidak ada yang pantas menyiksa dengan api kecuali Tuhan yang memiliki api".

Sanad hadits ini shahih, Sementara Imam Al-Hakim berkomentar : 'Hadits ini sanadnya shahih'. Demikian pula yang dikemukakan oleh Adz-Dzahabi. Selanjutnya nanti akan kami sertakan beberapa hadits penguatnya (481-482).

Hadits No. 28

"Artinya : Ada seorang wanita yang disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya sampai mati. Hanya karena kucing itu masuk nereka. Sebab tatkala ia mengurungnya, ia tidak memberinya makan dan minum. Ia juga tidak mau melepaskannya untuk mencari makanan dari serangga dan tumbuh-tumbuhan".

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahih-nya (2/78, cet Eropa) dan di dalam Al-Adab Al-Mufarrad (hadits no 379), Imam Muslim (7/43), dari hadits Nafi' dari Abdullah bin Umar, secara marfu. Di samping itu juga diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad (2/507) dan beberapa jalur, semuanya berasal dari Abu Hurairah secara marfu' pula.

Hadits No. 29.

"Artinya : Konon, ada seorang laki-laki yang melintasi sebuah jalan. Tiba-tiba ia merasa sangat haus, lalu menemukan sebuah sumur. Ia menuruninya untuk (mengambil air) minum. Selesai minum, ia keluar. Tatkala ia telah keluar, ia menjumpai seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya sambil mencium tanah karena kehausan. Orang itu berguman dalam hati : 'Kasihan, anjing ini benar-benar kehausan, seperti yang baru saja menimpa diriku'.

Kemudian ia kembali menuruni sumur itu dan mengisi penuh sepatunya dengan air. Ia gigit sepatu itu hingga sampai lagi di tempat (anjing berada). Lalu ia meminumkannya kepada anjing itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengucapkan terima kasih kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya. Para sahabat bertanya :

'Wahai Rasul, apakah kami juga akan memperoleh pahala karena (menolong) binatang?". Beliau menjawab : 'Setiap binatang yang memiliki jantung basah (hidup) akan mendatangkan pahala".

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam Al-Muwaththa (hal. 929-930). Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits itu darinya di dalam kitab Shaih-nya (2/77-78, 103, 4/117 cet. Eropa) dan di dalam Al-Adab Al-Mufarrad (hadits no. 378), Muslim (7/44), Abu Dawud (hadits no. 2550), dan Imam Ahmad (2/375-517). Semuanya dari Imam Malik dari Suma, seorang budak yang dimerdekakan oleh Abu Bakar, dari Abu Shaleh As-Siman dari Abu Hurairah secara marfu'.

Sementara itu Imam Ahmad (2/521) juga meriwayatkannya dari jalur yang lain, yaitu dari Abu Shaleh dengan redaksi yang sama, namun disertai beberapa pengurangan.

"Artinya : Konon, ada seekor anjing yang berputar-putar di sekeliling sebuah sumur yang hampir mati karena kehausan, tiba-tiba seorang wanita tuna susila dari Bani Israel melihatnya, lalu ia melepaskan sepatunya untuk mengambil air yang kemudian diminumkannya kepada anjing tersebut. Karena amalannya itulah kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berkenan mengampuninya".

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (2/376, cet Eropa), Muslim (7/45) dan Ahmad (2/507), dari hadits Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah secara marfu.

Sementara itu Imam Anas bin Sirin juga meriwayatkan hadits yang senada dari Abu Hurairah.

Imam Ahmad (2/501) juga meriwayatkannya dengan sanad yang shahih.

dst....

semoga hadits rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tersebut bisa kita terapkan di kehidupan sehari-hari dalam bermuamalah atau berinteraksi dengan binatang di sekitar kita.....

[Lengkapnya hadits-hadits tersebut silakan merujuk kitab Silsilah Hadits Shahih I, hal.53-66 Pustaka Mantiq]



Selasa, 24 Maret 2015

Kehidupan Sehari-hari Yang Islami



Saudaraku....
Dengan penuh pengharapan bahwa  kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka  kami sampaikan risalah  yang  berisikan  pertanyaan-pertanyaan  ini kehadapan anda, untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

Saudaraku ..
Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, supaya  kita  bisa mengambil  manfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisi kita selama ini.


Kehidupan Sehari-hari Yang Islami
  1. Apakah anda selalu shalat Fajar berjama'ah di masjid setiap hari .?
  2. Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid .?
  3. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur'an .?
  4. Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib .?
  5. Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib .?
  6. Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca .?
  7. Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur .?
  8. Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya .?
  9. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah Subhanahu wa Ta'ala masukkanlah ia ke dalam Surga".
  10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka". (Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya :"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka". [Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6].
  11. Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam .?
  12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik .?
  13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau .?
  14. Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala .?
  15. Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari .?
  16. Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen) .?
  17. Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati Syahid .? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :"Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur". [Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya].
  18. Apakah anda telah berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?
  19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di waktu-waktu yang mustajab .?
  20. Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama .? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent).
  21. Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah .? Karena setiap mendo'akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
  22. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam .?
  23. Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya .?
  24. Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya .?
  25. Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala saja .?
  26. Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri .?
  27. Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala ?
  28. Apakah anda telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda .?
  29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua .?
  30. Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah ?
  31. Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini : " Allahumma inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui". Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. [Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625]
  32. Apakah anda berbuat baik kepada tetangga .?
  33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki .?
  34. Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya .?
  35. Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian .?
  36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan .?
Saudaraku .
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita  menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.



Disalin dari kitab Zaad Al-Muslim Al-Yaumi [Bekalan Muslim Sehari-Hari] hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh saudara kita Ustadz Fariq Gasim Anuz




Sabtu, 21 Maret 2015

Menggunakan Kuburan sebagai Masjid


               Ketika saya mau menunaikan sholat dzuhur di sebuah perkampungan yang pada saat itu sedang dalam perjalanan dalam keadaan sudah bersuci dan memasuki masjid terlihat sebuah kuburan yang dibangun sedemikian indah tepat di dalam masjid di bagian utama. Mau tidak mau harus mencari masjid lain yg terdekat.
  Kenapa saya harus pindah masjid...?
Apa hukum sholat di masjid yang ada kuburannya....?

Ada beberapa hadist yang melarang mendirikan masjid diatas kuburan atau menguburkan mayit di dalam masjid serta larangan sholat di dalam masjid yang ada kuburnya:
  1. Dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, "Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda ketika dalam keadaan sakit dan sesudah itu tidak bangun lagi: "Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, karena mereka mengguna-kan kuburan nabi-nabi sebagai tempat shalat."
  2. Dari Abu Haurairah ra, ia berkata, "Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Allah memerangi orang-orang Yahudi, karena mereka menggunakan kuburan para nabi-Nya sebagai tempat sholat." (HR Al Bukhary, Muslim,Abu Awanah, Abu Dawud, Ahmad, Abu Ya'la dan Ibnu Asakir)
  3. Dari 'Aisyah dan Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafatnya, beliau menelung-kupkan ujung baju dari tenunan bulu ke wajah beliau. Beliau nampak sedih, lalu menyibak ujung baju dari wajah dan bersabda: "Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashara, karena mereka menggunakan kuburan para nabinya sebagai tempat sholat."
  4. Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sebagian istri-istrinya menyebut-nyebut gereja-gereja di Habsyah yang bernama Maria. Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah datang kesana. Mereka menyebutkan tentang keindahan gereja itu dan hiasan-hiasannya. Rasulullah langsung mengangkat kepalanya seraya bersabda: "Mereka itu, apabila diantara mereka ada yang shaleh, maka mereka mendirikan tempat sholat di atas kuburannya, lalu mereka memasang gambar-gambar. Mereka itu adalah seburuk-buruk ciptaan di sisi Akkah (pada haria kiamat)." (HR. Bukhary, Muslim, An-Nasa'I, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Awanah, al Baihaqy, Al Baghaway)
  5. Dari Jundap bin Abdullah Al-Bajly, bahwa lima hari sebelum Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, ia mendengar beliau bersabda: "Aku mempunyai saudara dan teman-teman diantara kamu. Dan aku terbebas di hadapan Allah bahwa aku mempunyai seorang kesayangan di antara kamu. Sesungguhnya Allah telah mengambilku sebagai kesayangan-Nya sebagaimana Dia juga mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya. Andaikata aku mengambil dari umatku seorang kesayangan. Tentu aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kesayanganku. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang shaleh diantara mereka sebagai tempat sholat. Ketahuilah janganlah kamu mendirikan kuburan sebagai masjid. Aku melarang kamu sekalian dari perbuatan itu." (HR. Muslim, Abu Awanah, Ibnu Sa'ad).
  6. Dari Al-Harits An-Najrany, ia berkata, "Aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum meninggal: "Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shaleh diantara mereka sebagai tempat shalat. Ketahuilah janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Aku melarang kamu dari hal itu." (HR. Ibnu Abi Syaibah. Isnad shahih dan disyaratkan oleh Muslim).
  7. Dari Abu Ubaidah bin Al Jarrah, berkata, "Ucapan terakhir yang disampaikan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah: "Keluarkanlah orang-orang yahudi penduduk Hijas dan Najran dari Jazirah Arab. Dan Ketahuilah bahwa orang yang paling buruk adalah mereka yang menjadikan kuburan para Nabinya sebagai tempat shalat." (HR. Ahmad, Ath Thahawi, Abu Ya'la, Ibnu Asakir. Sanadnya shahih).
  8. Dari Zaid bin Tsabit, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Allah melaknat )dalam riwayat lain memerangi) orang-orang Yahudi, karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat." (HR. Ahmad, orang-orang terpercaya selain Ibnu Abdurahman. Asy-Syukani mengatakan: "Orang-orangnya Jayyid.").
  9. Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai patung. Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat." (HR. Ahmad, Ibnu Sa'd, Abu Ya'la, Abu Nu'aim. Sanadnya Shahih).
  10. Dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata, 'Aku berjumpa dengan Al Abbas, lalu ia berkata, "wahai Ali, pergilah bersama kami menemui Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa tahu kita mempunyai masalah. Dan kalau tidak beliau dapat berwasiat kepada manusia lewat kita. Maka kami menemui beliau. Sedang beliau terlentang seperti pingsan. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: "Allah melaknat orang-orang Yahudi, karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat."
  11. Dari Ummahatul-Mukminin, bahwa para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, 'Bagaimanakah kita harus membangun kuburan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ? Apakah kita menjadikannya sebagai masjid ? Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata: 'Aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, kerena menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat."
ADAPUN SUBHAT YANG SERING KITA DENGAR: "Kuburan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ada di dalam Masjid beliau, yang dapat disaksikan hingga saat ini. Kalau memang hal ini dilarang, lalu mengapa beliau dikuburkan disitu ?
Jawabannya: Keadaan yang kita saksikan pada jaman sekarang ini tidak seperti yang terjadi pada jaman sahabat. Setelah beliau wafat, mereka menguburkannya didalam biliknya yang letaknya bersebelahan dengan masjid, dipisahkan oleh dinding yang ada pintunya. Beliau biasa masuk masjid lewat pintu itu.

Hal ini telah disepakati oleh semua ulama, dan tidak ada pertentangan diantara mereka. Para sahabat mengubur jasad beliau didalam biliknya, agar nantinya orang-orang sesudah mereka tidak menggunakan kuburan beliau sebagai tempat untuk shalat, seperti yang sudah kita terangkan dalam hadits 'Aisyah dibagian muka. Tapi apa yang terjadi dikemudian hari di luar perhitungan mereka. Pada tahun 88 Hijriah, Al Walid bin Abdul Malik merehab masjid Nabi dan memperluas masjid hingga kekamar 'Aisyah. Berarti kuburan beliau masuk ke dalam area masjid. Sementara pada saat itu sudah tidak ada satu sahabatpun yang masih hidup, sehingga dapat menentang tindakan Al Walid ini seperti yang diragukan oleh sebagian manusia.

Al Hafizh Muhamad Abdul-Hady menjelaskan didalam bukunya Ash-Sharimul Manky: "Bilik Rasulullah masuk dalam masjid pada jaman Al Walid bin Abdul Malik, setelah semua sahabat beliau di Madinah meninggal. Sahabat terakhir yang meninggal adalah Jabir bin Abdullah. Ia meninggal pada jaman Abdul Malik, yang meninggal pada tahun 78 Hijriah. Sementara Al Walid menjadi khalifah pada tahun 86 Hijriah, dan meninggal pada tahun 96 Hijriah. Rehabilitasi masjid dan memasukkan bilik beliau kedalam masjid, dilakukan antara tahun-tahun itu.

Abu Zaid Umar bin Syabbah An Numairy berkata di dalam buku karangannya Akhbarul-Madinah: "Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah pada tahun 91 Hijriah, ia merobohkan masjid lalu membangunnya lagi dengan menggunakan batu-batu yang diukir, atapnya terbuat dari jenis kayu yang bagus. Bilik istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dirobohkan pula lalu dimasukkan kedalam masjid. Berarti kuburan beliau juga masuk kedalam masjid."
Dari penjelasan ini jelaslah sudah bahwa kuburan beliau masuk menjadi bagian dari masjid nabawi, ketika di Madinah sudah tidak ada seorang sahabatpun. Hal ini ternyata berlainan dengan tujuan saat mereka menguburkan jasad Rasulullah di dalam biliknya.

Maka setiap orang muslim yang mengetahui hakikat ini, tidak boleh berhujjah dengan sesuatu yang terjadi sesudah meninggalnya para sahabat. Sebab hal ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan pengertian yang diserap para sahabat serta pendapat para imam. Hal ini juga bertentangan dengan apa yang dilakukan Umar dan Utsman ketika meluaskan masjid Nabawi tersebut. Mereka berdua tidak memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid.

Maka dapat kita putuskan, perbuatan Al Walid adalah salah. Kalaupun ia terdesak untuk meluaskan masjid Nabawi, toh ia bisa meluaskan dari sisi lain sehingga tidak mengusik kuburan beliau. Umar bin Khattab pernah mengisyaratkan segi kesalahan semacam ini. Ketika meluaskan masjid, ia mengadakan perluasan di sisi lain dan tidak mengusik kuburan beliau. Ia berkata: "Tidak ada alasan untuk berbuat seperti itu." Umar memberi peringatan agar tidak merobohkan masjid, lalu memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid.

Karena tidak ingin bertentangan dengan hadits dan kebiasaan khulafa' urrasyidin, maka orang-orang Islam sesudah itu sangat berhati-hati dalam meluaskan masjid Nabawi. Mereka mengurangi kontroversi sebisa mungkin. Dalam hal ini An-Nawawi menjelaskan di dalam Syarh Muslim: "Ketika para sahabat yang masih hidup dan tabi'in merasa perlu untuk meluaskan masjid Nabawi karena banyaknya jumlah kaum muslimin, maka perluasan masjid itu mencapai rumah Ummahatul-Mukminin, termasuk bilik 'Aisyah, tempat dikuburkannya Rasulullah dan juga kuburan dua sahabat beliau, Abubakar dan Umar. Mereka membuat dinding pemisah yang tinggi disekeliling kuburan, bentuknya melingkar. Sehingga kuburan tidak langsung nampak sebagai bagian dari masjid. Dan orang-orangpun tidak shalat ke arah kuburan itu, sehingga merekapun tidak terseret pada hal-hal yang dilarang.

Ibnu Taimiah dan Ibnu Rajab yang menukil dari Al-Qurthuby, menjelaskan: "Ketika bilik beliau masuk ke dalam masjid, maka pintunya di kunci, lalu disekelilingnya dibangun pagar tembok yang tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar rumah beliau tidak dipergunakan untuk acara-acara peringatan dan kuburan beliau dijadikan patung sesembahan."


di nukil dr Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani